
Suasana Misa Hari Raya Kenaikan Tuhan Yesus Kristus di Gereja St Petrus dan Paulus Mangga Besar, Kamis (14/5/2026). Foto: Jaka
JAKARTA — Perayaan Kenaikan Tuhan Yesus Kristus bukan sekadar mengenang Yesus yang naik ke surga, melainkan menjadi panggilan bagi umat beriman untuk hadir sebagai saksi Kristus melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Umat diajak untuk tidak hanya “menatap langit”, tetapi juga peka terhadap kebutuhan sesama dan menghadirkan kasih Tuhan di tengah keluarga, lingkungan, tempat kerja, maupun masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan oleh Bernardus Rm. Christian Triyudo Prastowo, SJ (Romo Yudo) dalam homilinya pada Misa Hari Raya Kenaikan Tuhan Yesus Kristus di Gereja St. Petrus dan Paulus Paroki Mangga Besar, Kamis (14/5/2026) pukul 07.30 WIB.
Dalam khotbahnya, Romo Yudo membuka refleksi dengan pengalaman sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia mencontohkan kepanikan seseorang saat mencari kacamata hingga membongkar isi tas dan melihat ke kolong meja, padahal kacamata itu ternyata sedang berada di atas kepala sendiri.
Ia juga menyinggung pengalaman mencari telepon genggam yang ternyata sedang berada di tangan sendiri.
Kebutaan Atensi dalam Kehidupan Rohani
Menurut Romo Yudo, pengalaman tersebut dalam psikologi dikenal sebagai Inattentional Blindness (Absent-mindedness) atau “kebutaan atensi”, yaitu keadaan ketika seseorang terlalu fokus pada sesuatu yang jauh atau pada banyak pikiran lain sehingga gagal melihat sesuatu yang sebenarnya ada sangat dekat.
“Kadang-kadang kita terlalu sibuk memikirkan banyak hal sampai gagal melihat apa yang ada di depan mata kita sendiri,” ungkapnya.
Ia kemudian mengaitkan pengalaman itu dengan kisah para murid setelah Yesus naik ke surga. Para murid, katanya, hanya berdiri termenung dan menatap langit hingga malaikat menegur mereka.
“Hai orang-orang Galilea, mengapa kamu berdiri melihat ke langit?” kutip Romo Yudo.
Menurutnya, teguran itu menjadi pengingat bahwa Yesus tidak sungguh meninggalkan para murid. Kristus tetap hadir dan menyertai umat-Nya.
Menjadi Saksi Lewat Tindakan Nyata
Romo Yudo menegaskan bahwa setelah Kenaikan Tuhan, para murid dipanggil untuk bergerak dan menjalankan misi baru.
“Yesus memberi mandat: Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku. Menjadi murid Kristus bukan hanya soal mengajak orang menjadi Katolik, tetapi menghadirkan sukacita dan kasih dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa setiap orang dipanggil menjadi saksi Kristus mulai dari keluarga, lingkungan, tempat kerja, hingga masyarakat luas.
Kesaksian iman, lanjutnya, tidak harus selalu melalui ceramah atau khotbah, melainkan lewat tindakan sederhana seperti kepedulian, kejujuran, dan perhatian kepada sesama.
Romo Yudo juga mengajak umat untuk melawan “kebutaan atensi” rohani dengan mulai melihat kebutuhan orang-orang di sekitar.
Ia mencontohkan gerakan sederhana seperti celengan anak-anak untuk membantu sesama, berbagi dengan masyarakat, mengunjungi orang sakit, maupun menemani para lansia yang kesepian.
“Kehadiran kita bagi sesama menjadi tanda bahwa Kristus tetap hidup dan berkarya di dunia,” ujarnya.
Menutup homilinya, Romo Yudo membagikan pantun sederhana yang disambut senyum umat.
“Beli mangga di pasar lama,
Jangan lupa beli buah naga.
Tuhan Yesus naik ke surga,
Agar kita semua bahagia dan terjaga.”
Umat Diajak Terlibat dalam Pelayanan Gereja
Pesan serupa juga disampaikan oleh Rm. Mikael Irwan Susiananta, SJ (Romo Irwan) dalam homilinya pada Misa Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus pukul 10.00 WIB.
Menurut Romo Irwan, menjadi saksi Kristus juga diwujudkan melalui keterlibatan nyata dalam pelayanan Gereja.
Ia secara khusus mengajak umat untuk ambil bagian sebagai prodiakon, lektor, pemazmur, maupun pengurus lingkungan.
“Ayolah jangan hanya berani depan kamera, tetapi harus datang untuk melayani. Kita sumbangkan itu semua untuk kelancaran ibadah. Itulah gelora dari semangat kenaikan Tuhan,” ujar Romo Irwan.
Ia menegaskan bahwa para murid dahulu tidak pernah lelah mewartakan Sabda Tuhan. Karena itu, semangat yang sama perlu diteruskan oleh umat pada masa sekarang.
“Para murid tidak kenal lelah untuk mewartakan Sabda Tuhan dan mari kita lanjutkan itu. Maka Roh Kudus yang dicurahkan itu ada bentuk nyatanya dalam diri kita masing-masing,” katanya.
(Penulis: Jaka Maturbongs)




















Foto: Roland
