
Foto bersama Tim P3KD DKI Jakarta bersama peserta usai Pelatihan First Aid Responder, Sabtu (28/2/2026). foto: jaka
JAKARTA – Gereja yang aman dan nyaman adalah dambaan kita semua. Menyadari pentingnya kesiapsiagaan dalam situasi darurat, Paroki St. Petrus dan Paulus Mangga Besar menggelar Pelatihan Dasar First Aid Responder (Penanganan Kegawatdaruratan) pada Sabtu (28/2/2026).
Bertempat di Ruang Fransiskus, Gedung Karya Pastoral (GKP) St. Petrus, kegiatan ini menggandeng Pusat Krisis dan Kegawatdaruratan Kesehatan Daerah (P3KD) Provinsi DKI Jakarta. Sebanyak 30 peserta yang terdiri dari rekan-rekan OMK, karyawan paroki, anggota Kolatan, serta perwakilan umat tampak antusias mengikuti jalannya pelatihan.
Bukan Sekadar Teori, Tapi Praktik Penyelamatan
Pelatihan ini membekali peserta dengan keterampilan krusial, mulai dari:
- Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT).
- Bantuan Hidup Dasar (BHD).
- Penanganan Luka dan Patah Tulang.
- Praktik Resusitasi Jantung Paru (RJP).
Tujuannya jelas: agar saat terjadi situasi darurat, peserta tidak hanya panik, tetapi mampu bertindak efektif—mulai dari cara meminta bantuan yang benar, memberikan napas buatan, menghentikan pendarahan, hingga memindahkan korban dengan aman.
Belajar dari Pengalaman Misa Hari Raya
Ketua Seksi Kesehatan Paroki Mangga Besar, dr. Joyce Tjakraatmaja, M.Sc, menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan kelanjutan dari kegiatan serupa di November 2025. Kebutuhan ini muncul karena beberapa kali terjadi kondisi gawat darurat saat Misa berlangsung, terutama pada hari raya besar yang padat umat.
“Kali ini kami lebih menekankan pada praktik. Kami ingin memastikan umat dan petugas tahu cara praktis menolong orang dalam kondisi darurat. Jadi, ketika ada kejadian, bisa langsung ditangani dengan tepat, baik saat Misa maupun dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap dr. Joyce di sela-sela kegiatan.
Menjadi Agen Keselamatan dan Kasih
Hal senada ditegaskan oleh Lisa Burhan, Koordinator Bidang Pelayanan Seksi Kesehatan. Dalam sambutannya, ia berharap ilmu yang didapat bisa menjadikan peserta sebagai perpanjangan tangan Tuhan dalam menjaga keselamatan sesama.
“Saya percaya dengan pengetahuan ini, kita dapat menjadi agen keselamatan dan kasih bagi sesama, khususnya di lingkungan paroki kita,” ujar Lisa penuh harap.
Acara ditutup dengan sesi simulasi yang diikuti peserta dengan penuh semangat. Semoga dengan adanya pelatihan ini, tim pelayanan paroki semakin sigap dan umat pun merasa lebih tenang saat beribadah di gereja kita tercinta.
(Penulis: Jaka Maturbongs)
