Skip to content Skip to footer

Transformasi Spiritual: Dari ‘Ego’ Menuju ‘Eko’ demi Menjadi Saleh Ekologis

Diakon Amadea Prajna, SJ, menyampaikan pengantar acara Workshop Pengelolaan Sampah bertajuk “Dari Sampah ke Berkah: Membangun Budaya 3R (Reduce, Reuse, Recycle)” di Ruang Fransiskus Xaverius, GKP St. Paulus, Paroki Mangga Besar, Sabtu (28/2/2026). foto: jaka

JAKARTA – Menjadi suci ternyata tidak hanya soal rajin berdoa di gereja, tetapi juga soal bagaimana kita memperlakukan alam ciptaan. Pesan kuat inilah yang mengemuka dalam Workshop Pengelolaan Sampah bertajuk “Dari Sampah ke Berkah: Membangun Budaya 3R (Reduce, Reuse, Recycle)” di Ruang Fransiskus Xaverius, GKP St. Paulus, Paroki Mangga Besar, Sabtu (28/2/2026).

Diakon Amadea Prajna, SJ, dalam pengantar acara, mengajak umat untuk melakukan lompatan kesadaran: bergeser dari mentalitas ‘Ego’ (mementingkan diri sendiri) menuju mentalitas ‘Eko’ (menjaga keutuhan ekosistem).

Silih Ekologis: Wujud Nyata Pertobatan

Selaras dengan Arah Dasar (Ardas) KAJ, pertobatan ekologis kini perlu ditingkatkan menjadi Silih Ekologis. Jika biasanya kita mengenal silih dosa dalam sakramen tobat, silih ekologis adalah tindakan nyata untuk memperbaiki kerusakan alam yang disebabkan oleh gaya hidup kita.

Contohnya sederhana: konsisten mengolah sampah dapur menjadi pupuk di rumah. Dengan cara ini, seorang umat bertransformasi menjadi sosok yang “Saleh Ekologis”. Kesucian kini memiliki makna baru: orang yang suci adalah mereka yang juga merawat keutuhan ciptaan Tuhan.

Menyatukan Pikiran, Hati, dan Tangan

Diakon Amadea mengingatkan bahwa spiritualitas sejati bukanlah rutinitas belaka, melainkan harmoni antara tiga hal:

  1. Head (Pikiran): Memahami ajaran agama tentang alam.
  2. Heart (Hati): Mengimani bahwa alam adalah ciptaan Tuhan.
  3. Hand (Tangan): Melakukan aksi nyata.

“Sering kali kita selesai berdoa atau berdevosi, namun masih membuang sampah sembarangan. Di sinilah spiritualitas kita diuji. Apa yang kita imani, itulah yang seharusnya kita kerjakan,” tegas Diakon Amadea.

Ekonomi dan Ekologi: Saudara yang Saling Menghidupi

Mengambil inspirasi dari Santo Fransiskus Asisi yang memanggil matahari dan bumi sebagai “saudara”, umat diajak melihat bahwa ekonomi dan ekologi sebenarnya saling berkaitan. Mencintai lingkungan bukan berarti rugi secara materi; justru dengan semangat keberlanjutan, kita bisa meraih berkat yang lebih besar.

Beliau juga memberikan ilustrasi menarik tentang Makna Salib yang Utuh:

  • Garis Vertikal: Melambangkan hubungan kita dengan Tuhan.
  • Garis Horizontal: Melambangkan hubungan kita dengan sesama manusia, termasuk dengan bumi sebagai rumah kita bersama.

Mengubah Sampah Menjadi Berkat

Senada dengan hal tersebut, Koordinator Kegiatan, Tjokro Husadianto, berharap workshop ini mendorong umat Mangga Besar untuk mulai memilah sampah basah dan kering.

“Harapannya, kita semua bisa mengelola sampah agar menjadi berkat, baik itu menjadi pupuk organik maupun daur ulang plastik yang memiliki nilai ekonomi,” ujarnya.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Tim Sinergi Bidang Prioritas Paroki (TSBP) 1 ini diikuti oleh perwakilan lingkungan, seksi, dan kategorial, dengan menghadirkan Tim Lingkungan Hidup Kecamatan Taman Sari sebagai instruktur praktik.

Mari kita mulai langkah kecil dari rumah, karena merawat bumi adalah bagian dari iman kita!

(Penulis: Jaka Maturbongs)

Leave a comment

Go to Top