Skip to content Skip to footer

Misa Paskah UBK: Diakon Amadea Bagikan 3 Alasan Mengapa Kita Semua Berharga

Foto bersama Pastor Paroki St. Petrus dan Paulus Mangga Besar, Rm. Bernardus Christian Triyudo Prastowo, SJ, Diakon Amadea Prajna, SJ dan Umat Berkarunia Khusus usai Misa Paskah, Minggu (5/4/2026). Foto: Komsos/Andy

JAKARTA — Gereja St. Petrus dan Paulus, Mangga Besar, dipenuhi suasana hangat dan penuh syukur pada Minggu (6/4/2026). Dalam perayaan Misa Hari Raya Paskah bersama Umat Berkarunia Khusus (UBK), pesan tentang inklusivitas dan kasih Tuhan yang tanpa batas menjadi inti dari perayaan yang dipimpin oleh Rm. Bernardus Christian Triyudo Prastowo, SJ.

Dalam homilinya, Diakon Amadea Prajna, SJ mengajak seluruh umat untuk merenungkan tiga alasan utama mengapa Paskah adalah sumber sukacita sejati, khususnya bagi mereka yang sering kali merasa terpinggirkan.

1. Yesus Hadir bagi Mereka yang “Terlupakan”

Diakon Amadea mengawali renungannya dengan menyoroti kisah Maria Magdalena. Pada zamannya, Maria Magdalena sering dianggap sebagai sosok yang tidak diperhitungkan atau “nobody”. Namun, justru kepadanyalah Yesus pertama kali menampakkan diri setelah bangkit.

“Ini adalah simbol yang sangat kuat. Yesus hadir pertama-tama bagi siapa saja yang sering diabaikan oleh dunia, termasuk saudara-saudari kita, umat berkarunia khusus,” ujar Diakon Amadea menyentuh hati umat yang hadir.

2. Kebangkitan yang Merangkul Kelemahan

Poin kedua yang ditekankan adalah tentang luka-luka Yesus. Meski telah bangkit dengan mulia, Yesus tetap membawa bekas luka penyaliban-Nya. Hal ini membuktikan bahwa kebangkitan tidak menghapus kemanusiaan kita yang rapuh, melainkan merangkulnya.

“Yesus tidak membuang luka-Nya. Ia membawa serta kelemahan dan ketidaksempurnaan kita ke dalam kebangkitan-Nya. Karena itu, tidak ada alasan bagi kita untuk merasa rendah diri; kita semua diajak untuk bangkit bersama-Nya,” jelasnya.

3. Belajar Mencintai dengan Sederhana

Secara khusus, Diakon Amadea memberikan apresiasi dan penguatan bagi para orang tua serta pendamping UBK. Beliau membagikan pengalaman pribadinya saat berkarya di Wisma Rasida, ALMA Malang, ketika mendampingi anak dengan disabilitas ganda.

Dari sana, beliau belajar sebuah refleksi mendalam: bahwa mencintai Allah bisa dilakukan dengan sangat sederhana, seperti seorang anak kecil yang menerima kasih tanpa banyak syarat. “Seringkali kita merasa lelah dan hampir menyerah, namun di sanalah Tuhan bekerja. Kita diingatkan bahwa setiap dari kita adalah pribadi yang sangat dikasihi Allah,” ungkapnya.

Paskah yang Inklusif

Di akhir homilinya, Diakon Amadea merangkum bahwa sukacita Paskah bersumber dari keyakinan bahwa:Yesus bangkit untuk semua orang tanpa terkecuali.Kelemahan manusia telah dimuliakan dalam kebangkitan-Nya.Setiap pribadi adalah anugerah yang dikasihi Tuhan tanpa syarat.

Perayaan Misa Paskah UBK ini bukan sekadar rutinitas liturgi, melainkan bukti nyata bahwa Paroki Mangga Besar terus bertumbuh menjadi komunitas yang inklusif—sebuah rumah di mana setiap orang, dengan segala keunikannya, merasa diterima dan berharga.

(Penulis: Jaka Maturbongs)

Leave a comment

Go to Top