Skip to content Skip to footer

Mengawali Bulan Maria, Romo Yudo Ajak Umat Menghidupi Iman sebagai Relasi dan Kepedulian

Perarakan Patung Bunda Maria mengawali Misa Pembukaan Bulan Maria di Gereja Katolik St Petrus dan Paulus Mangga Besar, Jumat (1/5/2026). Foto Jaka

JAKARTA – Misa Pembukaan Bulan Maria yang dirangkaikan dengan Perayaan Jumat Pertama berlangsung khidmat di Gereja Katolik St. Petrus dan Paulus Mangga Besar pada Jumat (1/5/2026). Perayaan Ekaristi ini dipimpin oleh Rm. Bernardus Christian Triyudo, SJ atau yang akrab disapa Romo Yudo, didampingi oleh Diakon Amadea Prajna, SJ.

Butir Rosario Hidup dalam Keberagaman

Rangkaian perayaan ini sejatinya tidak serta-merta dimulai di altar. Sebelum perarakan dan Misa dimulai, acara telah lebih dulu dibuka pada pukul 17.00 WIB dengan pendarasan doa Rosario dalam lima bahasa. Momen doa ini tidak hanya menjadi wujud penghormatan kepada Bunda Maria, tetapi juga menampilkan indahnya kolaborasi antarseksi dan kategorial yang ada di Paroki Mangga Besar.

Penggunaan ragam bahasa tersebut bukan sekadar variasi doa, melainkan menyiratkan pesan mendalam tentang keberagaman dalam persatuan. Layaknya pendarasan doa sore itu, setiap unsur dan pribadi di Paroki Mangga Besar adalah “butir rosario hidup”. Berbeda-beda, namun saling terpaut dan selalu dibutuhkan satu sama lain untuk merangkai kehidupan menggereja yang utuh.

Semangat persatuan dari doa Rosario inilah yang kemudian mengantarkan umat pada prosesi selanjutnya. Usai pendarasan, perayaan dilanjutkan dengan perarakan patung Bunda Maria sebagai tanda resmi dimulainya Bulan Maria. Dalam rangkaian devosi ini, umat juga diajak mengikuti Adorasi Sakramen Mahakudus sebagai bagian tak terpisahkan dari Perayaan Jumat Pertama.

Iman sebagai Relasi dan Teladan Kesetiaan Santo Yosef

Memasuki liturgi Sabda, Romo Yudo dalam homilinya mengajak umat untuk kembali merefleksikan makna pelayanan. Ia mengingatkan bahwa iman bukan sekadar soal pencapaian dan kesuksesan, melainkan sebuah relasi yang hidup dengan Tuhan dan sesama. Melalui sebuah kisah reflektif, ia menyoroti kecenderungan manusia yang kerap terlalu fokus pada keberhasilan kerja hingga lupa akan tujuan sejatinya.

“Seringkali kita begitu fokus pada apa yang kita kerjakan, termasuk saya, tetapi lupa untuk siapa dan dengan semangat apa kita mengerjakannya,” ungkapnya.

Untuk menjawab kegelisahan akan rutinitas yang kehilangan makna tersebut, Romo Yudo mengacu pada Injil hari itu. Mengutip sabda Yesus kepada Tomas, “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup,” ia menegaskan bahwa jalan menuju Allah bukanlah ukuran-ukuran duniawi seperti kesuksesan besar atau dokumen yang sempurna, melainkan sebuah relasi dengan pribadi Yesus sendiri yang harus dihidupi.

Lebih jauh, relasi yang hidup dan penuh makna itu menemukan bentuk nyatanya dalam diri Santo Yosef. Romo Yudo mengajak umat meneladani ayah asuh Yesus tersebut sebagai pekerja yang setia dalam diam.

“Ia tidak meninggalkan kata-kata, tetapi meninggalkan jejak kesetiaan kreatif dalam setiap pekerjaannya,” ujarnya.

Kesetiaan itu tampak dalam keseharian sederhana sebagai tukang kayu serta tanggung jawabnya merawat keluarga. Baginya, pekerjaan Santo Yosef bukan sekadar mencari nafkah, melainkan wujud partisipasi menjaga Sang Jalan, Sang Kebenaran, dan Sang Kehidupan.

Hospitalitas, Sinodalitas, dan Kolaborasi Paroki

Kesetiaan nyata yang ditunjukkan oleh Santo Yosef tidak hanya berlaku secara individu, tetapi juga dalam konteks komunitas. Menyambung hal tersebut, Romo Yudo menyinggung bacaan pertama dari Santo Paulus yang menegaskan bahwa janji Allah selalu digenapi dalam sejarah yang nyata. Hal serupa juga sedang terjadi dalam kehidupan Paroki Mangga Besar.

“Sejarah komunitas kita adalah tempat di mana janji Tuhan digenapi lewat kesetiaan kreatif,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa kesetiaan tersebut diwujudkan dalam sikap mau mendengarkan, tidak memaksakan kehendak pribadi, serta menghindari gosip yang tidak berdasar.Sebagai buah dari sikap saling mendengarkan itulah, Romo Yudo mengapresiasi semangat kolaborasi yang kian berkembang di lingkungan paroki—sebagaimana yang tercermin dalam pendarasan Rosario multi-bahasa sebelumnya.

“Saya melihat keterlibatan berbagai kelompok untuk saling bahu-membahu dalam sebuah ‘proyek bersama’. Inilah wajah Gereja yang berjalan dalam semangat hospitalitas dan sinodalitas,” tuturnya.

Ia secara khusus menyoroti peran kaum muda yang membawa energi segar, sekaligus berterima kasih kepada para senior yang setia mendampingi dan memberi ruang gerak. Dinamika lintas generasi inilah yang ia sebut sebagai proses “merangkai rosario kehidupan” di dalam Gereja.

Hati Yesus: Rumah Istirahat di Tengah Kesibukan

Sebagai muara dari seluruh aktivitas, kolaborasi, dan pelayanan yang telah dihidupi, Romo Yudo mengakhiri homilinya dengan sebuah ajakan yang meneduhkan. Ia mengundang umat untuk membawa seluruh kelelahan hidup dalam devosi Jumat Pertama kepada Hati Kudus Yesus.

“Jika Maria adalah pintu menuju Yesus, maka hati-Nya adalah rumah tempat kita beristirahat,” pesannya.

Berangkat dari kerinduan untuk beristirahat di dalam Tuhan tersebut, ia mengingatkan umat akan pentingnya menyediakan waktu untuk berdoa. Sekalipun di tengah kesibukan warga Jakarta yang padat, umat diajak memanfaatkan ruang-ruang doa yang tersedia di paroki.

Sebagai penutup, Romo Yudo mengajak umat memasuki Bulan Maria dengan tekad baru: berani memberi waktu bagi Tuhan, serta belajar mendengarkan sesama dengan sabar sebagai wujud nyata iman dalam keseharian.(Penulis: Jaka Maturbongs)

Leave a comment

Go to Top