Skip to content Skip to footer

Mengenal Sosok Romo Amadea, Anak Tunggal yang Memilih Menjadi Imam

JAKARTA – Menjadi anak tunggal biasanya membuat seseorang memiliki tempat yang sangat istimewa dalam keluarga. Ia menjadi satu-satunya anak, sekaligus satu-satunya yang menemani perjalanan orang tua dalam membangun keluarga. Namun, bagi Romo Dionisius Amadea Prajna Putra Mahardika, SJ, menjadi anak tunggal justru membawanya pada sebuah perjalanan yang tidak biasa: memberikan diri untuk Tuhan dan Gereja.

Pilihan itu tentu bukan sesuatu yang sederhana. Ada orang tua yang harus belajar merelakan satu-satunya anak mereka untuk mengikuti panggilan menjadi imam. Ada pula keluarga yang harus menerima kenyataan bahwa anak yang selama ini dibesarkan dan diharapkan mendampingi mereka kelak, justru memilih jalan hidup yang sepenuhnya diserahkan kepada Tuhan.

Kisah tentang pemberian diri itulah yang terasa kuat dalam Misa Perdana Romo Amadea di Gereja St. Petrus dan Paulus, Paroki Mangga Besar, Jakarta, Minggu (16/8/2026) sore.

Misa tersebut dirayakan dalam suasana Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Dalam homilinya, Romo Amadea tidak hanya berbicara tentang kemuliaan Bunda Maria, tetapi mengajak umat melihat sebuah pertanyaan yang lebih dekat dengan kehidupan: apa makna Maria diangkat ke surga bagi kita?

Menurutnya, pengangkatan Bunda Maria ke surga seharusnya tidak hanya dipahami sebagai kemuliaan yang diterima Maria, tetapi juga sebagai tanda pengharapan bagi seluruh umat beriman.

“Pesan yang kita rayakan hari ini, Maria diangkat ke surga, adalah bahwa naik ke surga, masuk ke surga, itu sesuatu yang mungkin buat kita,” ungkapnya.

Maria dan Keberanian Memberikan Diri

Dalam bacaan pertama dari Kitab Wahyu, umat mendengarkan gambaran seorang perempuan yang berselubungkan matahari, bulan berada di bawah kakinya, dan mahkota dua belas bintang di atas kepalanya.

Gambaran tersebut menunjukkan kemuliaan Bunda Maria. Namun, bagi Romo Amadea, yang lebih penting adalah melihat perjalanan Maria sebagai seorang manusia yang bersedia memberikan dirinya kepada Allah.

Maria bukan Allah. Ia manusia biasa yang dipilih dan dipersiapkan Allah untuk mengambil bagian dalam karya keselamatan dengan menjadi ibu Yesus Kristus.

“Yang spesial dari Bunda Maria adalah kerelaannya untuk memberikan diri,” katanya.

Kerelaan tersebut menjadi kunci. Maria memberikan dirinya sebagai sarana dan saluran keselamatan Allah. Karena itu, kemuliaan yang diterimanya tidak dapat dilepaskan dari kesediaannya menjawab kehendak Tuhan.

Bagi Romo Amadea, kisah Maria kemudian menjadi cermin bagi kehidupan setiap orang beriman.

Setiap orang dipanggil memberikan diri, meskipun bentuknya berbeda-beda.

Dan ia tidak berbicara tentang sesuatu yang jauh dari kehidupan umat. Ia berbicara dari pengalaman hidupnya sendiri.

Anak Tunggal yang Direlakan

Romo Amadea lahir di Semarang pada 24 Oktober 1995, dari pasangan Bapak Tarsisius Henrikus Hari Sucahyo dan Ibu Veronika Gusdiartini.

Ia merupakan anak tunggal dan berasal dari Wilayah Jangli Permai, Paroki Hati Yesus Yang Mahakudus Karangpanas, Semarang.

Sebagai anak tunggal, perjalanan panggilannya tentu menjadi perjalanan yang juga harus dilalui bersama kedua orang tuanya.

Di dalam Misa Perdana, Romo Amadea menyampaikan rasa syukurnya atas kehadiran kedua orang tuanya. Ia tidak hanya melihat mereka sebagai keluarga yang mendukung perjalanan hidupnya, tetapi sebagai orang-orang yang juga telah memberikan diri dengan cara mereka sendiri.

Ia bahkan menunjuk kehadiran dua keluarga lain dalam perayaan tersebut.

Di dekat orang tuanya hadir orang tua Romo Filipus Frederick Ray Popo, SJ, yang putranya telah lebih dahulu berangkat ke Amerika Serikat untuk melanjutkan studi. Hadir pula orang tua Frater Berry, umat Paroki Mangga Besar dari Wilayah Kartini, yang diharapkan menerima tahbisan imamat pada tahun mendatang.

Ketiga keluarga tersebut, kata Romo Amadea, sama-sama memiliki pengalaman merelakan anak untuk mengikuti panggilan menjadi imam atau calon imam Yesuit.

Terlebih, beberapa di antaranya merupakan anak tunggal.

Bagi Romo Amadea, kerelaan orang tua tersebut merupakan bentuk pemberian diri yang tidak kalah penting dari pemberian diri seorang imam.

Ia kemudian mengingat sabda Yesus mengenai mereka yang meninggalkan segala sesuatu demi mengikuti-Nya dan menerima kembali seratus kali lipat.

Pengalaman itu dirasakan dalam keluarganya sendiri.

Dahulu keluarganya hanya terdiri dari tiga orang. Kini, melalui perjalanan panggilan dan pelayanan, keluarga tersebut justru menjadi semakin luas.

“Tidak lagi hanya kesepian bertiga, tapi menjadi banyak. Dan Anda juga bagian dari keluarga kami,” katanya kepada umat Mangga Besar.

Dari Semarang, Menapaki Jalan Filsafat dan Teologi

Sebelum menjadi imam, Romo Amadea menjalani perjalanan pendidikan yang panjang.

Ia menempuh pendidikan filsafat dan meraih gelar Sarjana Filsafat (S.Fil.) dari STF Driyarkara pada 2020. Perjalanan akademiknya kemudian berlanjut ke bidang teologi.

Pada 2024, ia meraih gelar S.T.B. dari Fakultas Teologi Kepausan Wedabhakti. Setahun kemudian, ia menyelesaikan Magister Teologi bidang Dogmatik-Sistematik dari Universitas Sanata Dharma.

Pendidikan tersebut berjalan beriringan dengan ketertarikannya pada bidang eskatologi Katolik dan dialog antaragama.

Namun, Romo Amadea tidak hanya berada di ruang akademik. Ia juga dikenal sebagai penulis dan pendidik serta aktif menghasilkan sejumlah karya dan tulisan di lingkungan Sanata Dharma University Press.

Di titik ini, perjalanan intelektual dan perjalanan imamatnya bertemu. Filsafat membantunya bertanya dan mencari makna, sementara teologi membawanya semakin dalam untuk memahami iman dan misteri keselamatan.

29 Juli 2026: Hari Tahbisan

Perjalanan tersebut kemudian sampai pada salah satu titik penting dalam hidupnya.

Pada 29 Juli 2026, Romo Amadea menerima tahbisan imam di Gereja Santo Antonius Padua Kotabaru, Yogyakarta, dari Mgr. Petrus Boddeng Timang.

Ia ditahbiskan bersama empat imam Serikat Yesus lainnya, yaitu Romo Andreas Agung Nugroho, SJ, Romo Filipus Frederick Ray Popo, SJ, Romo Gregorius Agung Satriyo Wibisono, SJ, dan Romo Klaus Heinrich Raditio, SJ.

Tahbisan itu menjadi awal dari sebuah bentuk pemberian diri yang baru.

Sebagai imam, Romo Amadea memaknai hidupnya bukan sebagai miliknya sendiri, melainkan sebagai hidup yang dipersembahkan bagi pelayanan Gereja.

Ia memilih tema “Misericordiam Volo”, yang berkaitan dengan belas kasih dan menjadi dasar refleksinya mengenai imamat.

Ia mengingat sabda Yesus:

“Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan korban sembelihan.”

Bagi Romo Amadea, sabda tersebut menunjukkan apa yang seharusnya menjadi wajah pelayanan seorang imam.

“Pemberian diri kami sebagai imam adalah untuk menjadi saluran belas kasih Allah,” tegasnya.

Karena itu, ia bahkan meminta umat untuk tidak ragu mengingatkan para imam ketika mereka kehilangan belas kasih.

“Kalau kami, para imam ini tidak berbelas kasihan, tegurlah, ingatkanlah kami bahwa kami ditahbiskan untuk menjadi saluran belas kasih Allah,” ujarnya.

Pemberian Diri Tidak Harus Menjadi Imam

Namun, Romo Amadea tidak ingin pesan tentang pemberian diri berhenti pada dirinya dan para imam.

Ia mengajak umat menyadari bahwa setiap orang mempunyai panggilan untuk memberikan diri.

Tidak semua orang dipanggil menjadi imam. Tidak semua orang dipanggil menjadi biarawan atau biarawati. Namun, setiap orang dapat menjadi saluran kasih dan belas kasih Allah melalui kehidupannya masing-masing.

Dalam pekerjaan, seseorang dapat memberikan kemampuan terbaiknya.

Dalam keluarga, seseorang dapat memberikan perhatian dan kasih.

Dalam Gereja, seseorang dapat memberikan waktu dan tenaga.

Dalam masyarakat, seseorang dapat hadir bagi mereka yang membutuhkan.

Bahkan, pemberian diri itu bisa dimulai dari hal-hal yang sangat sederhana.

Memberikan senyuman.

Menyapa dengan ramah.

Menyediakan telinga untuk mendengarkan seseorang yang sedang membutuhkan tempat untuk bercerita.

Bagi Romo Amadea, hal-hal sederhana tersebut bukan sesuatu yang remeh. Justru dari sanalah kasih Allah dapat hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Tiga Kata Ajaib dalam Keluarga

Salah satu contoh paling sederhana yang ia berikan adalah kehidupan keluarga.

Ia mengajak umat membiasakan tiga kata yang disebutnya sebagai “three magic words” atau tiga kata ajaib: tolong, maaf, dan terima kasih.

Ketika membutuhkan bantuan, jangan sungkan mengatakan tolong.

Ketika melakukan kesalahan, jangan gengsi mengatakan maaf.

Dan ketika menerima kebaikan atau pertolongan, jangan lupa mengucapkan terima kasih.

Tiga kata sederhana tersebut, menurutnya, dapat menjadi cara nyata untuk memberikan diri dalam keluarga.

Dengan membiasakannya, keluarga dapat menjadi tempat di mana setiap anggota belajar menghargai, mengasihi, dan melayani satu sama lain.

Pada akhirnya, keluarga pun dapat menjadi saluran kasih Allah.

Perjalanan Belum Berakhir

Misa Perdana di Mangga Besar menjadi salah satu momen penting setelah tahbisan imam yang diterima Romo Amadea.

Namun, perjalanannya belum berakhir.

Ia akan melanjutkan perutusannya untuk menempuh program doktoral (Ph.D.) di School of Theology, Santa Clara University, California, Amerika Serikat.

Keberangkatan tersebut akan membawa Romo Amadea kembali memasuki dunia akademik. Namun kali ini, ia berangkat bukan lagi sebagai seorang mahasiswa filsafat atau teologi yang sedang mencari arah, melainkan sebagai seorang imam yang membawa pengalaman panggilan, tahbisan, pelayanan, dan tanggung jawab baru.

Ia akan pergi untuk belajar, tetapi sekaligus membawa sebuah perutusan.

Dan mungkin, perjalanan itu dapat dipahami dari pesan yang ia sampaikan dalam Misa Perdana: belajar, bekerja, melayani, bahkan meninggalkan keluarga sekalipun, semuanya menjadi bermakna ketika dijalani sebagai bentuk pemberian diri kepada Tuhan dan sesama.

Dari Anak Tunggal Menjadi Bagian dari Keluarga yang Lebih Besar

Ada sebuah ironi indah dalam kisah Romo Amadea.

Ia adalah anak tunggal.

Namun, ketika ia memilih memberikan dirinya kepada Tuhan, dunianya justru menjadi semakin luas.

Ia memiliki keluarga biologis yang pertama-tama merawat dan membesarkannya. Kemudian ia menemukan keluarga dalam Serikat Yesus. Ia memiliki saudara-saudara seimamat. Dan ia menemukan umat yang menjadi bagian dari perjalanan pelayanannya.

Dalam Misa Perdana di Mangga Besar, ia bahkan mengatakan kepada umat bahwa mereka adalah bagian dari keluarganya.

Mungkin itulah salah satu makna terdalam dari pemberian diri yang ia wartakan.

Memberikan diri bukan berarti kehilangan keluarga. Sebaliknya, ketika seseorang memberikan dirinya dengan tulus, ia dapat menemukan keluarga yang lebih luas dalam pelayanan, persaudaraan, dan kasih.

Di tengah perjalanan menuju Amerika Serikat, Romo Amadea membawa bekal yang jauh lebih besar daripada gelar akademik.

Ia membawa kisah seorang anak tunggal yang direlakan orang tuanya.

Ia membawa pengalaman seorang Yesuit yang telah mengucapkan kaul dan menjalani formasi panjang.

Ia membawa rahmat tahbisan imamat.

Dan ia membawa sebuah pesan yang sederhana tetapi mendalam:

setiap orang dipanggil untuk memberikan diri dan menjadi saluran belas kasih Allah.

Pada akhirnya, seperti Bunda Maria yang ia teladani, jalan menuju kemuliaan bukanlah pertama-tama tentang apa yang kita miliki, melainkan tentang seberapa berani kita mengatakan “ya” ketika Tuhan meminta kita memberikan diri.

(Penulis: Jaka Maturbongs)

Leave a comment