
Rm. Bernardus Christian Triyudo Prastowo, SJ menerimakan abu kepada umat dalam Misa Rabu Abu, di Gereja St. Petrus dan Paulus Mangga Besar, Rabu (18/2/2026). foto: jaka
JAKARTA – Rabu Abu menandai awal Masa Prapaskah bagi umat Katolik, sebuah perjalanan rohani selama 40 hari menuju Paskah. Hari ini menjadi simbol penting bagi pertobatan, perkabungan, serta pengakuan akan kerendahan hati manusia di hadapan Tuhan. Melalui tanda abu berbentuk salib di dahi, kita diingatkan untuk berbalik kepada-Nya dengan segenap hati (metanoia).
Dalam Misa Rabu Abu di Gereja St. Petrus dan Paulus Mangga Besar (18/2/2026), Pastor Paroki kita, Rm. Bernadus Christian Triyudo Pastowo, SJ (Romo Yudo), mengajak kita semua untuk melihat lebih dalam: apa sebenarnya esensi dari pantang dan puasa yang kita jalani?.
Puasa: Berhenti Menjadi “Pusat Dunia”
Seringkali kita terjebak menganggap puasa hanya sebagai aturan teknis (boleh/tidak boleh) atau bahkan metode diet. Namun, Romo Yudo menegaskan bahwa puasa adalah latihan untuk berhenti menjadikan diri sendiri sebagai “pusat dunia” (mengorbankan ego kita).
- Bukan “Akal-akalan”: Aturan Puasa Gereja memang minimal, yaitu makan kenyang hanya satu kali sehari. Namun, ini bukan untuk dipermainkan dengan porsi berlebihan yang justru menjadi ajang “balas dendam” saat jam makan satu kali kenyang itu tiba.
- Mengenali Kelemahan: Saat perut merasa lapar, kita diingatkan bahwa manusia itu lemah dan butuh kontrol diri, tidak hanya menuruti ego dan nafsu semata. Biasanya dalam kondisi lapar itu, emosional bisa meningkat tinggi. Nah inilah latihan untuk mengontrol diri kita.
- Kepekaan Sosial: Puasa mengajak kita berhenti dari mentalitas “ingin memiliki segalanya” (keserakahan) tetapi mulai belajar bersyukur (walaupun aku lemah tetapi Tuhan tetap memberikan kekuatan dan rahmatNya) serta peka terhadap kebutuhan orang-orang di sekitar kita.
Pantang: Semangat Partisipasi, Bukan “Wisata Kuliner”
Jika puasa adalah soal pengendalian diri, maka pantang adalah latihan partisipasi dan pengorbanan. Pantang bukan sekadar mengganti menu daging dengan hidangan lain yang jauh lebih mahal. Misalnya, karena pantang daging, maka ganti makan kepiting, lobster.
Romo Yudo mengingatkan agar kita tidak terjebak dalam “wisata kuliner tema maritim”—di mana kita tidak makan daging, tetapi tagihan restoran seafood justru membengkak. Semangat Pantang yang benar adalah:
- Menyisihkan, Bukan Menyisakan: Uang yang dihemat dari tidak makan daging atau jajan kopi, beli rokok atau makan enak dimasukkan ke dalam Kotak APP untuk membantu sesama yang membutuhkan, bukan ditabung untuk membeli gadget baru.
- Mengoyak Hati: Inti dari semuanya adalah “Koyakkan Hatimu, Bukan Pakaianmu”. Nabi Yoel mengingatkan kita untuk “berbalik kepada Tuhan dengan segenap hati”. Jangan hanya “koyak dompet” buat donasi tapi hatinya masih tertutup untuk memaafkan sesama.” ucap Rm. Yudo. Maka Pantang seharusnya melatih mentalitas kita untuk lebih peduli dan berbelarasa.
Aplikasi Nyata: Menghadapi Kerasnya Jakarta dengan Syukur
Hidup di Jakarta Barat dengan persaingan bisnis yang ketat dan berita yang mencemaskan tentu tidak mudah. Namun, Romo Yudo berpesan agar umat tetap memancarkan kegembiraan Injil.
- Ramah & Hindari Gosip: Jadilah pribadi yang ramah meski tantangan hidup berat. Ingatlah bahwa gosip itu “memakan sesama”, yang dampaknya bisa lebih berdosa daripada makan daging di hari pantang.
- Mentalitas Syukur: Ubah pola pikir transaksional menjadi mentalitas syukur. Jika kita merasa telah dicintai Tuhan secara cuma-cuma, maka kita pun dipanggil untuk melayani sesama tanpa hitung-hitungan untung rugi.
Sebagai penutup, mari kita renungkan pantun dari Romo Yudo:“Naik kereta ke Stasiun Jayakarta, singgah sebentar membeli duku. Puasa bukan soal menu semata, tapi hati yang syukur di hadapan-Mu.” Selamat memasuki Masa Prapaskah.
Mari kita jalani 40 hari ini bukan sebagai beban, melainkan sebagai kesempatan emas untuk pulang ke rumah Bapa: merasakan syukur atas Rahmat Penebusan Yesus di Kayu Salib. (Penulis: Jaka Maturbongs)
