Skip to content Skip to footer

‎Hari Raya Pelindung Paroki: Belajar Harapan dari Santo Petrus dan Santo Paulus

Perayaan Ekaristi Hari Raya Santo Petrus dan Paulus di Paroki Mangga Besar, Senin (29/6/2026). Foto: Jaka

JAKARTA – Gereja Katolik di seluruh dunia memperingati Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus. Di Paroki Mangga Besar, perayaan ini dirayakan dalam Perayaan Ekaristi di Gereja Santo Petrus dan Paulus, Senin (29/6/2026). Perayaan ini menjadi sukacita tersendiri karena kedua orang kudus tersebut merupakan pelindung paroki.

‎‎Dalam perayaan ini, umat paroki diingatkan bahwa harapan adalah kekuatan yang membuat seseorang tetap setia pada panggilan Allah di tengah berbagai pencobaan dan penderitaan. Meski memiliki latar belakang, karakter, dan cara pelayanan yang berbeda, Santo Petrus dan Santo Paulus dipersatukan oleh satu misi, yakni mewartakan Kabar Sukacita dan menjadi saksi Kristus bagi dunia. Demikian pesan Rm. Bernardus Christian Triyudo Pastowo, SJ (Romo Yudo) dalam homilinya.‎‎

Dua Pribadi Berbeda, Satu Perutusan‎‎

Romo Yudo mengajak umat untuk melihat perjalanan hidup Santo Petrus dan Santo Paulus. Menurutnya, kedua rasul itu memiliki karakter dan latar belakang yang sangat berbeda, tetapi dipersatukan oleh tujuan yang sama, yaitu mengabarkan Kabar Sukacita.‎‎

Santo Petrus dikenal sebagai pribadi yang membangun Gereja dari dalam. Sebagai manusia, ia pernah jatuh dengan menyangkal Yesus. Namun pengalaman itu justru membentuknya menjadi pemimpin Gereja yang semakin teguh dalam iman. Sementara itu, Santo Paulus memulai hidupnya sebagai penganiaya umat Kristiani. Setelah mengalami perjumpaan dengan Kristus, hidupnya berubah total dan ia mengabdikan dirinya untuk mewartakan Injil ke berbagai bangsa.‎‎

“Kalau boleh dikatakan, Petrus lebih membangun Gereja dari dalam, sedangkan Paulus lebih keluar. Dua tipe yang berbeda, tetapi memiliki misi yang sama, yaitu mengabarkan Kabar Sukacita,” ujar Romo Yudo.‎‎

Harapan yang Bertahan di Tengah Penderitaan‎‎

Mengacu pada bacaan pertama, Romo Yudo menyoroti kisah Santo Petrus yang tetap memiliki harapan ketika dipenjarakan. Di tengah keterbatasan dan ancaman, Petrus tidak menyerah pada keputusasaan, melainkan membuka dirinya terhadap karya Roh Kudus.‎‎

Hal yang sama tampak dalam diri Santo Paulus. Dalam bacaan kedua, ia berkata bahwa dirinya telah mengakhiri pertandingan dengan baik dan mencapai garis akhir. Menurut Romo Yudo, kalimat itu lahir dari pengalaman hidup yang penuh perjuangan. Paulus mengalami penolakan, penganiayaan, fitnah, bahkan berkali-kali nyaris kehilangan nyawanya. Namun semua itu tidak memadamkan semangatnya untuk terus mewartakan Kristus.

‎‎Kesaksian kedua rasul tersebut menunjukkan bahwa harapan bukan sekadar rasa optimistis, melainkan keyakinan iman yang membuat seseorang tetap bertahan dan setia menjalani panggilannya.‎‎

Harapan Membuat Manusia Bertahan‎‎

Romo Yudo kemudian mengajak umat berefleksi mengenai kehidupan masing-masing. Menurutnya, harapan memang bukan sesuatu yang mudah dimiliki ketika seseorang sedang menghadapi berbagai persoalan hidup. Namun tanpa harapan, manusia tidak akan mampu bertumbuh.‎‎

Sebagai ilustrasi, ia mengutip pengalaman Viktor Frankl dalam Man’s Search for Meaning. Frankl yang selamat dari kamp konsentrasi Nazi menuliskan bahwa banyak orang tidak mampu bertahan karena kehilangan harapan. Sebaliknya, mereka yang tetap memiliki harapan akan masa depan mampu melewati penderitaan yang luar biasa berat.‎‎

Bagi Romo Yudo, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa harapan adalah kekuatan yang membuat seseorang mampu bertahan, bangkit, dan terus melangkah meskipun sedang menghadapi kesulitan.‎‎

Meneladani Pelindung Paroki‎‎

Menutup homilinya, Romo Yudo mengajak seluruh umat untuk memohon rahmat Tuhan agar senantiasa memiliki harapan dalam setiap situasi kehidupan. Dengan meneladani Santo Petrus dan Santo Paulus sebagai pelindung paroki, umat diharapkan semakin setia membangun Gereja, berani mewartakan Injil, dan menjadi saksi harapan di tengah keluarga, lingkungan, maupun masyarakat.

‎‎”Marilah kita memohon berkat Tuhan agar kita mampu membuka diri dan tetap memiliki harapan, walaupun situasi hidup kita sedang mengalami kesusahan.”‎

(Penulis: Jaka Maturbongs)

Leave a comment