
Foto bersama Rm. Bernadus Christian Triyudo, SJ, Rm. Mikael Irwan Susiananta, SJ, Dewan Paroki Harian beserta Dewan Paroki Pleno yang baru dilantik, Minggu (28/6/2026). Foto: Andy
JAKARTA – Bertepatan dengan Perayaan Pelindung Paroki Santo Petrus dan Santo Paulus, Pastor Paroki Santo Petrus Mangga Besar, Rm. Bernardus Christian Triyudo Pastowo, SJ, melantik 111 anggota Dewan Paroki Pleno Masa Bakti 2026–2029 dalam Perayaan Ekaristi di Gereja Santo Petrus Mangga Besar, Minggu (28/6/2026).
Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Rm. Bernardus Christian Triyudo Pastowo, SJ sebagai selebran utama, didampingi konselebran Rm. Mikael Irwan Susiananta, SJ, serta Diakon Amadea Prajna, SJ.
Pelantikan tersebut menjadi momentum pembaruan komitmen pelayanan seluruh pengurus dalam mewujudkan Gereja yang semakin ramah, sinodal, dan berbuah di tengah kehidupan umat.
Pelayanan Adalah Panggilan, Bukan Beban
Dalam homilinya, Romo Yudo mengajak seluruh anggota Dewan Paroki Pleno yang baru dilantik untuk mengubah cara pandang terhadap pelayanan di Gereja. Menurutnya, tidak sedikit umat yang enggan terlibat dalam pelayanan bukan karena tidak mengasihi Tuhan atau Gereja, melainkan karena khawatir terbebani oleh tuntutan pelayanan yang melelahkan.
Mengawali refleksinya, Romo Yudo membagikan kisah ringan tentang seseorang yang tanpa sadar menerima tugas pelayanan saat sedang lengah. Kisah yang mengundang tawa tersebut, katanya, menggambarkan realitas pastoral yang kerap terjadi ketika pelayanan di Gereja masih dipersepsikan sebagai beban, bukan sebagai panggilan.
“Dalam kehidupan masyarakat urban, tekanan pekerjaan dari pagi hingga malam, kondisi ekonomi yang tidak stabil, serta berbagai tuntutan administrasi sering kali membuat para pelayan Gereja mengalami burnout. Akibatnya, generasi senior harus terus berjuang karena belum tersedia kader pelapis yang memadai,” ungkapnya.
Karena itu, ia mengajak seluruh pelayan Gereja untuk memandang pelayanan bukan sebagai kewajiban yang membebani, melainkan sebagai kesempatan menghadirkan kasih Allah kepada sesama.
Hospitalitas Menjadi Akar Kehidupan Gereja
Berangkat dari bacaan pertama tentang perempuan Sunem yang dengan tulus menyediakan tempat bagi Nabi Elisa dan Injil Matius yang menegaskan bahwa siapa yang menyambut murid Kristus berarti menyambut Kristus sendiri, Romo Yudo mengatakan bahwa pesan utama Sabda Tuhan hari itu adalah hospitalitas atau keramahtamahan.
Menurutnya, semangat hospitalitas menjadi roh arah pastoral Paroki Santo Petrus Mangga Besar yang sedang membangun komunitas sebagai ekosistem pohon yang berbuah (arbor fructifera).
”Sebagai pohon kehidupan, fase pertama dan paling penting adalah berakar dalam hospitalitas ilahi. Gereja, baik gedung maupun hati kita semua, harus menjadi ruang aman yang membuka pintu selebar-lebarnya bagi siapa saja yang datang dengan hati yang letih lesu dan berbeban berat,” katanya.
Ia mengungkapkan bahwa semangat tersebut juga akan diwujudkan dalam pembangunan gereja baru, yang diharapkan menjadi rumah yang terbuka bagi semua orang. Karena itu, seluruh pengurus diajak membangun budaya menyambut umat dengan persahabatan yang tulus, bukan sekadar menjalankan prosedur administratif.
Pendekatan pastoral, termasuk melalui lingkungan, perlu dilakukan secara proaktif dengan semangat jemput bola, sehingga setiap umat sungguh merasakan kehadiran Gereja.
Pertobatan Pastoral Menuju Gereja yang Memanusiakan
Mengutip Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma, Romo Yudo mengajak seluruh pelayan Gereja melakukan pertobatan pastoral, yakni meninggalkan mentalitas lama yang terlalu berpusat pada birokrasi menuju pelayanan yang lebih manusiawi.
“Pertobatan pastoral menuntut kita bergeser dari zona nyaman dan birokrasi yang kaku menuju Gereja yang memanusiakan pelayanan,” tegasnya.
Ia berharap setiap rapat maupun evaluasi pelayanan tidak hanya menjadi ajang membahas tugas dan persoalan administratif, tetapi menjadi ruang perjumpaan yang menghadirkan sukacita. Bahkan, ia menganjurkan agar setiap pertemuan diawali dengan saat hening (puncta) sehingga setiap pelayan dapat melepaskan beban dan kembali menyadari bahwa pelayanan adalah karya Allah.
Dengan demikian, pelayanan tidak lagi dijalankan karena keterpaksaan, tetapi lahir dari relasi yang hidup dengan Kristus dan sesama.
Sinodalitas dan Regenerasi Kepemimpinan
Romo Yudo juga menyoroti pentingnya regenerasi kepemimpinan di lingkungan paroki. Menurutnya, salib pelayanan memang harus dipikul, tetapi tidak boleh dipikul sendirian.
”Kita perlu berjalan bersama dalam semangat sinodalitas. Krisis regenerasi harus dijawab melalui kaderisasi yang inklusif lintas generasi. Para senior tetap dihormati dan mendampingi, sementara kaum muda diberi ruang untuk berinovasi tanpa rasa takut maupun tekanan yang berlebihan,” tuturnya.
Ia meyakini bahwa apabila seluruh umat berakar dalam hospitalitas, bertumbuh dalam persekutuan, dan berjalan bersama, maka pelayanan di Gereja tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan menjadi ungkapan belas kasih dan kemurahan hati.
Menjadi Animator yang Menghadirkan Sukacita
Menjelang pengucapan janji, Romo Yudo mengingatkan bahwa janji pelayanan tersebut diucapkan di hadapan Allah.> “Anda tidak dilantik sebagai administrator saja, tetapi sebagai animator atau penggerak yang menggembalakan dengan sukacita. Tugas kita bukan sekadar mencari-cari kesalahan, tetapi menghadirkan kehadiran yang apresiatif agar Gereja semakin berbuah. Hospitalitas dan sinodalitas harus menjadi semangat pelayanan kita.”
Dewan Paroki Pleno yang dilantik berjumlah 111 orang, terdiri atas para ketua wilayah, ketua lingkungan, pengurus bidang, ketua seksi, ketua subseksi, pendamping kelompok kategorial, kepala bagian, serta pimpinan komunitas religius yang akan bersama-sama mengemban karya pastoral Paroki Santo Petrus Mangga Besar selama masa bakti 2026–2029 sesuai Surat Keputusan Dewan Paroki Harian Nomor 139/DPH/VI/2026.
Melalui pelantikan tersebut, seluruh anggota Dewan Paroki Pleno mengikrarkan janji pelayanan di hadapan Allah untuk melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab. Mereka diharapkan menjadi pelayan yang menghidupi semangat hospitalitas dan sinodalitas, serta menghadirkan Gereja yang semakin ramah, inklusif, dan berbuah bagi seluruh umat.(Penulis: Jaka Maturbongs)






