Skip to content Skip to footer

Romo Yudo: Menjadi Katolik Bukan Sekadar Member VIP

Prosesi pembabtisan oleh Rm. Bernardus Christian Triyudo Pastowo, SJ dalam Misa di Gereja St. Petrus dan Paulus Mangga Besar, Minggu (16/8/2026).Foto: Jaka

Romo Yudo: Menjadi Katolik Bukan Sekadar Member VIP

JAKARTA – Sebanyak 30 orang resmi masuk dalam persekutuan Gereja Katolik, terdiri dari 29 orang yang menerima Sakramen Baptis dan satu orang yang diterima sebagai anggota Gereja Katolik pada Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Pembaptisan dan Penerimaan Anggota Gereja Katolik tersebut berlangsung dalam Misa di Gereja St. Petrus dan Paulus Mangga Besar, Minggu (16/8/2026).

Dalam homilinya, Romo Bernardus Christian Triyudo Prastowo, SJ (Romo Yudo), mengingatkan bahwa menjadi seorang Katolik bukan sekadar memperoleh “kartu member VIP menuju surga” ataupun sekadar mengubah kolom agama pada KTP. Menurutnya, Baptis justru menjadi awal perjalanan iman untuk dilahirkan kembali, dikuatkan, dan diutus.

Untuk menjelaskan pesan tersebut, Romo Yudo mengawali homilinya dengan sebuah cerita tentang seorang bapak yang mendaftar sebagai anggota VIP di sebuah pusat kebugaran atau gym paling mahal di Jakarta.

Fasilitas gym tersebut sangat lengkap. Setiap sore, bapak itu datang mengenakan pakaian olahraga lengkap yang bermerek dan mahal. Namun, bukannya mengangkat beban atau berlari di atas treadmill, ia justru duduk manis di sofa ruang tunggu.

Ia menikmati AC yang dingin, minum kopi gratis, makan camilan pisang rebus dari kantin, bermain handphone selama dua jam, lalu pulang.

Setahun kemudian, bapak tersebut memprotes pelatih karena meskipun sudah menjadi anggota VIP dan membayar mahal, ototnya tidak juga terbentuk.

Pelatih kemudian menjawab bahwa kartu anggota VIP tidak dapat mengangkat barbel dengan sendirinya.

“Bapak, kartu member VIP itu tidak bisa mengangkat barbel sendiri secara ajaib. Bapak yang harus repot dan berkeringat untuk mengangkat barbel tersebut,” kisah Romo Yudo.

Menurutnya, cerita tersebut menjadi cermin bagi kehidupan iman, khususnya bagi mereka yang pada hari itu menerima Sakramen Baptis dan diterima dalam Gereja Katolik.

“Menjadi seorang Katolik melalui Sakramen Baptis ataupun penerimaan dalam Gereja Katolik itu bukanlah sekadar mendapat kartu member VIP masuk surga, atau sekadar mengubah kolom agama KTP.”

Romo Yudo menegaskan, jika seseorang hanya duduk diam setelah menjadi Katolik, iman tidak akan bertumbuh.

“Walaupun sudah punya member VIP, tetapi kalau hanya duduk diam, iman Anda juga tidak akan pernah bertumbuh,” ujarnya.

Dilahirkan Kembali melalui Baptis

Romo Yudo kemudian menjelaskan tiga bekal penting yang dianugerahkan Gereja dalam perjalanan iman, yakni dilahirkan kembali, dikuatkan, dan diutus.

Pertama, seseorang dilahirkan kembali melalui Sakramen Baptis.

Ketika air baptis dituangkan ke atas kepala dan imam mengucapkan, “Aku membaptis engkau dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus”, peristiwa tersebut bukan sekadar tindakan untuk membersihkan tubuh.

Menurut Romo Yudo, dalam pemahaman iman Katolik, air baptis juga menggambarkan rahim sekaligus makam.

Di dalam air baptis, manusia dikuburkan dari segala ego, dosa, ketakutan, dan luka masa lalu. Dari air yang sama, manusia diangkat seperti bayi yang baru lahir dari rahim dan menerima kehidupan baru.

Dengan Baptis, seseorang menerima kehidupan ilahi dan dibebaskan dari dosa asal.

“Maka siang ini Anda akan sah sebagai anak-anak Allah,” katanya.

Namun, seperti seorang bayi yang baru lahir membutuhkan nutrisi untuk dapat bertumbuh, kehidupan baru dalam iman juga membutuhkan makanan rohani.

Dikuatkan melalui Ekaristi

Karena itu, bekal kedua adalah Ekaristi.

Romo Yudo mengingatkan pengalaman para katekumen selama mengikuti masa persiapan. Ketika mengikuti Misa, mereka mungkin terbiasa melangkah maju dengan tangan disilangkan di dada untuk menerima berkat.

Namun pada hari itu, tangan mereka akan terbuka untuk menyambut bukan sembarang makanan, melainkan Tubuh Kristus sendiri.

Ekaristi menjadi makanan bagi jiwa dan sumber kekuatan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

“Bagi Gereja Katolik, Ekaristi itu adalah sumber dan puncak hidup Kristiani. Maka jangan lupakan Ekaristi,” pesannya.

Ia mengajak para baptisan baru dan anggota baru Gereja Katolik untuk terus setia mengikuti Ekaristi sebagai bagian penting dari kehidupan iman mereka.

Diutus menjadi Saksi Kristus

Bekal ketiga adalah Sakramen Penguatan atau Sakramen Krisma.

Romo Yudo menjelaskan, setelah lahir dan mendapatkan makanan, seorang anak akan tumbuh dewasa dan mulai mengambil tanggung jawab. Demikian pula dalam kehidupan iman.

Ketika dahi diurapi dengan minyak krisma, seseorang dimeteraikan oleh Roh Kudus. Meterai tersebut menjadi tanda bahwa ia siap diutus.

“Bukan lagi bayi rohani, melainkan prajurit dan saksi Kristus,” ungkapnya.

Karena itu, orang Katolik tidak dipanggil hanya untuk duduk di bangku gereja setiap hari Minggu, kemudian pulang.

Iman harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Anda diutus untuk berkeringat dalam cinta kasih, diutus untuk memaafkan musuh, diutus untuk jujur di tempat kerja, diutus untuk menjadi garam yang memberi rasa damai di tengah keluarga yang mungkin saja sedang retak,” tegas Romo Yudo.

Bukan Garis Akhir

Romo Yudo juga mengingatkan agar hari pembaptisan tidak dipandang sebagai sebuah wisuda atau garis akhir kehidupan iman.

Sebaliknya, hari tersebut merupakan garis awal perjalanan seseorang bersama Allah.

“Hari ini bukanlah garis akhir, justru inilah sebuah garis awal. Mulai hari ini petualangan Anda bersama dengan Allah itu dimulai,” katanya.

Ia mengajak para baptisan baru dan anggota baru Gereja Katolik agar tidak gentar menghadapi kehidupan setelah menerima sakramen.

Mereka telah dilahirkan kembali melalui Baptis, dikuatkan oleh Tubuh Kristus dalam Ekaristi, dan diutus dengan kuasa Roh Kudus.

Allah Maharahim Memberi Jalan untuk Kembali

Romo Yudo juga mengingatkan bahwa perjalanan iman tidak selalu berjalan sempurna. Setelah dibaptis, seseorang masih mungkin jatuh kembali ke dalam dosa.

Namun Gereja menyediakan Sakramen Rekonsiliasi sebagai jalan untuk kembali kepada Allah.

Allah, menurutnya, adalah Allah yang Maharahim dan Mahapengampun. Karena itu, umat tidak perlu menunda-nunda untuk kembali kepada-Nya ketika jatuh dalam dosa.

“Buka hati Anda lebar-lebar, lepaskan masa lalu, sambutlah rahmat yang luar biasa ini,” pesannya.

Pada akhir homilinya, Romo Yudo mengajak seluruh umat menyambut dan mendampingi 30 orang yang pada hari itu memasuki persekutuan Gereja Katolik.

Pendampingan tersebut, menurutnya, tidak cukup hanya melalui kata-kata, tetapi juga melalui kesaksian hidup umat dalam mengikuti Kristus.

“Mari kita sambut mereka dan kita arahkan mereka dengan sikap hati kita yang sama-sama memahami Kristus Sang Juru Selamat,” pungkasnya.

Perayaan pada Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga ini menjadi momentum penting bagi 29 orang yang menerima Sakramen Baptis dan satu orang yang diterima menjadi anggota Gereja Katolik untuk memulai perjalanan iman mereka.

Pada saat yang sama, seluruh umat diajak menyadari kembali bahwa menjadi Katolik bukan sekadar memiliki identitas, melainkan panggilan untuk terus bertumbuh dalam iman, dikuatkan oleh Ekaristi, dan diutus menghadirkan kasih Kristus di tengah kehidupan sehari-hari.

(Penulis: Jaka Maturbongs)

Leave a comment