
Rm. Bernardus Christian Triyudo Prastowo, SJ menyampaikan homili dalam Misa Hari Raya Pentekosta di Gereja St. Petrus dan Paulus Paroki Mangga Besar, Minggu (24/5/2026) pukul 07.30. Foto: Jaka
JAKARTA – Umat Katolik diajak membuka pintu hati dan berani terlibat dalam pelayanan Gereja dalam Perayaan Hari Raya Pentekosta yang dilaksanakan di Gereja St. Petrus dan Paulus Paroki Mangga Besar, Minggu (24/5/2026) pukul 07.30 WIB.
Ajakan tersebut disampaikan Rm. Bernardus Christian Triyudo Prastowo, SJ (Romo Yudo) dalam khotbahnya yang menyoroti pentingnya keterlibatan umat dalam kehidupan menggereja, mulai dari lingkungan, wilayah, kategorial hingga paroki.
Mengawali refleksinya, Romo Yudo mengangkat situasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, yakni suasana grup WhatsApp lingkungan atau wilayah yang biasanya ramai, namun mendadak sunyi ketika muncul ajakan menjadi pengurus atau relawan baru.
“Tanpa sadar, sebenarnya kita juga mendadak mengunci diri karena sebuah penyakit rohani yang bernama takut repot dan takut keribetan,” ungkap Romo Yudo.
Pintu Terkunci dan Ketakutan Para Murid
Menurut Romo Yudo, fenomena tersebut bukanlah hal baru. Para murid Yesus pun mengalami situasi serupa sebagaimana dikisahkan dalam Injil Hari Raya Pentekosta.
Injil mencatat para murid berkumpul di sebuah tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena takut kepada para pemuka Yahudi.
Secara teologis, pintu yang terkunci menjadi simbol hati yang tertutup oleh ketakutan. Namun, Yesus tidak datang dengan kemarahan atau paksaan. Ia justru hadir menembus sekat ketakutan para murid, berdiri di tengah-tengah mereka, dan dua kali menyampaikan salam damai.
“Damai bagi kamu.”Setelah memberikan damai, Yesus menghembusi para murid dan berkata, “Terimalah Roh Kudus.”
Menurut Romo Yudo, tindakan itu mengingatkan pada kisah penciptaan ketika Allah menghembuskan nafas kehidupan kepada manusia.Roh Kudus itulah yang kemudian menghidupkan para murid yang semula dipenuhi ketakutan.
Roh Kudus Menggerakkan Keterlibatan Umat
Romo Yudo menjelaskan bahwa peristiwa Pentekosta memperlihatkan Roh Kudus hadir dalam simbol tiupan angin keras dan lidah-lidah api. Angin, katanya, tidak dapat dipenjara oleh pintu sekuat apa pun, sedangkan api melambangkan daya yang menghangatkan hati manusia.
Para murid yang semula bersembunyi akhirnya membuka pintu dan mulai berbicara tentang karya besar Allah dalam berbagai bahasa. Hal itu menunjukkan bahwa bahasa Roh Kudus bukan bahasa yang eksklusif, melainkan bahasa kasih yang meruntuhkan ego dan membangun keterlibatan.
Mengacu pada bacaan kedua dari Rasul Paulus, Romo Yudo mengingatkan bahwa ada rupa-rupa karunia, pelayanan, dan karakter, tetapi semuanya berasal dari satu Roh yang sama.
Pesan itu, menurutnya, sangat relevan dengan kehidupan Paroki Mangga Besar yang membutuhkan keterlibatan umat di berbagai bidang pelayanan, baik di tingkat lingkungan, wilayah, kategorial maupun paroki.
“Kehadiran Roh Kudus adalah kehadiran dalam rangka pelayanan bagi karya keselamatan Allah. Roh Kudus tidak diberikan saat kita dibaptis agar disimpan sendiri, tetapi untuk dibagikan,” ujar Romo Yudo.
Tiga Bekal dalam Pelayanan Gereja
Dalam khotbahnya, Romo Yudo juga membagikan tiga bekal penting bagi umat yang telah membuka diri untuk melayani.Pertama, menghargai keberagaman karunia Roh Kudus.
Dalam satu tubuh, setiap anggota memiliki kemampuan berbeda-beda. Ada yang mahir mengurus administrasi, merangkul umat, mengatur konsumsi, maupun berbicara.
Karena itu, pelayanan tidak boleh diwarnai sikap saling membandingkan atau menyeragamkan kemampuan orang lain. Yang perlu disatukan adalah visi dan arah gerak pelayanan.
Kedua, mengandalkan daya ilahi. Dalam dinamika pelayanan, gesekan, perbedaan pendapat, hingga rasa kecewa tidak dapat dihindari.
Karena itu, umat membutuhkan tuntunan Roh Kudus agar mampu menghasilkan buah-buah roh seperti kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kesetiaan, dan penguasaan diri.
“Pelayanan yang sukses bukan diukur dari megahnya acara, tetapi dari seberapa murah hati kita menghadapi perbedaan dalam pelayanan,” kata Romo Yudo.
Ketiga, semangat pengampunan. Pelayanan hanya dapat bertahan jika ada kerendahan hati untuk saling meminta maaf dan mengampuni ketika terjadi gesekan dalam kerja bersama.
Belajar Ketulusan dari Anak-Anak
Sebagai penutup, Romo Yudo mengajak umat belajar dari ketulusan anak-anak melalui kebiasaan menerima berkat dan berbagi lewat “celengan bocil”.
Menurutnya, ketulusan dan kemurahan hati anak-anak dapat menjadi inspirasi bagi umat dewasa untuk membagikan waktu, kemampuan, serta talenta yang dimiliki demi pelayanan bersama di dalam Gereja.
Pelayanan dan Pendalaman Iman sebagai Gerakan Roh Kudus
Hal senada juga disampaikan Rm. Mikael Irwan Susiananta, SJ (Romo Irwan) dalam homilinya pada Misa Hari Raya Pentekosta pukul 10.00 WIB. Ia mengajak umat mewujudkan karya Roh Kudus melalui keterlibatan nyata dalam pelayanan Gereja serta pendalaman iman.
Romo Irwan mengungkapkan bahwa saat ini sudah terdapat 23 umat yang mendaftarkan diri menjadi pro diakon, dan diharapkan ke depan setiap lingkungan dapat memiliki pro diakon.
Selain itu, ia juga mengajak khususnya generasi muda Katolik untuk berani menjadi lektor, karena lektor merupakan pewarta Sabda Allah dalam kehidupan Gereja.
Tak hanya pelayanan liturgi, umat juga didorong untuk memperdalam pemahaman iman dengan mengikuti KPKS (Kursus Pendalaman Kitab Suci) maupun KEP (Kursus Evangelisasi Pribadi) guna menambah pengetahuan mengenai ajaran iman Katolik.
“Inilah yang menjadi gerakan Roh Kudus,” ungkap Romo Irwan.
Roh Kudus Memperkuat Kehadiran Gereja di Dunia
Dalam refleksinya, Romo Irwan mengajak umat memahami makna kehadiran Roh Kudus setelah Yesus tidak lagi hadir secara fisik di dunia.
Menurut Romo Irwan, sesudah Pentekosta, Yesus tidak lagi dapat disentuh, dilihat, didengar suaranya, ataupun hadir secara fisik seperti saat menyembuhkan orang sakit dalam kisah Injil. Namun, Yesus tidak meninggalkan umat-Nya sendirian.Sebagai gantinya, Roh Kudus diutus untuk menyertai Gereja.
Romo Irwan menjelaskan bahwa Roh Kudus hadir bukan hanya secara pribadi bagi setiap orang, tetapi juga bekerja melalui tata kehidupan Gereja.
Karena itu, sebelum meninggalkan dunia, Yesus memberikan wewenang kepada para murid yang kemudian diperkuat oleh kehadiran Roh Kudus.
“Terimalah Roh Kudus. Jika kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jika kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada,” kutip Romo Irwan dari Injil.
Menurutnya, pesan tersebut disampaikan Yesus kepada para rasul, bukan kepada semua orang. Melalui Roh Kudus, para rasul menerima tanggung jawab dan wewenang besar dalam kehidupan Gereja.
Romo Irwan menjelaskan bahwa dosa dalam makna yang lebih luas merangkum segala bentuk kelemahan dan kejahatan manusia. Karena itu, ketika dosa diampuni, seseorang mengalami pembebasan, keselamatan, serta menikmati damai sejahtera atau shalom.
“Kalau dosa orang diampuni, dia pasti dibebaskan, dia selamat. Dia menikmati shalom,” jelas Romo Irwan.
(Penulis: Jaka Maturbongs)



