Skip to content Skip to footer

Rm. Robert Ajak OMK Menjawab, “Siapakah Tuhan dalam Hidup Kita?”

Rm. Robert Iswanto, Pr. Berpose bersama OMK usai Misa Bersama di Aula St. Petrus dan Paulus Lantai 3, Gedung Karya Pastoral (GKP) Petrus, Paroki St. Petrus dan Paulus Mangga Besar, Jakarta, Sabtu (22/8/2026). Foto: Jaka

JAKARTA – Orang Muda Katolik (OMK) diajak untuk berani menjawab dengan jujur pertanyaan mendasar dalam kehidupan iman: “Siapakah Tuhan dalam hidup kita?” Ajakan tersebut disampaikan Rm. Robert Iswanto, Pr. dalam homilinya pada Misa OMK yang berlangsung di Aula St. Petrus dan Paulus Lantai 3, Gedung Karya Pastoral (GKP) Petrus, Paroki St. Petrus dan Paulus Mangga Besar, Jakarta, Sabtu (22/8/2026).

‎Misa OMK menjadi ruang bagi kaum muda untuk berkumpul, merayakan Ekaristi, dan memperdalam kehidupan iman. Dalam suasana perjumpaan bersama tersebut, Rm. Robert mengajak OMK tidak hanya menjalankan praktik keagamaan, tetapi juga berani melihat kembali hubungan pribadi mereka dengan Tuhan.

‎Mengacu pada Injil hari itu, Rm. Robert mengajak kaum muda merefleksikan kembali pertanyaan Yesus kepada para murid mengenai siapa diri-Nya.

‎“Kalau kita hari ini ditanya Tuhan, seperti Petrus, menurutmu, Tuhan itu siapa dalam hidupmu?” ujar Rm. Robert.

‎Menurutnya, pertanyaan tersebut semakin penting di tengah kehidupan yang penuh tuntutan. Kesibukan pekerjaan, kebutuhan finansial, biaya hidup yang semakin tinggi, serta keinginan mencapai financial freedom dapat membuat manusia semakin sibuk mengejar berbagai hal duniawi.

‎“Apakah masih berharga Tuhan di zaman sekarang ketika harus kerja sekeras mungkin supaya financial freedom?” katanya.

‎Di tengah berbagai tuntutan tersebut, umat diajak bertanya kembali, di mana tempat Tuhan dalam kehidupan mereka? Apakah Tuhan sungguh menjadi Mesias dan penopang hidup, atau justru hanya menjadi tempat untuk didatangi ketika menghadapi kesulitan?

‎Kaum Muda Masih Mencari Jawaban tentang Iman

‎Rm. Robert kemudian membagikan pengalamannya sebelum menghadiri Misa OMK. Ia mengunjungi sebuah pameran benda-benda rohani dan religi di Regina Pacis, Palmerah. Ia mengaku terkejut melihat banyak anak muda yang datang dan menunjukkan ketertarikan terhadap benda-benda rohani serta kehidupan para santo dan santa.

‎“Bayangan kita dan juga bayangan saya, itu pasti orang-orang tua yang datang ke tempat benda-benda rohani seperti itu. Ternyata tidak. Ternyata banyak orang-orang muda yang penasaran,” ungkapnya.

‎Menurut Rm. Robert, kehadiran kaum muda tersebut memperlihatkan bahwa masih ada rasa ingin tahu mengenai iman dan kehidupan para kudus. Mereka bertanya mengenai para santo dan santa, mengapa umat Katolik berdoa kepada para kudus, serta bagaimana kehidupan para kudus dapat menjadi teladan dalam kehidupan.

‎Ia menegaskan bahwa para santo dan santa juga mengalami pergulatan hidup. Mereka menghadapi persoalan keluarga, penderitaan, dan berbagai tantangan seperti manusia pada umumnya.

‎Rm. Robert mencontohkan Carlo Acutis yang masih muda ketika harus bergulat dengan penyakit yang dideritanya.

‎“Yang susah dalam keluarga, yang bergulat, bahkan Carlo Acutis, yang masih muda, bergulat dengan penyakitnya,” katanya.

‎Karena itu, menurutnya, kekudusan bukan berarti seseorang terbebas dari persoalan hidup. Justru dalam berbagai pergulatan tersebut manusia dapat menemukan bagaimana Tuhan menjadi penopang kehidupannya.

‎Ketika Manusia Merasa Lelah dan Kecewa

‎Rm. Robert juga mengajak OMK melihat kenyataan bahwa dalam perjalanan iman, seseorang dapat mengalami kelelahan dan kekecewaan.

‎Ia menggambarkan orang yang mungkin berkata, “Saya sudah capek berdoa. Saya sudah kecewa dengan banyak gereja. Saya kecewa dengan para pemimpinnya. Saya berdoa tiap hari tetapi tidak ada jawabannya.”

‎Pergulatan tersebut, menurutnya, perlu dihadapi dengan kembali melihat hubungan pribadi seseorang dengan Tuhan.

‎Rm. Robert kemudian membagikan pengalaman pastoralnya di Paroki Kelapa Gading. Menurutnya, salah satu tempat yang banyak dikunjungi umat di paroki tersebut adalah Gua Maria.

‎Ia pernah pulang larut malam setelah mengikuti rapat dan masih menemukan umat yang berdoa di depan Bunda Maria. Pada siang hari, di tengah kesibukan bekerja, ada pula umat yang menyempatkan diri datang ke gereja untuk berdoa.

‎“Dengan berbagai masalah yang bisa diidentifikasi, entah masalah hidupnya, finansialnya, tetapi selalu ingat,” tuturnya.

‎Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa di tengah berbagai persoalan kehidupan, masih ada orang yang memilih untuk datang kepada Tuhan.

‎Rm. Robert kemudian mengajak OMK melakukan refleksi sederhana: ketika sedang susah, kepada siapa kita pergi? Dan ketika sedang senang, ke mana kita pergi?

‎Menurutnya, manusia memiliki banyak pilihan untuk menghabiskan waktu. Karena itu, setiap orang perlu melihat kembali pilihan hidupnya, apakah semakin membawa dirinya dekat kepada Tuhan atau justru menjauh.

‎Tantangan Menjelaskan Iman kepada Kaum Muda

‎Dalam homilinya, Rm. Robert mengakui bahwa berbicara mengenai iman dan kehidupan rohani kepada kaum muda bukanlah hal yang mudah.

‎Kaum muda memiliki pertanyaan-pertanyaan kritis mengenai iman, termasuk mengapa mereka harus pergi ke gereja dan mengikuti Ekaristi.

‎“Mereka selalu bertanya, ‘Kenapa kita harus ke gereja, Romo? Kenapa kita harus Ekaristi?’” ujarnya.

‎Menurutnya, alasan kaum muda datang ke gereja juga dapat bermacam-macam. Ada yang datang karena diminta orang tua, mengikuti kegiatan, atau bahkan berharap menemukan pasangan hidup.

‎Berbagai pertanyaan tersebut, menurut Rm. Robert, justru perlu menjadi kesempatan bagi kaum muda untuk menemukan jawaban pribadi mengenai iman mereka.

‎Karena itu, menjadi orang Katolik tidak cukup hanya dengan mengatakan, “Saya Kristen, Romo. Saya Katolik, saya ke gereja dan saya berdoa.”

‎Pertanyaan yang lebih mendalam adalah apakah seseorang mampu menjawab ketika Yesus sendiri bertanya, siapakah Tuhan dalam hidupnya?

‎Masihkah Bangga Menjadi Katolik?

‎Rm. Robert selanjutnya mengajak OMK melihat kembali posisi Tuhan dalam kehidupan masing-masing.

‎“Mampukah kita bertanya ke dalam diri kita dengan jujur, urutan keberapa Tuhan dalam diri kita?” tanyanya.

‎Menurutnya, pertanyaan tersebut bukan untuk menentukan mana yang paling penting dan mana yang tidak. Yang lebih penting adalah menyadari bagaimana peran Tuhan dalam kehidupan setiap orang.

‎Di tengah kehidupan Jakarta yang menawarkan begitu banyak pilihan, manusia dapat dengan mudah mencari berbagai pelarian ketika menghadapi persoalan. Karena itu, umat perlu menyadari kepada siapa mereka mencari pertolongan dan tempat mereka menaruh harapan.

‎Rm. Robert juga mengajak OMK untuk kembali menyadari identitas mereka sebagai orang Katolik.

‎“Masihkah kita hari ini bangga menjadi orang Katolik? Apakah hari ini kita bangga punya Yesus yang selalu meneguhkan kita, mengasihi kita apa pun keadaannya?” ungkapnya.

‎Menurutnya, iman tidak cukup hanya menjadi identitas, tetapi perlu tampak dalam kehidupan sehari-hari. Relasi dengan Tuhan perlu diwujudkan dalam pilihan, sikap, serta cara seseorang menghadapi persoalan maupun menjalani kebahagiaan.

‎Misa OMK tersebut menjadi momentum bagi kaum muda untuk tidak hanya berkumpul dan merayakan Ekaristi, tetapi juga merefleksikan kembali arah kehidupan iman mereka. Pertanyaan tentang Tuhan menjadi undangan bagi setiap OMK untuk mengenali kembali siapa yang menjadi pusat kehidupannya.

‎Di tengah kesibukan, tuntutan hidup, persoalan finansial, perkembangan zaman, dan berbagai pilihan yang tersedia, kaum muda diajak untuk tidak kehilangan arah dan tetap membangun relasi yang dekat dengan Tuhan.

‎Yesus tidak hanya diakui sebagai bagian dari identitas iman, tetapi sungguh dihayati sebagai Tuhan yang hadir, meneguhkan, dan mengasihi manusia dalam keadaan apa pun.

‎“Siapakah Tuhan dalam hidup kita?” Pertanyaan tersebut akhirnya menjadi ajakan bagi setiap OMK untuk menemukan jawabannya secara pribadi dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari.

‎(Penulis: Jaka Maturbongs)

Leave a comment