Skip to content Skip to footer

‎HUT ke-105 Legio Maria, Dekenat Barat I Diajak Menatap Perutusan Berikutnya

Jeny T. Dewi, Ketua Komisium Legio Maria Dekenat Barat I memberikan sambutan pada Perayaan HUT ke-105 di Gereja St. Petrus dan Paulus, Paroki Mangga Besar, Sabtu (12/9/2026). Foto: Jaka

JAKARTA – Perayaan HUT ke-105 Legio Maria menjadi momentum bagi para legioner Dekenat Barat I untuk mensyukuri perjalanan panjang pelayanan sekaligus menatap perutusan Gereja di masa mendatang.

Perayaan tersebut berlangsung Sabtu (12/9/2026) di Gereja St. Petrus dan Paulus, Paroki Mangga Besar, Jakarta, dan diikuti komunitas Legio Maria dari berbagai presidium di wilayah Dekenat Barat I.

‎Setelah perayaan Misa, pesan mengenai ketangguhan, kelenturan, dan cinta kembali ditegaskan dalam sambutan Jeny T. Dewi, Ketua Komisium Legio Maria Dekenat Barat I.

‎105 Tahun Menjadi Momentum Bersyukur

‎Jeny mengawali sambutannya dengan menyampaikan terima kasih kepada para imam yang telah hadir dan membawakan perayaan Misa. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Dewan Paroki Harian Paroki Mangga Besar yang telah memberikan izin penggunaan fasilitas gereja.

Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada seluruh petugas yang terlibat, khususnya putri altar, putri sakristi, putra altar, Konsos, koster, serta seluruh pihak yang telah mempersiapkan kegiatan.

‎Jeny juga mengapresiasi panitia yang merupakan kerja bersama antara Komisium dan Kuria di wilayah Dekenat Barat I.

‎Menurut Jeny, perjalanan 105 tahun Legio Maria bukanlah perjalanan yang singkat. Selama perjalanan panjang tersebut, Legio Maria telah menjadi bagian dari perjalanan Gereja melalui kehidupan doa, pelayanan kepada orang sakit dan mereka yang membutuhkan, serta berbagai karya kerasulan.

‎Jeny kemudian membagikan pengalaman sebelum memasuki gereja. Ia bertemu dengan sejumlah ibu yang sedang menunggu di sekitar lift. Mereka memperkenalkan diri dengan sebutan “pasukan bertongkat.”

‎Pengalaman tersebut membuat Jeny terharu. Di tengah usia dan keterbatasan fisik, para legioner tersebut tetap memiliki semangat untuk hadir dan melayani.

‎Ia kemudian menyapa mereka dengan penuh kegembiraan, “Halo sesamaku, pasukan bertongkat.”

‎Bagi Jeny, para legioner tersebut memberikan contoh nyata tentang ketangguhan dan kesetiaan. Mereka menunjukkan bahwa usia dan keterbatasan fisik bukan alasan untuk berhenti mengambil bagian dalam pelayanan.

‎Menatap Langkah Legio Maria Selanjutnya

‎Jeny mengatakan, perayaan HUT ke-105 bukan hanya kesempatan untuk mengenang perjalanan panjang Legio Maria. Momentum tersebut juga menjadi kesempatan untuk bersyukur atas rahmat Tuhan dan sekaligus bertanya, ke mana Tuhan mengutus Legio Maria untuk melangkah selanjutnya.

‎Menurutnya, masih banyak orang yang membutuhkan perhatian. Generasi muda juga perlu dirangkul. Selain itu, masih banyak karya Gereja yang menantikan keterlibatan dan pelayanan umat.

‎Karena itu, perjalanan 105 tahun hendaknya menjadi bekal untuk memasuki perutusan yang baru.

‎Jeny juga mengingatkan kembali tema yang diangkat dalam team building Legio Maria Dekenat Barat I pada 29–30 Agustus, yaitu semangat untuk menjadi “tangguh, lentur atau adaptif, dan penuh cinta.”

‎“Tangguh ketika menghadapi tantangan. Tangguh itu lahir dari spiritualitas dan juga dari iman,” demikian pesan Jeny.

‎Sementara itu, lentur ketika menghadapi perubahan. Zaman berubah sehingga karya pelayanan pun perlu berkembang dan selaras dengan kebutuhan Gereja.

‎Namun, yang paling penting adalah semuanya dibingkai oleh cinta.

‎Sebab, pada akhirnya seluruh karya Legio Maria tidak boleh kehilangan sumbernya, yaitu cinta.

‎Jeny juga menyampaikan terima kasih kepada para imam, biarawan-biarawati, dan seluruh umat yang selama ini mendukung perjalanan Legio Maria.

‎Ia berharap para legioner semakin berakar dalam iman dan kekatolikan, semakin bertumbuh dalam persaudaraan, serta mampu menghasilkan buah melalui pelayanan yang penuh kasih bagi Gereja dan masyarakat.

‎Ramah Tamah Penuh Persaudaraan

‎Perayaan HUT ke-105 Legio Maria menjadi momentum bagi para legioner Dekenat Barat I untuk kembali meneguhkan identitas mereka sebagai pasukan Maria yang tangguh menghadapi tantangan, lentur menghadapi perubahan, dan penuh cinta dalam setiap pelayanan.

‎Jeny menutup sambutannya dengan mengajak seluruh legioner untuk terus setia dalam perutusan dan berharap dapat kembali berjumpa dalam perayaan HUT Legio Maria ke-106.

‎“Proficiat, sampai jumpa di ulang tahun Legio Maria yang ke-106. Tuhan memberkati, Ave Maria.”

‎Usai seluruh rangkaian perayaan Misa, kegiatan HUT ke-105 Legio Maria kemudian dilanjutkan dengan acara ramah tamah. Para legioner dari berbagai presidium di Dekenat Barat I berkumpul dalam suasana penuh sukacita dan persaudaraan.

‎Ramah tamah menjadi kesempatan untuk mempererat kebersamaan dan mensyukuri perjalanan panjang Legio Maria yang telah memasuki usia 105 tahun.

‎(Penulis: Jaka Maturbongs)

Leave a comment