
Foto bersama usai Perayaan Misa HUT ke-105 Legio Maria, Sabtu (12/9/2026) di Gereja St. Petrus dan Paulus, Paroki Mangga Besar, Jakarta. Foto: Jaka
JAKARTA – Perayaan Misa dalam rangka HUT ke-105 Legio Maria berlangsung Sabtu (12/9/2026) di Gereja St. Petrus dan Paulus, Paroki Mangga Besar, Jakarta. Perayaan tersebut diikuti komunitas Legio Maria dari Dekenat Barat I.
Rangkaian kegiatan diawali dengan doa Rosario bersama sebelum perayaan Misa. Doa tersebut menjadi kesempatan bagi para legioner untuk mempersiapkan diri secara rohani sekaligus memohon penyertaan Bunda Maria dalam perjalanan dan karya pelayanan Legio Maria.
Misa dipimpin oleh Rm. Bernardus Christian Triyudo Prastowo, SJ, dan dikonselebrasikan bersama Rm. Stefanus Adi Budi Kristianto, MSC serta Rm. Yohanes Purnomo, SX.
Legioner Dipanggil untuk Tangguh, Lentur, dan Penuh Cinta
Dalam homilinya, Romo Yudo mengajak para legioner untuk terus menghidupi semangat sebagai “pasukan Maria” yang tangguh, lentur atau adaptif, dan penuh cinta. Ketiga sikap tersebut penting agar para legioner mampu menjalankan tugas dan pelayanan dengan setia di tengah berbagai tantangan dan perubahan zaman.
Mengawali homili, Romo Yudo menyampaikan sebuah kisah ringan tentang seorang legioner yang tetap menghadiri pertemuan presidium meskipun hujan deras, angin kencang, petir, dan banjir melanda.
Dalam kisah tersebut, seorang perempuan anggota Legio Maria berjalan menerobos hujan sambil membawa buku panduan presidium. Melihat keteguhan perempuan itu, seorang imam memujinya sebagai legioner sejati karena badai, petir, dan banjir tidak menghalanginya menghadiri pertemuan presidium.
Namun, perempuan tersebut menjawab bahwa ia bukan datang karena imannya begitu besar. Ia hadir karena dirinya adalah notulis. Jika tidak datang, omelan dari perwiranya dianggap jauh lebih mengerikan daripada badai dan petir.
Romo Yudo menegaskan bahwa kisah tersebut hanyalah sebuah lelucon. Namun, di balik kelucuan itu terdapat gambaran mengenai komitmen, ketaatan, dan ketekunan yang perlu dimiliki seorang legioner.
Sebagai “pasukan Maria”, para legioner dipanggil untuk tetap setia menjalankan tugas meskipun menghadapi berbagai tantangan.
Belajar dari Maria yang Mengunjungi Elisabet
Romo Yudo kemudian mengajak umat merenungkan kisah Maria mengunjungi Elisabet dalam Injil Lukas.
Maria dikisahkan “bergegas” menuju sebuah kota di daerah pegunungan Yudea untuk mengunjungi Elisabet. Perjalanan tersebut bukan perjalanan yang mudah. Wilayah yang harus dilalui merupakan daerah pegunungan dengan medan yang terjal dan berbatu. Dalam keadaan sedang mengandung, Maria tetap berangkat untuk menjumpai Elisabet.
Menurut Romo Yudo, perjalanan tersebut menunjukkan ketangguhan Maria, baik secara fisik maupun mental. Maria tidak membiarkan keadaan dirinya menjadi alasan untuk tidak hadir bagi orang lain.
Namun, ketangguhan Maria bukan ketangguhan yang kaku, keras, atau berpusat pada diri sendiri. Maria juga menunjukkan sikap lentur dan penuh kasih.
Ketika tiba di rumah Elisabet, Maria tidak datang untuk meminta dirinya dilayani karena sedang mengandung. Sebaliknya, kehadiran Maria justru membawa rahmat dan sukacita.
Ketika Maria memberi salam, anak yang berada dalam kandungan Elisabet melonjak kegirangan. Elisabet pun dipenuhi Roh Kudus dan berkata.
“Diberkatilah engkau di antara semua wanita dan diberkatilah buah tubuhmu.”
Dari kisah tersebut, Romo Yudo mengajak para legioner melihat kembali makna kehadiran mereka dalam pelayanan.
Ketika mengunjungi umat di rumah, orang sakit, atau mereka yang membutuhkan perhatian, para legioner perlu bertanya kepada diri sendiri: Apakah kehadiran kita membuat orang lain bersukacita dan mengalami kedamaian, atau justru membuat mereka merasa tertekan?
Demikian pula dalam pertemuan presidium. Seorang legioner tidak cukup hanya hadir dan menjalankan kewajiban. Ia dipanggil untuk hadir dengan hati yang terbuka, mampu mendengarkan, memahami situasi orang lain, serta memberikan pengharapan melalui kasih Kristus.
Menurut Romo Yudo, menjadi tangguh bukan berarti menjadi keras dan tidak mau berubah. Ketangguhan perlu disertai kemampuan untuk beradaptasi dengan situasi dan kebutuhan orang lain.
Dalam pelayanan, setiap orang memiliki latar belakang, pengalaman, persoalan, dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, seorang legioner perlu memiliki hati yang lentur.
Kelenturan berarti mampu menyesuaikan diri, mendengarkan pergumulan orang lain, serta tidak mudah menghakimi. Dengan demikian, pelayanan yang dilakukan sungguh-sungguh menjadi jalan untuk menghadirkan kasih dan pengharapan.
Melayani sebagai Anak Allah
Romo Yudo selanjutnya menghubungkan ketangguhan dan kelenturan dengan kehidupan iman.
Mengacu pada bacaan pertama, ia mengingatkan bahwa Allah mengutus Roh Putra-Nya ke dalam hati manusia sehingga umat dapat berseru, “Abba, ya Bapa.”
Karena itu, manusia bukan lagi hamba, melainkan anak Allah.
Seorang hamba dapat menjalankan tugas karena takut terhadap perintah atau hukuman. Namun, seorang anak melayani karena menyadari bahwa dirinya dicintai. Pelayanan kemudian menjadi ungkapan syukur dan tanggapan atas kasih yang telah diterima.
Hal tersebut juga berlaku dalam kehidupan Legio Maria. Tugas dan pelayanan hendaknya tidak dilakukan semata-mata karena kewajiban, tetapi karena lahir dari cinta kepada Tuhan dan Bunda Maria, serta cinta kepada sesama.
Tetap Berdoa Meski Lelah
Romo Yudo juga mengajak para legioner melihat kembali kehidupan doa, khususnya melalui Tessera, yang menjadi salah satu sarana penting dalam kehidupan seorang legioner.
Dengan gaya humor, ia menggambarkan seseorang yang sudah mengantuk ketika hendak berdoa pada malam hari. Meskipun tubuh sudah lelah, ia tetap berusaha memulai doa Tessera.
Dalam kondisi mengantuk, konsentrasi pun mulai berkurang. Bahkan, buku Tessera bisa sampai jatuh mengenai wajah.
Namun, pengalaman tersebut justru menggambarkan bahwa meskipun tubuh lelah, api cinta masih tetap menyala.
Bagi Romo Yudo, kesetiaan untuk terus berdoa, meskipun sederhana dan dilakukan dalam keadaan lelah, tetap memiliki makna. Sebab, tindakan kecil yang dilakukan dengan cinta lebih berharga daripada tindakan besar yang dilakukan hanya karena keterpaksaan.
Dalam bagian akhir homilinya, Romo Yudo juga menyampaikan kisah tentang seorang kakek yang usianya hampir 80 tahun. Meskipun harus berjalan menggunakan tongkat dan lututnya sudah tidak sekuat dahulu, ia tetap setia mengikuti pertemuan Legio Maria dan mengunjungi mereka yang membutuhkan pelayanan.
Kisah tersebut menjadi gambaran bahwa ketangguhan sejati bukan berarti tidak pernah mengalami kelemahan, melainkan tetap setia melangkah karena hati terus dikuatkan oleh iman, doa, dan kasih.
(Penulis: Jaka Maturbongs)








