
Romo Bernardus Christian Triyudo Prastowo, SJ berpose bersama 25 prodiakon baru usai pelantikan pada Misa, Minggu (27/9/2026). Foto: Jaka
JAKARTA – Pelayanan prodiakon adalah panggilan untuk menghadirkan Kristus secara nyata di tengah umat. Seorang prodiakon tidak hanya bertugas membantu pelayanan liturgi di dalam gereja, tetapi juga dipanggil untuk hadir dan melayani umat secara dekat, khususnya mereka yang sakit, lanjut usia, dan membutuhkan penghiburan.
Pesan tersebut disampaikan Romo Bernardus Christian Triyudo Prastowo, SJ (Romo Yudo) dalam homilinya pada Misa Pelantikan Prodiakon Paroki Mangga Besar, Minggu (27/9/2026), di Gereja St. Petrus dan Paulus, Paroki Mangga Besar. Sebanyak 25 prodiakon dilantik untuk membantu pelayanan gereja.
Romo Yudo menegaskan bahwa pelantikan prodiakon bukanlah sebuah tanda bahwa seseorang memperoleh kedudukan atau kehormatan tertentu. Sebaliknya, pelantikan merupakan panggilan untuk semakin siap melayani kebutuhan umat dari dekat, secara nyata, dan membumi.
Menjadi Perpanjangan Tangan, Kaki, dan Hati Kristus
Dalam homilinya, Romo Yudo mengajak para calon prodiakon melihat kembali teladan Yesus dalam melayani. Yesus tidak menjaga jarak dengan umat-Nya. Ia berjalan di tengah kehidupan masyarakat, menyentuh orang yang menderita, makan bersama mereka yang dikucilkan, serta hadir dalam keluarga yang mengalami dukacita maupun sukacita.
Semangat pelayanan tersebut, menurut Romo Yudo, menjadi dasar bagi tugas seorang prodiakon.
“Tugas prodiakon sejatinya adalah perpanjangan tangan, kaki, dan hati Yesus sendiri di tengah Paroki Mangga Besar ini,” demikian pesan yang disampaikan dalam homilinya.
Ketika membagikan Komuni Suci di gereja, para prodiakon menghadirkan Tubuh Kristus yang memberi hidup. Namun, pelayanan tersebut tidak berhenti ketika Misa selesai atau ketika berada di dalam gedung gereja.
Para prodiakon juga dipanggil untuk mendatangi umat yang membutuhkan. Mereka mungkin harus berjalan melalui gang-gang sempit, menaiki tangga rumah susun, atau masuk ke kamar rumah sakit untuk mengantar Komuni kepada umat yang sakit dan lanjut usia.
Dalam pelayanan tersebut, kehadiran prodiakon dapat menjadi sumber penghiburan bagi umat. Bahkan ketika seseorang yang sakit sudah tidak mampu berbicara dan hanya dapat menangis atau menggenggam tangan prodiakon saat menerima hosti, kehadiran tersebut menjadi tanda bahwa Kristus datang untuk membesuk dan menghibur.
Dengan demikian, prodiakon bukan sekadar mengantarkan Komuni, tetapi juga membawa kehadiran Kristus kepada mereka yang sangat merindukan-Nya.
Melayani dengan Hati Seorang Hamba
Romo Yudo juga mengingatkan para calon prodiakon mengenai pentingnya ketulusan dalam menjalankan pelayanan. Seorang prodiakon tidak dipanggil untuk mencari pujian atau penghormatan dari umat.
Pelayanan liturgi, menurut pesan homili tersebut, juga memiliki godaan yang halus, seperti keinginan untuk terlihat suci, dihormati umat, atau sekadar mencari eksistensi diri. Karena itu, seorang prodiakon harus terus menjaga motivasi pelayanan agar tetap berpusat pada Kristus dan kebutuhan umat.
Romo Yudo menekankan bahwa seorang prodiakon dipanggil untuk memiliki hati seorang hamba.
Jubah putih yang dikenakan prodiakon bukanlah pakaian kebesaran seperti seorang raja. Jubah tersebut menjadi simbol kesucian sekaligus kesiapan untuk melayani, mengikuti teladan Yesus yang merendahkan diri dan melayani para murid-Nya.
Siap Melayani di Tengah Beragam Situasi
Kepada para calon prodiakon Paroki Mangga Besar, Romo Yudo menyampaikan bahwa paroki memberikan kepercayaan besar kepada mereka. Para prodiakon akan menjadi asisten para imam dalam pelayanan kepada umat.
Paroki Mangga Besar memiliki umat yang beragam dengan berbagai kebutuhan dan tantangan. Karena itu, pelayanan prodiakon tidak selalu berlangsung dalam keadaan yang mudah.
Bisa saja jadwal pelayanan bertepatan dengan acara keluarga. Ada kemungkinan prodiakon berhadapan dengan umat yang kritis atau memiliki karakter yang tidak mudah. Bahkan, seorang prodiakon mungkin sudah merasa lelah setelah bekerja, tetapi pada malam hari masih harus menjalankan tugas pelayanan di lingkungan.
Dalam situasi seperti itu, Romo Yudo mengajak para prodiakon untuk mengingat kembali janji pelantikan dan panggilan pelayanan mereka.
Seorang prodiakon diharapkan menjadi pelayan yang membumi, ramah, dan murah senyum. Sikap tersebut penting karena prodiakon membawa Kristus kepada umat.
Romo Yudo mengingatkan bahwa ketika seorang prodiakon membagikan Komuni dengan wajah cemberut, umat yang hendak menerima Yesus justru dapat merasa sungkan. Karena itu, para prodiakon dipanggil untuk menjadi pembawa sukacita Kristus.
Menjadi “Saklar” Kasih Kristus
Pada bagian penutup homili, Romo Yudo menggunakan gambaran “saklar” untuk menjelaskan peran para prodiakon dalam menghadirkan Kristus di tengah umat.
Kristus yang dilayani oleh para prodiakon diibaratkan seperti terang yang indah dan agung. Namun, agar terang tersebut dapat menyala di hati umat yang sakit, umat yang berduka, dan di tengah lingkungan Paroki Mangga Besar, dibutuhkan orang-orang yang bersedia menjadi sarana bagi mengalirnya kasih Kristus.
Para prodiakon disebut sebagai “saklar-saklar kecil” yang memungkinkan terang Kristus sampai kepada umat.
Pelayanan mereka mungkin tidak selalu terlihat. Kunjungan kepada orang sakit, misalnya, mungkin hanya diketahui oleh satu atau dua orang. Mereka seperti kabel yang tersembunyi, tetapi tetap memiliki peran penting agar kasih Kristus dapat mengalir kepada umat yang membutuhkan.
Karena itu, Romo Yudo mengajak para prodiakon untuk selalu siap ketika Tuhan dan Gereja membutuhkan pelayanan mereka.
“Jadilah saklar yang selalu ‘ON’—selalu siap sedia kapan pun Tuhan dan Gereja membutuhkan Anda,” pesannya.
Melalui pelantikan tersebut, para prodiakon Paroki Mangga Besar diutus untuk menjalankan pelayanan dengan hati seorang hamba, rendah hati, ramah, dan penuh sukacita. Mereka diharapkan mampu menghadirkan Kristus secara nyata di tengah umat, terutama bagi mereka yang membutuhkan perhatian, penghiburan, dan pendampingan.
Romo Yudo menutup homilinya dengan mengajak para prodiakon menjadi “saklar” kasih Kristus yang selalu siap mengalirkan kasih tersebut kepada umat.
“Selamat dilantik, para Prodiakon Paroki Mangga Besar! Selamat menjadi ‘saklar’ kasih Kristus yang membumi, melayani, dan tak kenal lelah merangkul umat,” demikian pesan Romo Yudo.
(Penulis: Jaka Maturbongs)














