
Seminar dan Workshop Lingkungan Hidupdi Gedung Petrus Lantai 2, Ruang Yakobus-Yohanes, Gereja St. Petrus dan Paulus, Paroki Mangga Besar, Sabtu (31/10/2026). Foto: Grace
JAKARTA – Kepedulian terhadap lingkungan hidup tidak cukup hanya menjadi pengetahuan, tetapi perlu diwujudkan melalui kebiasaan dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Semangat inilah yang diangkat dalam kegiatan Seminar dan Workshop Lingkungan Hidup yang diselenggarakan oleh Lingkungan St. Yohanes Paulus II Prinsen Park, Wilayah Tangki, Sabtu (31/10/2026), pukul 10.00–12.00 WIB, bertempat di Gedung Petrus Lantai 2, Ruang Yakobus-Yohanes, Gereja St. Petrus dan Paulus, Paroki Mangga Besar.
Kegiatan ini menghadirkan Jessica Halim, Co-Founder Demibumi, sebagai narasumber. Selain diikuti umat Lingkungan St. Yohanes Paulus II Prinsen Park, kegiatan ini juga dihadiri umat dari Wilayah 10 Ancol yang turut bergabung untuk belajar bersama mengenai kepedulian terhadap lingkungan hidup.
Kepedulian Lingkungan sebagai Tanggung Jawab dan Panggilan Iman
Dalam sambutannya, Ketua Panitia, Niagawani Setiawan, menyampaikan terima kasih kepada seluruh peserta yang hadir, termasuk umat dari Wilayah 10 yang turut berpartisipasi.
Ia mengapresiasi kehadiran peserta dan berharap kegiatan tersebut tidak hanya menjadi seminar yang memberikan pengetahuan, tetapi juga mendorong perubahan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Niagawani mengajak umat untuk bersama-sama menghidupi Arah Dasar (Ardas) 2026, khususnya mengenai lingkungan hidup dan pertobatan ekologis.
Ia mengingatkan agar peserta tidak berhenti pada kegiatan seminar, tetapi mulai memikirkan tindakan konkret yang dapat dilakukan setelah memperoleh pengetahuan dari kegiatan tersebut.
“Setelah seminar ini, apa yang bisa kita buat?” ajaknya kepada para peserta. Ia juga mendorong umat untuk mengikuti kegiatan-kegiatan selanjutnya agar kepedulian terhadap lingkungan semakin berkembang di tengah komunitas.
Sementara itu, Rm. Peter Benedicto Devantara, SJ (Romo Peter), dalam sambutannya menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan hidup bukan sekadar tren, melainkan tanggung jawab moral dan panggilan iman.
“Kepedulian terhadap lingkungan hidup ini bukan sekadar tren. Ini tanggung jawab moral dan panggilan iman,” tegas Romo Peter.
Ia mengingatkan bahwa Gereja Katolik telah menaruh perhatian terhadap persoalan krisis ekologi sejak masa Paus Yohanes Paulus II pada dekade 1990-an. Persoalan lingkungan hidup tidak hanya berkaitan dengan alam, ekonomi, dan politik, tetapi juga menyangkut persoalan moral dan spiritual manusia.
Menurutnya, ketidakpedulian terhadap bumi sebagai rumah bersama merupakan persoalan moral sekaligus iman. Karena itu, umat perlu membangun kesadaran untuk menjaga dan memelihara lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab terhadap ciptaan Tuhan.
Romo Peter juga mengajak umat memulai perubahan dari lingkup terkecil.
“Perubahan bisa kita mulai dari diri kita sendiri, dari keluarga kita masing-masing, dari lingkungan kita, dari wilayah kita, dan mudah-mudahan akhirnya menjadi gerakan bersama paroki kita,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya pendidikan dalam membangun kesadaran ekologis. Menurutnya, kegiatan seminar dan workshop seperti ini merupakan bentuk pendidikan yang mendorong perubahan pikiran dan paradigma, bukan sekadar penerapan kebijakan atau aturan.
Pendidikan, jelasnya, bertujuan membangun kesadaran manusia agar melakukan sesuatu berdasarkan pemahaman dan tanggung jawab, bukan semata-mata karena takut terhadap hukuman atau mengharapkan penghargaan.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi inspirasi bagi lingkungan dan wilayah lainnya untuk menyelenggarakan kegiatan serupa.
Ekonomi Sirkular dan Ketahanan Pangan
Dalam sesi materi, Jessica Halim bersama tim Demi Bumi memperkenalkan dua pokok bahasan utama, yakni ekonomi sirkular dan ketahanan pangan.
Pada materi ekonomi sirkular, peserta diajak memahami pentingnya pengelolaan sampah organik dan nonorganik secara bertanggung jawab. Melalui pendekatan ini, peserta diperkenalkan pada upaya mengurangi sampah dan memanfaatkan kembali bahan-bahan yang masih dapat digunakan.
Sementara itu, dalam materi ketahanan pangan, peserta mendapatkan pelatihan langsung pembuatan tempe dari aneka kacang tanpa menggunakan plastik. Pelatihan ini memberikan pengalaman praktis dalam mengolah bahan pangan sekaligus memperkenalkan alternatif pangan yang lebih beragam.
Tidak hanya mendapatkan materi secara teori, peserta juga terlibat langsung dalam berbagai kegiatan praktik (workshop). Ada tiga kegiatan utama yang dilakukan, yaitu pelatihan pembuatan tempe, pembuatan sabun lerak alami, dan pembuatan beeswax food wrap.
Dalam praktik pembuatan sabun lerak alami, peserta diperkenalkan pada pemanfaatan buah lerak sebagai bahan pembersih alami. Sementara itu, melalui pembuatan beeswax food wrap, peserta belajar membuat pembungkus makanan berbahan lilin lebah yang dapat digunakan sebagai alternatif pengganti plastik sekali pakai.
Ketiga praktik tersebut memberikan pengetahuan dan keterampilan yang dapat diterapkan dalam kehidupan rumah tangga sehari-hari. Peserta diajak melihat bahwa upaya menjaga lingkungan dapat dimulai dari pilihan sederhana, seperti mengolah bahan pangan sendiri, memanfaatkan bahan alami, dan mengurangi penggunaan plastik.
Peserta juga diimbau membawa tumbler sebagai salah satu bentuk kebiasaan sederhana untuk mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai.
Memulai Pertobatan Ekologis dari Kebiasaan Sehari-hari
Melalui seminar dan workshop ini, umat diajak memahami bahwa menjaga bumi tidak selalu harus dimulai dengan tindakan besar. Perubahan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten, baik di rumah maupun dalam kehidupan bermasyarakat.
Kegiatan ini sekaligus menjadi salah satu bentuk penghayatan Arah Dasar (Ardas) 2026, khususnya dalam membangun kepedulian terhadap lingkungan hidup melalui pertobatan ekologis.
Sebagaimana pesan Romo Peter, memelihara bumi merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan panggilan iman. Karena itu, pengetahuan yang diperoleh dalam kegiatan ini diharapkan tidak berhenti sebagai teori, tetapi dilanjutkan dengan tindakan nyata.
Melalui kegiatan yang diselenggarakan oleh Lingkungan St. Yohanes Paulus II Prinsen Park ini, semangat pertobatan ekologis diharapkan semakin tumbuh dan menjadi gerakan bersama umat Paroki Mangga Besar, dimulai dari diri sendiri, keluarga, lingkungan, hingga wilayah.
(Penulis: Jaka Maturbongs)




















