
Diakon Amadea Prajna, SJ menyampaikan homilinya pada Misa Minggu Paskah VII yang juga merupakan peringatan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60 di Gereja St. Petrus dan Paulus, Paroki Mangga Besar, Minggu (17/5/2026). Foto: Jaka
JAKARTA – Umat diajak untuk kembali menyediakan waktu bagi orang-orang terdekat, saling melihat wajah, mendengarkan suara, berdoa bersama, serta membangun kebersamaan tanpa terus-menerus terganggu oleh gadget dan media sosial.
Ajakan tersebut disampaikan Diakon Amadea Prajna, SJ dalam homilinya pada Misa Minggu Paskah VII yang juga merupakan peringatan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60 bertema “Memelihara Suara dan Wajah Manusia”, di Gereja St. Petrus dan Paulus, Paroki Mangga Besar, Minggu (17/5/2026).
Komunikasi Sejati Berakar pada Doa
Dalam homilinya, Diakon Amadea menegaskan bahwa komunikasi kini telah menjadi kebutuhan penting dalam kehidupan manusia. Namun, komunikasi yang baik bukan hanya soal kecanggihan alat, melainkan komunikasi yang lahir dari doa, berlangsung dalam doa, dan bermuara pada doa.
Mengacu pada Bacaan Pertama, ia menyoroti para rasul bersama Bunda Maria yang berkumpul sehati sejiwa dalam doa. Menurutnya, pengalaman doa bersama, termasuk dalam keluarga, dapat menumbuhkan kedekatan, meredakan konflik, dan menjaga keutuhan relasi.
Isi Komunikasi: Syukur, Doa, dan Penyerahan kepada Allah
Diakon Amadea menjelaskan bahwa komunikasi yang sehat juga ditentukan oleh isi yang disampaikan. Dalam Injil, doa Yesus menjadi teladan komunikasi yang baik karena berisi pujian kepada Allah, permohonan akan kebaikan bagi diri sendiri dan sesama, serta penyerahan penuh kepada kehendak Allah.
Sebaliknya, komunikasi dapat meleset dari tujuannya ketika orang lebih mementingkan sarana komunikasi dibandingkan substansinya.
“Yang dicari sering kali gadget tercanggih, AI termutakhir, aplikasi terbaru, atau hal-hal yang sedang viral, tetapi isinya justru hoaks, penghakiman, hinaan, prasangka, bahkan pelecehan terhadap sesama,” ungkapnya.
Untuk menggambarkan dampak buruk prasangka dalam komunikasi, Diakon Amadea membagikan kisah humor tentang seorang suami yang salah membaca tulisan “battery full” di layar ponsel istrinya sebagai “beautiful”, sehingga memicu kecurigaan yang ternyata keliru.
Melalui kisah itu, ia mengingatkan bahwa kecurigaan dan penghakiman dapat merusak tujuan dasar komunikasi, yaitu membangun persatuan dan kebersamaan.
Gadget Bisa Menjauhkan yang Dekat
Dalam refleksinya, Diakon Amadea juga mengutip pandangan sosiolog dan ahli filsafat komunikasi Sherry Turkle yang menyebut bahwa alat komunikasi tidak hanya mampu mendekatkan yang jauh, tetapi juga dapat menjauhkan yang dekat.
Keluarga, sahabat, maupun komunitas dapat mengalami situasi alone together atau “sendiri bersama-sama” karena masing-masing sibuk dengan gadgetnya sendiri.
Karena itu, pada peringatan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60, umat diajak untuk merefleksikan kembali bagaimana menggunakan alat komunikasi secara tepat: apakah sungguh menghubungkan dan mempersatukan, atau justru menciptakan jarak, kecurigaan, dan hilangnya kebersamaan.
Di akhir homilinya, Diakon Amadea mengajak umat memohon rahmat Roh Kudus agar komunikasi semakin mempersatukan, membuat manusia semakin manusiawi, dan mendekatkan setiap orang kepada Allah.
(Penulis: Jaka Maturbongs)

