Skip to content Skip to footer

Hari Raya Tritunggal Mahakudus, Umat Diajak Meneladani Kasih Allah lewat Pemberian Diri

Diakon Amadea Prajna, SJ menyampaikan khotbah dalam Misa Hari Raya Tritunggal Mahakudus di Gereja St Petrus dan Paulus Mangga Besar, Minggu (31/5/2026). Foto: Jaka

JAKARTA — Umat diajak untuk memahami Allah Tritunggal Mahakudus bukan sekadar sebagai ajaran iman yang sulit dipahami, melainkan sebagai misteri kasih Allah yang nyata melalui pemberian diri bagi keselamatan manusia.

Pesan tersebut disampaikan Diakon Amadea Prajna SJ dalam homilinya pada Misa Hari Raya Tritunggal Mahakudus di Gereja St. Petrus dan Paulus, Paroki Mangga Besar, Minggu (31/5/2026).

Dalam katekesenya, Diakon Amadea menjelaskan bahwa Gereja mengajarkan Allah sebagai “satu hakikat, tiga pribadi”, yakni Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus. Namun demikian, ia menegaskan bahwa Tritunggal Mahakudus tetap merupakan sebuah misteri iman yang tidak dapat dipahami secara sempurna oleh manusia.

“Misteri adalah pewahyuan Allah yang hanya mampu kita tangkap secara terbatas, karena manusia sendiri terbatas dan tidak sempurna,” ujarnya.

Ia kemudian menjelaskan peran masing-masing pribadi Allah dalam sejarah keselamatan. Allah Bapa dipahami sebagai pencipta segala sesuatu, Allah Putra hadir dalam diri Yesus Kristus untuk menebus manusia dari dosa, sementara Roh Kudus terus membimbing, menguatkan, dan mendampingi umat dalam perjalanan iman.

Kasih Allah Menjadi Dasar Tritunggal

Menjawab pertanyaan mengapa Allah dipahami sebagai Tritunggal, Diakon Amadea menegaskan bahwa jawabannya terletak pada kasih Allah sendiri.“Allah menjadi tiga pribadi karena kasih-Nya,” katanya.

Menurutnya, kasih berarti memberi atau memberikan diri. Dalam terang itu, Allah Putra dipahami sebagai pemberian diri Allah kepada dunia demi keselamatan manusia.Ia mengutip Injil hari itu bahwa karena begitu besar kasih Allah kepada dunia, Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal agar manusia memperoleh keselamatan.

Sementara itu, Allah Roh Kudus merupakan pemberian Allah agar umat tetap berjalan dalam iman, tetap mengingat ajaran Kristus, serta memperoleh daya dan kekuatan untuk mengikuti teladan-Nya.

“So, it’s all about love. Ini semua tentang kasih, dan kasih berarti pemberian,” ungkapnya.

Dipanggil Mengambil Bagian dalam Kasih Allah

Berangkat dari misteri Tritunggal tersebut, umat diajak untuk merefleksikan bagaimana mereka mengasihi dan memberi dalam kehidupan sehari-hari.

Diakon Amadea menegaskan bahwa memberi tidak hanya berkaitan dengan uang atau barang material, tetapi juga dapat diwujudkan melalui perhatian, waktu, tenaga, ilmu, kemampuan mendengarkan, hingga kesiapan memberikan diri bagi pelayanan.

“Pemberian yang paling puncak adalah pemberian diri untuk dipakai Tuhan seturut kehendak-Nya,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa manusia terlebih dahulu telah menerima begitu banyak pemberian dari Allah, bahkan Allah sendiri telah memberikan diri-Nya bagi manusia.Karena itu, pada Hari Raya Tritunggal Mahakudus, umat diajak memohon pengertian yang semakin mendalam akan misteri Allah Tritunggal agar semakin dimampukan untuk mencintai dan memberi.

Romo Irwan Ajak Umat Wujudkan Pemberian Diri Melalui Pelayanan

Menanggapi homili tersebut, Rm. Mikael Irwan Susiananta SJ (Romo Irwan) mengatakan bahwa spiritualitas Tritunggal menjadi nyata melalui karya Allah dalam menyelamatkan dunia.

Menurutnya, spiritualitas Tritunggal tidak berhenti pada pemahaman teologis, tetapi harus diwujudkan dalam bentuk pemberian diri yang konkret dalam kehidupan Gereja.

“Siapkah Anda memberikan diri bagi Gereja?” tanyanya kepada umat.

Secara khusus, Romo Irwan mengajak umat untuk terlibat dalam berbagai pelayanan gerejawi seperti menjadi prodiakon, lektor, mengikuti KPKS, maupun KEP Angkatan XV.

Ia menyebut pelayanan merupakan salah satu bentuk nyata penghayatan kasih Allah yang terlebih dahulu telah memberikan diri-Nya bagi manusia.

Kepada kaum muda, Romo Irwan juga memberi tantangan agar berani terlibat dalam pelayanan sebagai lektor.

“Ayo orang muda, jangan hanya berani di depan kamera kecil. Kalau berani, beranilah di mimbar menghadapi orang banyak,” ujarnya.

Ia berharap semakin banyak umat Paroki Mangga Besar bersedia mengambil bagian dalam pelayanan Gereja sebagai wujud konkret spiritualitas Tritunggal, yakni kasih yang diwujudkan melalui pemberian diri.

(Penulis: Jaka Maturbongs)

Leave a comment