Pembangunan Gereja Santo Petrus dan Paulus Memasuki Tahap Topping Off

Ibadat Syukur Topping off yang dipimpin oleh Rm. Bernadus Christian Triyudo Prastowo, SJ di Areal Pembangunan Gedung Baru Gereja St. Petrus dan Paulus, Mangga Besar, Sabtu (27/6/2026). Foto: Jaka
JAKARTA – Setelah hampir satu tahun proses berlangsung, pembangunan gedung Gereja Santo Petrus dan Paulus yang baru di Paroki Mangga Besar memasuki tonggak penting dengan dilaksanakannya Ibadat Syukur Topping Off atau penutupan atap pada (27/6/2026). Perayaan yang dipimpin Rm. Bernardus Christian Triyudo Pastowo, SJ (Romo Yudo) ini dihadiri oleh umat, panitia pembangunan, kontraktor, manajemen konstruksi, para pekerja, para donatur, serta umat yang mengikuti secara langsung di lokasi proyek maupun melalui siaran langsung.
Napak Tilas Menyusuri Jejak Perjalanan Iman
Rangkaian kegiatan diawali dengan Napak Tilas Gereja yang diikuti umat. Kegiatan ini menjadi kesempatan untuk mengenang perjalanan Santo Petrus dan Paulus. Sementara dalam mewujudkan pembangunan gedung gereja yang baru, umat diajak menelusuri sejarah, perjuangan, serta berbagai tahapan yang telah dilalui hingga pembangunan kini memasuki tahap topping off.
Napak tilas bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi juga menjadi ungkapan syukur atas penyelenggaraan Tuhan yang terus menyertai perjalanan umat. Semangat kebersamaan yang terbangun selama hampir satu tahun proses pembangunan kembali diteguhkan sebagai dasar untuk melanjutkan penyelesaian gereja hingga tuntas.
Atap Terakhir Menjadi Simbol Naungan Kasih Allah
Prosesi topping off menjadi puncak Ibadat Syukur. Dalam kata pengantarnya, Romo Yudo mengajak seluruh umat memaknai momen ini bukan sekadar keberhasilan pembangunan fisik, melainkan sebagai ungkapan syukur atas penyelenggaraan Tuhan yang senantiasa menuntun setiap niat dan usaha baik umat-Nya dalam membangun rumah ibadah.
Satu bagian atap terakhir yang sengaja disisakan diberkati sebelum dikerek menuju puncak bangunan sebagai lambang paripurnanya naungan gedung gereja. Melalui simbol tersebut, umat diajak menyadari bahwa kasih Allah senantiasa menaungi perjalanan hidup mereka, sebagaimana gereja dipanggil menjadi tempat perlindungan, pengharapan, dan persaudaraan bagi setiap orang yang datang mencari Tuhan. Liturgi Sabda mengambil bacaan dari Efesus 2:19–22 yang menegaskan bahwa umat beriman bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan anggota keluarga Allah yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi dengan Kristus sebagai batu penjuru. Sabda tersebut mengingatkan bahwa pembangunan gereja tidak hanya berarti mendirikan sebuah bangunan, tetapi juga membangun persekutuan umat yang menjadi tempat kediaman Allah di tengah dunia.
Membangun Gereja, Membangun Umat
Dalam homilinya, Romo Yudo menegaskan bahwa pesan Santo Paulus, “kamu bukan lagi orang asing”, menjadi napas arah pastoral Paroki Mangga Besar dalam membangun umat melalui semangat hospitalitas yang merangkul segala keberagaman.
“Lahan bekas pabrik es yang dahulu beku dan dingin ini kini bertransformasi menjadi Bait Allah yang hangat oleh hembusan Roh Kudus,” ungkapnya.
Menurut Romo Yudo, gedung gereja yang sedang dibangun kelak menjadi tempat seluruh umat, baik yang berasal dari kawasan permukiman padat maupun apartemen, bertumbuh bersama dalam iman. Di tempat itu pula umat diajak menghidupi ekosistem Arbor Fructifera, yakni berakar dalam kerahiman Allah, bertumbuh dalam persaudaraan, dan membuahkan pelayanan bagi sesama.
Ia juga mengingatkan bahwa meskipun atap gereja telah tertutup, pintu-pintunya akan selalu terbuka untuk menyambut siapa saja. Karena itu, Romo Yudo mengajak umat, termasuk yang mengikuti ibadat melalui siaran langsung, untuk terus berpartisipasi melalui doa dan uluran tangan agar pembangunan rumah persaudaraan Paroki Mangga Besar segera diselesaikan.
Doa Bersama Mengiringi Tahap Akhir Pembangunan
Dalam doa umat, seluruh peserta ibadat mendoakan panitia pembangunan, kontraktor, manajemen konstruksi, para pekerja, para donatur, serta seluruh umat Paroki Mangga Besar. Mereka memohon agar setiap tahapan penyelesaian pembangunan dapat berlangsung dengan baik, aman, dan tepat waktu.
Doa juga dipanjatkan secara khusus bagi para pekerja yang siang dan malam mencurahkan tenaga di lokasi proyek agar senantiasa diberi kesehatan, keselamatan, dan perlindungan dari segala kecelakaan kerja. Sementara itu, para donatur dan seluruh umat yang telah mendukung pembangunan gereja didoakan agar senantiasa memperoleh berkat, kesehatan, dan kesejahteraan dari Tuhan.
Puncak ibadat ditandai dengan doa pemberkatan dan pemercikan air suci pada atap terakhir oleh Romo Yudo. Setelah diberkati, atap tersebut perlahan dikerek menuju posisi puncak bangunan dan disaksikan seluruh umat dengan penuh sukacita sebagai penanda bahwa pembangunan gedung gereja telah memasuki salah satu tahap yang sangat penting.
Rumah Persaudaraan yang Terbuka bagi Semua
Dalam doa penutup, seluruh umat menyerahkan kelanjutan pembangunan Gereja Santo Petrus dan Paulus ke dalam penyelenggaraan Tuhan. Mereka memohon agar seiring rampungnya pembangunan fisik gereja, umat Paroki Mangga Besar semakin mampu mewujudkan ekosistem Arbor Fructifera dengan berakar kuat pada kerahiman Allah, bertumbuh dalam persaudaraan yang inklusif, serta membuahkan pelayanan dan hospitalitas yang nyata bagi Gereja maupun masyarakat luas.
Perayaan topping off menjadi tonggak penting dalam perjalanan pembangunan gedung Gereja Santo Petrus dan Paulus yang baru. Setelah hampir satu tahun dikerjakan, pembangunan kini memasuki tahap penyelesaian akhir. Umat Paroki Mangga Besar berharap gereja baru tersebut segera rampung sehingga dapat menjadi pusat peribadatan, pembinaan iman, pelayanan, serta rumah persaudaraan yang menghadirkan kasih Allah bagi semua orang.
(Penulis: Jaka Maturbongs)


















