
JAKARTA – Semangat solidaritas untuk membantu pembangunan dan renovasi gereja-gereja di lingkungan Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) terus digalakkan. Melalui Gerakan TABUT (Tabungan Umat), umat diajak mengambil bagian dalam karya bersama dengan cara yang sederhana, yakni menabung sekaligus beramal demi mendukung paroki-paroki yang membutuhkan.
Ajakan tersebut disampaikan Ekonom Keuskupan Agung Jakarta, Rm. Michael Wisnu, Pr., yang mewakili Uskup Agung Jakarta, Kardinal Ignatius Suharyo, kepada umat St. Petrus dan Paulus Mangga Besar seusai Perayaan Ekaristi di Gereja St. Petrus dan Paulus Mangga Besar, Minggu (2/8/2026).
Menurut Rm. Michael, Gerakan TABUT kembali dihidupkan setelah sempat terhenti selama masa pandemi. Program ini telah memberikan manfaat bagi sejumlah paroki di KAJ yang sedang membangun maupun merenovasi gereja.
”Gerakan ini membawa manfaat yang sangat banyak, terutama bagi paroki-paroki di Keuskupan Agung Jakarta yang sedang membangun maupun merenovasi gereja,” ujarnya.
Gerakan Solidaritas untuk Membangun Gereja
TABUT merupakan singkatan dari Tabungan Umat, yaitu gerakan solidaritas Keuskupan Agung Jakarta yang mengajak umat menabung sambil beramal. Program ini dikelola oleh Keuskupan Agung Jakarta bekerja sama dengan paroki-paroki di seluruh KAJ.
Melalui program ini, umat dapat menjadi peserta dengan menabung mulai dari Rp100 ribu per bulan atau kelipatannya selama 36 bulan. Dana pokok yang ditabung akan dikembalikan secara utuh pada akhir masa kepesertaan, sedangkan hasil pengelolaan dana tersebut digunakan untuk membantu pembangunan maupun renovasi gereja-gereja yang membutuhkan.
Menurut Rm. Michael, Gerakan TABUT bukan sekadar mengumpulkan dana, melainkan menjadi sarana bagi umat untuk mewujudkan iman melalui tindakan nyata berupa solidaritas dan kepedulian terhadap sesama.
Mangga Besar Penerima Bantuan ke-12
Rm. Michael mengungkapkan bahwa Gereja St. Petrus dan Paulus Mangga Besar baru saja menerima bantuan dana dari Gerakan TABUT. Mangga Besar menjadi penerima bantuan ke-12 sejak program tersebut dijalankan pada 2016.
Ia menjelaskan, bantuan itu diberikan untuk mendukung penyelesaian pembangunan gereja. Sebelumnya, sebelas paroki lain juga telah menerima bantuan serupa.
Mewujudkan Iman Lewat Tindakan Nyata
Rm. Michael menegaskan bahwa Gereja tidak bermaksud menjadikan TABUT sebagai sekadar program pengumpulan dana. Sebaliknya, gerakan ini lahir agar umat dapat mewujudkan iman dalam kehidupan sehari-hari melalui tindakan kasih dan solidaritas.
Ia mencontohkan teladan Santa Teresa dari Kalkuta yang memandang setiap orang sebagai Yesus sendiri. Semangat itulah yang menurutnya menginspirasi Gerakan TABUT, yakni mengajak umat melakukan hal-hal sederhana yang membawa manfaat besar bagi sesama.
”Orang diajak untuk mewujudkan imannya bukan hanya setelah merayakan Ekaristi, tetapi juga melalui tindakan sederhana, berbelas kasih, menabung dengan tekun dan setia, serta melakukannya dengan penuh cinta,” katanya.
Ajakan Berpartisipasi
Di akhir penyampaiannya, Rm. Michael mengungkapkan bahwa dari sekitar 2.330 kepala keluarga di lingkungan Mangga Besar, hingga Juni 2026 baru 34 orang yang menjadi peserta TABUT.
Karena itu, ia mengajak semakin banyak umat untuk ikut ambil bagian dalam gerakan tersebut. Menurutnya, melalui partisipasi yang dilakukan bersama-sama, umat dapat menjadi bagian dari pembangunan Gereja, meski dimulai dari kontribusi yang sederhana.
Ia juga mengingatkan bahwa jumlah umat Katolik di Keuskupan Agung Jakarta kini telah mencapai sekitar 600 ribu jiwa. Apabila semakin banyak umat berpartisipasi dalam Gerakan TABUT, semakin besar pula manfaat yang dapat diberikan bagi gereja-gereja yang sedang membangun maupun merenovasi.
(Penulis: Jaka Maturbongs)
