
Pastor Paroki Mangga Besar, Rm. Bernardus Christian Triyudo Prastowo, SJ berpose bersama umat dan Tim Pewarta KKI KAJ dalam kegiatan Sosialisasi Devosi Kerahiman Ilahi, Sabtu (1/8/2026). Foto: Jaka
JAKARTA – Paroki Santo Petrus dan Paulus Mangga Besar menggelar Sosialisasi Devosi Kerahiman Ilahi di Ruang Fransiskus Xaverius, Gedung Karya Pastoral (GKP) Paulus, Sabtu (1/8/2026). Kegiatan ini bertujuan memperkenalkan spiritualitas Kerahiman Ilahi sekaligus mengajak umat semakin menghayati belas kasih Allah dalam kehidupan sehari-hari.
Sosialisasi tersebut menghadirkan Ketua Komunitas Kerahiman Ilahi (KKI) Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), Haryanto Tjenderasa, bersama Tim Pewarta KKI KAJ sebagai pemateri. Hadir pula Penasihat Nasional Kerahiman Ilahi, Estherina Arianti Djaja, yang memberikan pengantar mengenai makna Devosi Kerahiman Ilahi. Kegiatan ini diikuti umat Paroki Santo Petrus dan Paulus Mangga Besar serta peserta dari beberapa paroki di wilayah Keuskupan Agung Jakarta.
Membuka kegiatan tersebut, Pastor Paroki Santo Petrus dan Paulus Mangga Besar, Rm. Bernardus Christian Triyudo Prastowo, SJ (Romo Yudo), mengajak seluruh peserta untuk semakin mendalami dan menghayati Kerahiman Ilahi sebagai dasar pembentukan karakter umat.
Menurut Romo Yudo, Kerahiman Ilahi merupakan wajah Allah yang menerima dan berbelarasa, bukan wajah yang menghakimi manusia.
”Kerahiman Ilahi itu seperti rahim, yakni wajah yang menerima dan akhirnya berbelarasa, bukan wajah yang menghakimi. Ketika kita mengalami Allah Yang Maharahim, kita pun dipanggil memiliki sikap yang ramah, sinodal, dan berjalan bersama dengan sesama,” ujar Romo Yudo.
Romo Yudo mengatakan, salah satu fokus pembangunan Paroki Mangga Besar saat ini adalah pembangunan karakter umat. Menurutnya, pembangunan karakter harus diawali dengan pemahaman yang benar mengenai Kerahiman Allah.
”Untuk membangun karakter, pertama-tama kita perlu memahami. Karena itu, fase pertama adalah hospitalitas terhadap Kerahiman Ilahi. Artinya, kita memiliki sikap yang ramah, sinodal, dan mampu berjalan bersama karena kita sendiri mengalami Allah yang Maharahim yang selalu berjalan bersama kita,” katanya.
Ia berharap seluruh peserta dapat memperoleh inspirasi melalui pewartaan dan sharing yang diberikan Tim Kerahiman Ilahi sehingga semangat belas kasih Allah semakin nyata dalam kehidupan keluarga, lingkungan, dan pelayanan di Gereja.
Allah Ingin Dikenal sebagai Allah Yang Maharahim
Dalam sesi pengantar, Penasihat Nasional Kerahiman Ilahi, Estherina Arianti Djaja, menegaskan bahwa Devosi Kerahiman Ilahi lahir dari kerinduan agar semakin banyak orang mengenal Allah sebagai Allah Yang Maharahim.
”Allah ingin dikenal sebagai Allah Yang Maharahim. Bukan sebagai Allah yang menghukum, bukan pertama-tama karena mukjizat atau kuasa-Nya, melainkan sebagai Allah yang penuh belas kasih,” katanya.
Menurut Estherina, Gereja Katolik memiliki kekayaan berbagai bentuk devosi. Namun, Devosi Kerahiman Ilahi bukan dimaksudkan menjadi milik kelompok tertentu, melainkan menjadi spiritualitas yang dapat dihayati oleh seluruh umat.
”Devosi Kerahiman Ilahi bukan soal memakai atribut atau menjadi anggota komunitas tertentu. Yang terpenting adalah semangatnya. Siapa pun yang percaya bahwa Allah Maharahim dan menghadirkan kerahiman itu dalam hidup sehari-hari, sesungguhnya telah menghidupi Devosi Kerahiman Ilahi,” jelasnya.
Ia menambahkan, meskipun devosi dalam Gereja Katolik bukan merupakan kewajiban, Gereja sangat menganjurkan umat untuk menghidupinya sebagai sarana pertumbuhan iman.
Estherina juga menjelaskan makna gambar Yesus Kerahiman Ilahi yang diterima Santa Faustina. Menurutnya, setiap unsur dalam gambar tersebut, mulai dari tatapan Yesus, posisi tangan, jubah, hingga sinar merah dan putih yang memancar dari hati-Nya, memiliki makna rohani yang dijelaskan langsung oleh Yesus kepada Santa Faustina.
”Harapan kami, umat Katolik setidaknya mengenal makna gambar Yesus Kerahiman Ilahi. Ketika ada orang bertanya tentang gambar itu, kita mampu menjelaskan bahwa itu merupakan salah satu devosi dalam Gereja Katolik,” ujarnya.
Selain itu, Estherina menyoroti peran penting Bunda Maria dalam spiritualitas Kerahiman Ilahi. Berdasarkan catatan harian Santa Faustina, Bunda Maria senantiasa mendampingi dan menguatkan umat dalam menghadapi berbagai penderitaan.
Karena itu, ia mengajak umat untuk semakin berani mewartakan Kerahiman Allah di tengah dunia yang penuh tantangan.
”Gereja Katolik sangat kaya dengan berbagai devosi. Hari ini kita diajak semakin mengenal Devosi Kerahiman Ilahi, bukan hanya sebagai sebuah devosi, tetapi sebagai cara hidup yang menghadirkan belas kasih Allah kepada sesama,” tuturnya.
Melalui kegiatan ini, umat diajak tidak hanya mengenal sejarah dan praktik Devosi Kerahiman Ilahi, tetapi juga menghayati semangatnya dalam kehidupan sehari-hari melalui sikap mengampuni, peduli, menerima sesama, dan menjadi pembawa damai di tengah keluarga, Gereja, maupun masyarakat.
(Jaka Maturbongs)









