
Foto bersama Rm. Peter Beneticto Devantara, SJ bersama OMK usai Misa Bersama, Sabtu (26/9/2026). Foto: Jaka
JAKARTA – Pertobatan yang nyata tidak berhenti pada perkataan, tetapi diwujudkan melalui perubahan sikap dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari. Pertobatan juga membutuhkan kerendahan hati untuk melakukan kehendak Allah.
Hal tersebut disampaikan Romo Peter Benedicto Devantara, SJ, dalam homili pada Misa bersama Orang Muda Katolik (OMK), Sabtu (26/9/2026), di Gereja St. Petrus dan Paulus, Paroki Mangga Besar. Romo Peter mengajak umat, khususnya OMK, untuk terus menyadari bahwa kehidupan rohani merupakan proses yang menuntut perubahan dan pertobatan terus-menerus.
Romo Peter menjelaskan bahwa Allah melihat jalan hidup seseorang. Karena itu, masa lalu seseorang bukanlah penentu terakhir kehidupannya.
“Orang yang sebelumnya hidup dalam kejahatan, hidup dalam kegelapan, hidup serampangan, dan tidak peduli dengan kehidupan rohani, tetapi kemudian bertobat dan melakukan kebaikan-kebaikan kecil sehari-hari, dia akan memperoleh kehidupan yang sejati,” ujarnya.
Menurutnya, perubahan hidup tidak selalu langsung terlihat dari keadaan sosial atau ekonomi seseorang. Seseorang mungkin tetap berada dalam kondisi kehidupan yang sama, tetapi perubahan dalam dirinya membawa kehidupan dan kebahagiaan yang sejati.
“Jadi masa lalu itu tidak menjadi penentu terakhir. Yang penting adalah perubahan hidup yang nyata,” tegasnya.
Merasa Sudah Baik Tidak Berarti Tidak Perlu Berubah
Romo Peter kemudian mengingatkan bahaya sikap merasa diri sudah baik sehingga tidak lagi merasa membutuhkan pertobatan.
Ia mengaitkan sikap tersebut dengan orang Farisi dalam Injil yang merasa telah menjalankan kewajiban agama dengan baik. Ia berpuasa, berdoa, dan bersedekah, sehingga merasa tidak memiliki kekurangan yang perlu diperbaiki.
“Orang yang merasa sudah baik, merasa tidak perlu berubah. ‘Aku sudah baik, nggak perlu menjadi baik lagi. Kan sudah baik,’” ungkapnya.
Padahal, menurut Romo Peter, Allah melihat semangat seseorang untuk bertobat dan terus berubah menjadi lebih baik.
Ia mengatakan, kehidupan para santo dan santa justru menunjukkan sikap yang berbeda. Orang-orang kudus menyadari bahwa dirinya masih memiliki dosa dan kekurangan sehingga terus merasa membutuhkan pertobatan.
“Itulah orang yang terus maju dalam kehidupan rohani: merasa perlu berubah menjadi semakin baik, semakin dekat dengan Allah,” katanya.
Kesadaran tersebut, lanjutnya, justru membuat seseorang semakin peka terhadap dosa dan kekurangannya sendiri.
“Itulah warna orang-orang kudus. Mereka selalu merasa dirinya belum bersih, masih belum cukup baik,” lanjutnya.
Kerendahan Hati Seperti Kristus
Romo Peter selanjutnya mengajak umat melihat teladan Yesus sebagai dasar dari perubahan hidup, yakni kerendahan hati.
Ia menyinggung peristiwa ketika Yesus datang ke Sungai Yordan dan berada dalam antrean orang-orang yang hendak dibaptis oleh Yohanes Pembaptis.
“Yesus sebenarnya tidak perlu ngantri di Sungai Yordan untuk dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Tetapi Dia berada di antrean orang-orang berdosa itu,” jelasnya.
Menurut Romo Peter, sikap tersebut menunjukkan kerendahan hati Yesus. Meskipun tidak berdosa, Yesus tidak membutuhkan pengakuan atau validasi dari orang lain mengenai kesucian-Nya.
Romo Peter kemudian menghubungkan kerendahan hati Kristus dengan salib. Menurutnya, salib yang secara duniawi tampak sebagai kekalahan justru menjadi tanda kemenangan Kristus.
“Ukuran kemenangan Kristus itu bukan ukuran duniawi,” katanya.
Kemenangan Kristus, lanjutnya, bukan terletak pada kemampuan-Nya untuk menghindari penangkapan atau melawan orang-orang yang menangkap-Nya, melainkan dalam ketaatan-Nya kepada Bapa sampai wafat di salib.
“Kemenangan Kristus itu adalah ketaatannya sampai wafat di salib. Kerendahan hatinya itu,” tegas Romo Peter.
Perkataan Harus Diwujudkan dalam Perbuatan
Dalam bagian akhir homili, Romo Peter mengajak umat merenungkan perumpamaan tentang dua anak dalam Injil. Anak pertama mengatakan akan melaksanakan kehendak bapanya, tetapi tidak pergi. Sementara anak kedua pada awalnya menolak, tetapi kemudian pergi dan melakukan perintah bapanya.
Menurutnya, perumpamaan tersebut menunjukkan bahwa kata-kata saja tidak cukup.
“Inilah ajakan bagi kita untuk menjadi seperti anak kedua ini,” ujarnya.
Romo Peter mengajak umat untuk tidak berhenti pada pengakuan bahwa diri mereka sudah baik, sudah berdoa, atau sudah melakukan berbagai kegiatan rohani. Semua itu perlu diwujudkan dalam tindakan nyata.
Umat juga diajak untuk berani melihat diri sendiri dan mengakui bahwa masih ada hal-hal yang perlu diperbaiki.
“Dan Tuhan memang belum selesai dengan diri kita,” katanya.
Karena itu, pertobatan dan ketaatan kepada Allah harus diwujudkan dalam tindakan sehari-hari.
“Ini tidak diwujudkan dalam perkataan tetapi dalam perbuatan, dalam tindakan-tindakan. Nggak usah banyak omong,” pesan Romo Peter.
Ia kemudian menutup homilinya dengan mengajak umat memohon rahmat kerendahan hati agar terus mampu bertobat, berubah, dan semakin dekat dengan Allah.
“Semoga Tuhan menganugerahkan kerendahan hati itu kepada kita,” pungkasnya.
(Penulis: Jaka Maturbongs)
