Semua Orang Dipanggil Menuju Kekudusan melalui Kehidupan Sehari-hari

Suasana Misa Hari Raya Semua Orang Kudus, Minggu (1/11/2026), di Gereja St. Petrus dan Paulus, Paroki Mangga Besar. Foto: Jaka

JAKARTA – Kekudusan bukan hanya milik orang-orang yang namanya tercatat dalam kalender Gereja, tetapi merupakan panggilan bagi setiap orang untuk menghadirkan kasih Allah dalam kehidupan sehari-hari. Pesan tersebut disampaikan dalam homili Misa Hari Raya Semua Orang Kudus, Minggu (1/11/2026), di Gereja St. Petrus dan Paulus, Paroki Mangga Besar, oleh Rm. Bernardus Christian Triyudo Prastowo, SJ (Romo Yudo).

Romo Yudo: Surga adalah Rumah Bapa

Dalam homilinya, Romo Yudo mengawali refleksi dengan cerita tentang seorang anak Sekolah Minggu bernama Si A. Ketika ditanya siapa yang mau masuk surga, hampir semua anak mengangkat tangan. Namun, Si A justru diam karena ibunya berpesan agar setelah Sekolah Minggu ia langsung pulang dan tidak mampir ke mana-mana.

Cerita tersebut menggambarkan manusia yang menginginkan surga, tetapi terkadang masih disibukkan oleh berbagai urusan duniawi.

Romo Yudo menjelaskan bahwa surga merupakan rumah Bapa yang terbuka bagi semua orang. Bacaan pertama dari Kitab Wahyu menggambarkan kumpulan besar orang yang tidak terhitung jumlahnya, berasal dari segala bangsa, suku, kaum, dan bahasa.

“Surga itu tidak sempit. Isinya beraneka ragam, persis seperti umat di sini. Ada yang dari Jawa, ada yang Tionghoa, Batak, Flores, Manado, dan lain-lain. Surga itu rumah besar Bapa,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan bahwa manusia menjadi anak-anak Allah karena kasih-Nya, yang diterima melalui Sakramen Baptis.

“Kita masuk bukan karena punya kartu VIP, melainkan karena kita adalah anak. Anak tidak perlu membeli tiket untuk pulang ke rumah bapaknya,” jelasnya.

Mengacu pada Sabda Bahagia dalam Injil, Romo Yudo mengajak umat menghidupi kekudusan melalui tindakan sederhana, seperti setia mendoakan keluarga, bersikap jujur, merawat orang sakit, serta menunjukkan kasih kepada sesama.

Ia juga mengingatkan bahwa keselamatan bukanlah hasil usaha manusia semata, melainkan anugerah kasih Allah. Mengikuti Misa dan terlibat dalam pelayanan merupakan ungkapan syukur atas kasih Tuhan, bukan cara untuk membeli tiket masuk surga.

Menutup homilinya, Romo Yudo menyampaikan cerita tentang seseorang bernama Sibe yang diminta mengumpulkan 100 poin kebaikan untuk masuk surga. Setelah menyebutkan berbagai perbuatan baiknya, Sibe akhirnya menyadari bahwa ia hanya membutuhkan belas kasih Tuhan. Santo Petrus pun memberikan tambahan 97 poin.

“Surga itu bukan hadiah untuk pengumpul poin terbanyak. Surga adalah rumah Bapa yang dibuka oleh kasih-Nya,” tegasnya.

Romo Peter: Kekudusan Dimulai dari Kehidupan Sehari-hari

Sementara itu, Romo Peter dalam misa di hari yang sama menekankan bahwa Sabda Bahagia bukanlah daftar tuntutan agar manusia menjadi baik, melainkan gambaran kehidupan orang yang mengalami kehadiran Allah dalam pergulatan hidupnya.

“Jadi kita menjadi anak Allah tidak karena kita baik. Sebaliknya, karena kita menjadi anak Allah, maka kita menjadi baik,” tegasnya.

Menurut Romo Peter, kekudusan dapat diwujudkan melalui tindakan sehari-hari, seperti menghormati orang tua, membantu tetangga yang sakit, tidak menyebarkan gosip, berani meminta maaf, berbagi dengan sesama, dan mendamaikan orang yang berselisih.

Ia juga mengingatkan bahwa kekudusan bukan berarti seseorang tidak pernah mengalami penderitaan, tetapi tetap mampu mengasihi di tengah kesulitan hidup.

“Kudus tidak sama dengan tidak pernah menderita. Kudus berarti tidak membiarkan penderitaan itu membuat kita tidak lagi dapat mengasihi,” ungkapnya.

Romo Peter mengajak umat memulai perjalanan menuju kekudusan dari rumah, keluarga, lingkungan, dan tempat kerja. Orang kudus bukan hanya mereka yang namanya tercatat dalam kalender Gereja, tetapi juga mereka yang menghadirkan kasih Allah dalam kehidupan orang lain.

Melalui kedua homili tersebut, umat diajak menyadari bahwa kekudusan merupakan panggilan bagi semua orang. Dengan mengandalkan kasih Allah dan menghadirkannya melalui tindakan nyata, setiap orang dapat menghidupi Sabda Bahagia dalam perjalanan menuju rumah Bapa.

(Penulis: Jaka Maturbongs)

Leave a comment