Skip to content Skip to footer

Menuju Paroki Hijau, Mangga Besar Siap Bangun Budaya Ekologis

Foto bersama usai Sosialisasi Gerakan Paroki Hijau yang berlangsung di Ruang St. Fransiskus Xaverius, GKP Paulus, Sabtu (13/6/2026). Foto: Flavia

JAKARTA – Paroki Santo Petrus dan Paulus Mangga Besar siap membangun budaya ekologis di tengah umat sebagai langkah menuju Paroki Hijau. Upaya tersebut diwujudkan melalui Sosialisasi Gerakan Paroki Hijau yang berlangsung di Ruang St. Fransiskus Xaverius, Gedung Karya Pastoral (GKP) Paulus, Sabtu (13/6/2026). Kegiatan ini mengajak umat menghidupi semangat Laudato Si’ melalui perubahan pola pikir, gaya hidup, dan tindakan nyata dalam merawat rumah bersama.

Kegiatan yang merupakan program Tim Sinergi Bidang Prioritas (TSBP) 1 tersebut diawali dengan pengantar dari Rm. Bernardus Christian Triyudo Pastowo, SJ (Romo Yudo). Ia menjelaskan bahwa gerakan Paroki Hijau bukan sekadar program yang dijalankan di tingkat paroki, melainkan bagian dari langkah bersama Gereja dalam menanggapi seruan Paus Fransiskus melalui ensiklik Laudato Si’ dan seruan apostolik Laudate Deum.

Menurut Romo Yudo, membangun Paroki Hijau perlu dipahami secara lebih luas sebagai upaya membentuk karakter, pola pikir, dan kebiasaan hidup umat yang peduli terhadap lingkungan serta menghayati semangat ekologi integral dalam kehidupan sehari-hari.‎‎

“Paroki Hijau bukan sekadar program. Yang ingin dibangun adalah budaya dan kebiasaan hidup yang peduli terhadap lingkungan sebagai jawaban atas jeritan bumi yang semakin nyata kita rasakan saat ini,” ujar Romo Yudo.‎‎

Karena itu, lanjutnya, gerakan Paroki Hijau tidak boleh berhenti pada pelaksanaan kegiatan-kegiatan lingkungan semata, melainkan perlu menjadi bagian dari kehidupan menggereja, mulai dari keluarga, komunitas, hingga seluruh karya pastoral paroki.

‎Sosialisasi tersebut menghadirkan Cyprianus Lilik K.P., Trainer dan Fasilitator Gerakan Laudato Si’ Indonesia, yang memaparkan konsep Paroki Hijau sebagai komunitas Gereja Katolik yang secara aktif menerapkan prinsip-prinsip keberlanjutan dan ekologi integral dalam kehidupan umat beriman. Menurutnya, Gereja tidak hanya menjadi komunitas umat beriman, tetapi juga pelaku konservasi lingkungan, edukasi ekologis, dan aksi sosial demi merawat kehidupan. ‎‎

Dalam pemaparannya, Lilik menjelaskan bahwa dunia saat ini tengah menghadapi berbagai krisis ekologis yang saling berkaitan, mulai dari perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, degradasi lahan, pencemaran global, hingga kerusakan lautan. Berbagai persoalan tersebut menjadi tanda bahwa manusia perlu membangun relasi yang lebih harmonis dengan alam dan mengembangkan gaya hidup yang berkelanjutan. ‎

Ekologi Integral sebagai Dasar Gerakan‎‎

Lilik menjelaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan hidup bukan sekadar isu sosial, melainkan bagian dari panggilan iman umat Katolik. Ia mengulas perkembangan pemikiran Gereja yang berpuncak pada konsep Ekologi Integral sebagaimana diperkenalkan Paus Fransiskus melalui ensiklik Laudato Si’.‎

‎Menurutnya, Paus Fransiskus mengajarkan bahwa krisis sosial dan krisis lingkungan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Karena itu, upaya mengatasinya harus dilakukan secara menyeluruh dengan memperhatikan kesejahteraan manusia sekaligus kelestarian bumi sebagai rumah bersama. ‎‎

Ia menambahkan, Gereja Katolik memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak perubahan. Dengan jumlah umat yang besar, jaringan paroki yang luas, serta pengaruh moral yang dimiliki, Gereja dapat berkontribusi nyata dalam membangun kesadaran ekologis di tengah masyarakat.

Paroki Menjadi Pusat Transformasi

Dalam kesempatan tersebut, Lilik menjelaskan bahwa gerakan ekologis perlu dimulai dari paroki karena paroki merupakan komunitas tempat umat mengalami dan menghidupi iman mereka sehari-hari. Sebagai rumah rohani yang terus membina umat, paroki memiliki peran penting dalam membentuk cara pandang, budaya, dan kebiasaan hidup umat. ‎‎

Karena itu, Paroki Hijau tidak hanya berbicara tentang penghijauan atau pengelolaan sampah, tetapi merupakan gerakan yang menyentuh seluruh aspek kehidupan menggereja. Paroki dipanggil menjadi pusat transformasi yang menghubungkan kehidupan iman dengan tanggung jawab terhadap ciptaan.‎‎

Lilik menjelaskan bahwa Paroki Hijau memiliki empat tujuan strategis, yaitu menjadikan paroki sebagai pusat transformasi spiritual relasi manusia dengan alam dan Allah, pusat pembelajaran dan budaya hidup berkelanjutan, pelaku pengelolaan lingkungan yang ramah lingkungan, serta suara profetis dalam menjaga dan memperjuangkan kelestarian alam.

Membangun Budaya Ekologis Umat

Untuk mewujudkan tujuan tersebut, diperlukan keterlibatan seluruh umat dalam membangun budaya ekologis. Budaya ini diwujudkan melalui peningkatan kesadaran dan pendidikan ekologis, pengembangan spiritualitas Laudato Si’, pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan, penataan lingkungan fisik paroki, hingga aksi nyata dan advokasi lingkungan bersama masyarakat sekitar. ‎‎

Dalam sosialisasi tersebut, peserta juga diperkenalkan dengan konsep Komunitas Penggerak Paroki Hijau yang akan berperan sebagai motor penggerak gerakan ekologis di paroki. Kelompok ini bertugas menginspirasi, mengorganisasi, dan memobilisasi umat agar terlibat aktif dalam berbagai program yang menjawab kebutuhan nyata lingkungan sekitar. ‎‎

Selain itu, Lilik memperkenalkan program Kursus Laudato Si’ bagi umat yang mengusung tema “Menjadi Warga Bumi yang Baik.” Program ini dirancang untuk meningkatkan kesadaran, pengetahuan, dan keterampilan umat dalam menjalani kehidupan yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan hidup dan sesama. Materi yang diberikan mencakup spiritualitas ekologis, pemahaman dasar ekologi, isu-isu lingkungan, gaya hidup berkelanjutan, hingga aksi nyata di tingkat keluarga dan paroki. ‎‎

Melalui sosialisasi ini, umat Paroki Mangga Besar diajak untuk melihat bahwa merawat ciptaan merupakan bagian dari perwujudan iman. Dengan membangun budaya ekologis yang berakar pada spiritualitas Laudato Si’, paroki diharapkan mampu menjadi komunitas yang tidak hanya bertumbuh dalam kehidupan rohani, tetapi juga menghadirkan kontribusi nyata bagi kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.‎‎

(Penulis: Jaka Maturbongs)

Leave a comment