Skip to content Skip to footer

Imlek 2026 dan Tahun Kuda Api: Tantangan Terbesar Justru “Penyakit” Lupa Tuhan

Pastor Paroki St. Petrus dan Paulus Mangga Besar, Rm. Bernardus Christian Triyudo Praswoto, SJ bersama Rm. Mikael Irwan Susiananta, SJ memberi ucapan Selamat Tahun Baru Imlek kepada umat di Depan GKP Petrus seusai perayaan misa, Selasa (17/2/2026). foto: jaka

JAKARTA – Memasuki Tahun Kuda Api pada Imlek 2026 ini, masyarakat dihadapkan pada berbagai tantangan, mulai dari kondisi ekonomi yang fluktuatif dan tidak baik-baik saja hingga persaingan yang kian memanas.

Namun, di balik hiruk-pikuk duniawi tersebut, ada satu tantangan rohani yang sering luput dari perhatian, yaitu “penyakit” lupa akan Tuhan.

Pesan mendalam ini disampaikan oleh Rm. Bernadus Christian Triyudo Pastowo, SJ (Romo Yudo) dalam khotbah Misa Perayaan Imlek di Gereja St. Petrus dan Paulus Mangga Besar, Jakarta, Selasa (17/2/2026).

Bukan Sekadar Hoki dan Kepintaran

Menurut Romo Yudo, kompetisi yang ketat seringkali membuat manusia lupa bahwa Pembuka Jalan kehidupan sesungguhnya adalah Tuhan sendiri, dengan caranya yang bermacam-macam dan unik.

“Bacaan pertama dari Surat Yakobus tadi mengingatkan akan hal itu. Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna datangnya dari atas,” ungkap Romo Yudo.

Ia menegaskan bahwa pencapaian manusia bukan semata-mata karena faktor keberuntungan (hoki) atau kepintaran pribadi, tetapi karena rahmat Tuhan yang tercurah. Mengutip Santo Yakobus, Romo Yudo juga mengingatkan bahwa manusia sering dicobai oleh keinginannya sendiri (egoisme) yang menyeret dan mengikat hati sehingga menjadi beku dan kerap dibarengi dengan rasa khawatir berlebihan. Inilah Ragi Farisi dan Ahli Taurat yang disebutkan dalam bacaan Injil hari ini

Makna Kuda Api dan Jeruk

Dalam renungannya, Romo Yudo menjelaskan simbolisme Tahun Kuda Api yang melambangkan semangat dan kecepatan. Namun, ia memberi catatan penting:

“Jangan sampai api semangat itu berubah menjadi api keserakahan. Jangan karena sibuk mengejar roti duniawi, kita meninggalkan Tuhan, Sang Pemberi Roti,” pesannya.

Umat juga diajak untuk memaknai simbol jeruk dan angpao bukan hanya sebagai tradisi, melainkan lambang kedamaian. Seperti jeruk yang manis, umat diharapkan mampu membawa rasa damai bagi keluarga dan sesama.

Romo Yudo menutup khotbahnya dengan sebuah pantun jenaka namun sarat makna:

“Pergi ke Glodok membeli manisan, Mampir sebentar membeli bakpao. Rejeki itu datangnya dari Tuhan, Jangan lupa bersyukur dan berbagi angpao.”

Kuis Berhadiah Rosario dan Lagu Mandarin

Suasana Misa Perayaan Imlek yang dihadiri ratusan umat paroki ini berlangsung meriah. Misa dipimpin oleh konselebran utama Rm. Mikael Irwan Susiananta, SJ (Romo Irwan) bersama Romo Yudo.

Keriaan semakin terasa ketika Romo Irwan memberikan kuis interaktif kepada umat. Mereka yang berhasil menjawab pertanyaan mendapatkan hadiah spesial berupa rosario bernuansa Imlek.

Sebagai penutup yang manis, Romo Irwan menyanyikan lagu rohani populer “Hidup Adalah Kesempatan” dalam Bahasa Mandarin, yang disambut hangat oleh seluruh umat yang hadir.

(Penulis: Jaka Maturbongs)

2 Comments

  • Irke
    Posted February 18, 2026 at 09:05

    Luar biasa… Misa Imlek tahun ini bukan sekadar perayaan meriah, tapi menjadi pengingat rohani yang sangat relevan untuk menjaga hati agar tidak ‘lupa Tuhan’ di tengah kesibukan 🙏🏻

Leave a Reply to jaka matubongs Cancel reply

Go to Top