Skip to content Skip to footer

Mangga Besar Jadi Salah Satu Paroki dengan LPJ Terbaik

Pastor Paroki St Petrus dan Paulus Mangga Besar, Rm. Bernardus Christian Triyudo Prastowo, SJ berpose bersama DPH setelah menerima penghargaan LPJ terbaik dalam Acara Rekoleksi DPH se-KAJ di Gedung Leo Dehon Gereja St. Stefanus Paroki Cilandak, Sabtu (14/02/2026). foto IST

Jakarta – Gereja St. Petrus dan Paulus Paroki Mangga Besar dinobatkan sebagai salah satu paroki dengan kategori “Pelaporan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Paroki Terbaik 2025”. Apresiasi ini diberikan langsung oleh Tim Karya Parokial Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), setelah acara Rekoleksi Dewan Paroki Harian (DPH) se-Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) Bersama Kardinal Ignatius Suharyo di Gedung Leo Dehon Gereja St. Stefanus Paroki Cilandak, Sabtu (14/02/2026).

Apresiasi Kinerja: Konsistensi dan Kepedulian

Berdasarkan data Tim Karya Parokial KAJ, dalam evaluasi Program Karya (Prokar) 2025. Paroki Mangga Besar mendapatkan apresiasi khusus atas kinerja administrasi dan pastoralnya, antara lain:

  1. Dua Tahun Berturut-turut LPJ SAPA 100%: Paroki Mangga Besar berhasil mempertahankan rekor pelaporan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) SAPA mencapai 100% selama dua tahun berturut-turut (2024 dan 2025). Sebanyak 728 program karya di tahun 2025 berhasil dilaporkan dengan tuntas.
  2. Masuk Jajaran “Pelaporan LPJ SAPA Paroki Terbaik”: Paroki Mangga Besar dinobatkan sebagai salah satu paroki dalam kategori “Pelaporan LPJ Paroki Terbaik 2025”. Ini adalah bukti kerja keras seluruh seksi dan lingkungan serta kategorial dalam mempertanggungjawabkan karya pelayanan.
  3. Progres DUPRAS di Atas 90%: Komitmen terhadap warga prasejahtera terlihat nyata. Paroki Mangga Besar masuk dalam daftar paroki dengan progres pengisian survei Data Umat Pra-Sejahtera (DUPRAS) yang sangat baik, yakni di atas 90%.

Pertobatan Ekologis: Lebih dari Sekadar Menanam Pohon

Dalam rekoleksi tersebut, Ignatius Kardinal Suharyo selaku Uskup Agung Jakarta, memberikan penekanan kuat mengenai “Ekologi Integral” yang bersumber dari dokumen Laudato Si’. Pesan utamanya menohok kesadaran kita: pertobatan ekologis tidak cukup hanya berhenti pada gerakan seremonial menanam pohon. Hal itu penting dan sangat baik tetapi harus dilengkapi pada cara bertindak dalam hidup keseharian.

Gereja dipanggil lebih dalam untuk mengubah gaya hidup (life style) yang sungguh-sungguh menghargai Ibu Bumi dalam keseharian. Paroki-paroki didorong untuk berkolaborasi dengan banyak pihak dan mencari jalan-jalan baru (new ways) sesuai konteks wilayah masing-masing demi mewujudkan kelestarian alam. Hal ini juga menjadi pengantar menuju Tahun Yubileum khusus Santo Fransiskus Assisi yang akan mewarnai gerak langkah Gereja ke depan.

Prestasi GKT: Mewujudkan Data Menjadi Aksi

Tak hanya mendapat apresiasi LPJ terbaik, Paroki Mangga Besar juga berhasil meraih Juara ke-3 dalam Ajang Gerakan Kepedulian Transformatif (GKT) se-KAJ. Ini tentu menjadi salah satu poin paling membanggakan bagi Paroki Mangga Besar atas keberhasilannya dalam menerjemahkan data menjadi aksi nyata. Hal ini dapat terlihat dari Pelaksanaan Analisis Sosial (Ansos) yang mencapai angka partisipasi yakni 96%.

Menurut Pastor Paroki Mangga Besar, Rm. Bernadus Christian Triyudo Pastowo, SJ (Romo Yudo), data Ansos ini tidak hanya berhenti di atas kertas, melainkan melahirkan GKT di beberapa kelompok kategorial dan lingkungan. Buah dari keseriusan ini telah terbukti.

”Pada bulan lalu, salah satu Lingkungan di sekitar Kampung Bandan (yang bekerjasama dengan 2 lingkungan lain di sekitarnya) di Paroki Mangga Besar berhasil meraih Juara ke-3 dalam ajang GKT tingkat Keuskupan. Prestasi ini menjadi bukti bahwa kepedulian umat Mangga Besar mampu membawa dampak nyata bagi masyarakat sekitar,” ungkapnya.

Menjaga Api dan Memberi Daya

Pencapaian-pencapaian di atas itu, sambung Romo Yudo, adalah sebuah “awal yang baik” dan sebagai bagian dari Paroki ini, kita semua patut bangga dan perlu untuk terus berpartisipasi nyata. Untuk itu, tantangan selanjutnya adalah menjaga api semangat ini agar tidak padam. Data yang rapi dan penghargaan yang diraih harus bermuara pada pendampingan yang memberi daya, sehingga Gereja sebagai persekutuan dan gerakan dapat sungguh-sungguh terwujud.

”Kita diundang untuk memastikan bahwa setiap program yang berjalan sungguh membawa pembaruan mentalitas umat—baik dalam melayani sesama maupun dalam mencintai lingkungan hidup. Proficiat untuk seluruh Dewan Paroki Harian, pengurus lingkungan, seksi, kategorial dan umat Paroki Mangga Besar. Mari terus bergerak bersama!” ucapnya.

Informasi Acara: Acara Rekoleksi DPH se-KAJ ini mengusung tema besar “Keutuhan Alam Ciptaan”, pertemuan ini menjadi momen refleksi spiritual sekaligus evaluasi karya pastoral sepanjang tahun 2025 serta arah ke depan pada tahun 2026. Sementara bagi Paroki Mangga Besar hal ini membawa semangat ganda: dorongan untuk pertobatan ekologis yang nyata lewat penerapan gaya hidup dan apresiasi atas tata kelola paroki yang semakin solid. (Penulis: Jaka Maturbongs)

Leave a comment

Go to Top