
Upacara pembabtisan dalam Misa Penerimaan Sakramen Inisiasi di Gereja St Petrus dan Paulus Mangga Besar, Minggu (19/4/2026). Foto: Jaka
JAKARTA —Dalam suasana penuh syukur Misa Penerimaan Sakramen Inisiasi di Gereja St. Petrus dan Paulus Mangga Besar, Rm. Mikael Irwan Susiananta, SJ (Romo Irwan) menyampaikan pesan kuat kepada umat. Ia mengajak setiap orang untuk tidak tinggal diam atau sekadar menjadi penonton/komentator saat melihat berbagai keprihatinan dalam kehidupan menggereja.
Keprihatinan: Cara Tuhan “Memanggil” Kita
Romo Irwan menekankan bahwa rasa prihatin yang muncul di dalam hati bukanlah sesuatu yang harus dihindari, melainkan sebuah panggilan untuk bertindak.“Kalau melihat sesuatu yang memprihatinkan dalam Gereja, ikutlah memperbaiki. Kalau melihat sesuatu yang kurang, terlibatlah,” tegasnya di hadapan umat.
Di zaman sekarang, Tuhan mungkin tidak lagi menampakkan diri secara langsung seperti di zaman para rasul. Namun, Romo Irwan menjelaskan bahwa Roh Kudus bekerja melalui pengalaman sederhana sehari-hari—termasuk melalui kepekaan hati kita saat melihat kekurangan di sekitar. Itulah tanda bahwa kita sedang dituntun untuk memberikan kontribusi.
Makna Menjadi Katolik: Percaya dan Beraksi
Menjadi anggota Gereja Katolik masa kini berarti melanjutkan kesaksian para rasul dalam bentuk iman yang nyata. Romo Irwan memberikan panduan praktis tentang bagaimana menjaga api iman tersebut tetap menyala setelah menerima sakramen:
- Konsistensi dalam Rutinitas: Iman perlu dipupuk melalui kebiasaan harian, terutama rutin mengikuti perayaan Ekaristi.
- Menjalankan 5 Perintah Gereja: Sebagai kompas dalam berkehidupan komunitas.
- Kesetiaan dalam Hidup Berkeluarga: Secara khusus, Romo Irwan mengingatkan pentingnya sakramen pernikahan Katolik bagi mereka yang belum menikah, serta menjaga kesetiaan dalam iman yang telah dipilih.
Langkah Awal Anggota Baru
Misa ini juga menjadi momen bersejarah bagi 16 orang yang menerima Sakramen Inisiasi dan 2 orang yang secara resmi diterima menjadi anggota baru Gereja Katolik.
Perayaan ini menjadi pengingat bagi seluruh umat bahwa iman tidak berhenti pada upacara penerimaan sakramen saja. Iman yang sejati justru baru dimulai saat kita berani terlibat nyata dan setia menjalani ritme kehidupan Gereja setiap hari. (Penulis: Jaka Maturbongs)











