
Pastor Paroki Mangga Besar, Rm. Bernardus Christian Triyudo Prastowo, SJ bersama Tim BP3 dalam kegiatan Pembekalan Kaderisasi I bertajuk “Spiritualitas Kepemimpinan: Menjadi Gembala Urban”, Minggu (1/3/2026). foto: jaka
JAKARTA – Gereja bukan sekadar birokrasi, dan pengurus lingkungan bukan sekadar administrator. Semangat baru ini membakar antusiasme lebih dari 200 calon pengurus lingkungan Paroki Mangga Besar dalam Pembekalan Kaderisasi I bertajuk “Spiritualitas Kepemimpinan: Menjadi Gembala Urban”, Minggu (1/3/2026).
Bertempat di Ruang Fransiskus Xaverius, Gedung Karya Pastoral (GKP) St. Paulus, acara yang diinisiasi oleh Bidang Pelatihan dan Kaderisasi (Pekat) serta Litbang (BP3) ini tampil beda. Menariknya, rekan-rekan OMK turut ambil bagian aktif dalam kepanitiaan—sebuah langkah kaderisasi nyata yang melibatkan orang muda dalam tanggung jawab strategis paroki.
Paradigma Baru: Dilatih Dahulu, Diutus Kemudian
Pastor Paroki Mangga Besar, Rm. Bernardus Christian Triyudo Prastowo, SJ (Romo Yudo), menyoroti perubahan pola pendekatan dalam regenerasi pengurus. Selama ini, banyak umat merasa “terjebak” karena ditunjuk terlebih dahulu tanpa tahu apa yang harus dilakukan, yang sering kali berujung pada penolakan atau burnout.
“Setelah kami melakukan kunjungan pastoral bersama dengan tim kunjungan pastoral (TKP) dan menganalisis kebutuhan di lapangan, ternyata umat membutuhkan pendalaman makna pelayanan, selain hal-hal praktis yang kadang menjadi beban administratif. Sekarang, lingkungan mengutus orang untuk dilatih terlebih dahulu agar mereka siap secara batin dan teknis sebelum resmi bertugas,” jelas Romo Yudo.
Keluar dari Jebakan “Administrator”
Salah satu tantangan terbesar pengurus lingkungan di kota besar adalah terjebak dalam birokrasi yang kaku (Hyper-Structure). Peran pengurus sering kali bergeser dari sosok “gembala” yang menyapa umat menjadi sekadar “juru tulis” atau “penagih iuran”.
Melalui pembekalan ini, peserta diajak untuk melangkah keluar dari zona nyaman tersebut:
- Meninggalkan Mentalitas “Bos”: Menanggalkan gaya kepemimpinan pejabat wilayah dan beralih ke teologi kerendahan hati.
- Spiritualitas Imperfeksi: Menyadari bahwa pelayanan tetap berharga meskipun dilakukan oleh pribadi yang tidak sempurna.
- Hati yang Berbau Domba Kota: Membawa Gereja keluar dari dinding bangunan untuk menyentuh kehidupan nyata masyarakat urban dengan kasih Kristus.
Teologi “Sulap”: Melayani dengan Sukacita
Suasana kelas menjadi sangat hidup saat Bapak Chrisiandy Yuniarto naik ke panggung sebagai fasilitator. Beliau menggunakan keahlian sulap untuk mengilustrasikan poin-poin spiritualitas kepemimpinan secara visual dan interaktif.
Pak Chrisiandy menekankan tiga pilar utama pelayanan:
- Syukur sebagai Dasar: Pelayanan bukan beban, melainkan kesempatan ikut serta dalam karya Allah.
- Doa sebagai Komunikasi: Pilar paling dasar adalah tetap terhubung dengan Sang Pengutus, yakni Allah sendiri.
- Vibes Sukacita: Menampilkan senyum keramahan, telinga yang siap mendengar, dan tangan yang mampu mengulurkan bantuan.
Beliau juga mengingatkan adanya mental block atau hambatan batin yang sering menghalangi seseorang untuk total dalam melayani. Di akhir sesi, sebuah pertanyaan menukik dilemparkan melalui sebuah ilustrasi film: “Terus, kapan mau melayani?”.
Film tersebut menggambarkan bagaimana seseorang selalu menunda pelayanan dengan alasan masih kecil, sibuk bekerja saat muda, hingga akhirnya saat tua dan sakit-sakitan, kerinduan melayani itu muncul namun waktu telah habis. Pesan kuatnya: jangan sampai malaikat penanya bukan lagi bertanya “kapan mau melayani?”, tetapi “kapan mau kembali ke Rumah Bapa?”.
Perjalanan Masih Berlanjut
Pertemuan perdana ini hanyalah langkah awal dari sebuah transformasi besar. Para calon pengurus masih akan dibekali dengan tiga tema besar lainnya. Pelatihan berikutnya dijadwalkan pada 19 April 2026 dengan tema yang tak kalah menarik: “Seni Merawat Persekutuan”.
Semoga dengan persiapan matang ini, lingkungan-lingkungan di Paroki Mangga Besar dipimpin oleh para gembala yang tidak hanya cakap administrasi, tetapi memiliki hati yang menyejukkan di tengah hiruk-pikuk metropolitan.
(Penulis: Jaka Maturbongs)












