Mencintai Tuhan dengan Segenap Hati, Mengasihi Sesama dalam Irama Kasih-Nya

Rm. Robertus Bambang Rudianto, SJ berpose bersama OMK usai Misa di Gereja St. Petrus dan Paulus, Paroki Mangga Besar, Sabtu (24/10/2026). Foto: Jaka


‎JAKARTA – Mencintai Tuhan tidak cukup hanya dengan pikiran dan tenaga, tetapi harus dimulai dari hati dan diwujudkan melalui kasih kepada sesama. Manusia diajak untuk terus bertumbuh secara rohani, belajar berdamai, serta menghargai setiap orang sebagai anugerah Allah. Pesan ini disampaikan Rm. Robertus Bambang Rudianto, SJ (Romo Rudi), dalam homili Misa Orang Muda Katolik (OMK) di Gereja St. Petrus dan Paulus, Paroki Mangga Besar, Sabtu (24/10/2026).
‎
‎Dalam homilinya, Romo Rudi mengajak umat merenungkan perintah Tuhan Yesus untuk mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan. Menurutnya, kasih kepada Allah perlu berawal dari hati, kemudian diwujudkan melalui seluruh aspek kehidupan manusia.
‎
‎Manusia memang tidak mampu mengasihi dengan kasih yang tak terbatas seperti Allah. Namun, keterbatasan tersebut bukan alasan untuk berhenti menanggapi panggilan-Nya. Manusia merupakan anugerah Tuhan yang diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya serta memiliki tujuan hidup untuk semakin dekat dengan Allah.
‎
‎Bertumbuh Secara Rohani di Tengah Tantangan Zaman
‎
‎Romo Rudi menjelaskan bahwa pertumbuhan rohani membutuhkan proses dan kesadaran diri. Manusia perlu belajar mengendalikan keinginan, menentukan prioritas, serta mengarahkan hidupnya kepada hal-hal yang sungguh bermakna.
‎
‎Di tengah perkembangan teknologi digital, penggunaan media sosial dan berbagai tayangan hiburan dapat menyita perhatian serta waktu. Karena itu, orang muda perlu belajar mengendalikan rasa ingin tahu, membatasi keinginan, dan memprioritaskan kebutuhan.
‎
‎Ia juga mengingatkan pentingnya doa, refleksi, meditasi Kristiani, dan Ekaristi sebagai sarana untuk mengenali diri sendiri serta mendengarkan orang lain. Melalui proses tersebut, seseorang diharapkan semakin menyadari kekurangan dirinya, terbuka terhadap masukan, dan mampu bertumbuh dalam kehidupan rohani.
‎
‎Menurutnya, proses pendewasaan tidak mengenal kata terlambat. Setiap orang selalu memiliki kesempatan untuk belajar mengasihi, memperbaiki diri, dan membangun relasi yang lebih baik dengan sesama.
‎
‎Rekonsiliasi Dimulai dari Hati
‎
‎Untuk menjelaskan pentingnya kasih dan perdamaian, Romo Rudi membagikan pengalamannya mendampingi dua mahasiswa yang bertengkar selama beberapa waktu. Perselisihan tersebut bahkan melibatkan keluarga, teman-teman, dan pihak kampus.
‎
‎Dalam proses pendampingan, ia mengajak keduanya untuk duduk berdekatan, berpegangan tangan, dan berpelukan. Awalnya, mereka merasa canggung karena hubungan pertemanan yang sebelumnya akrab telah berubah akibat pertengkaran.
‎
‎Namun, perlahan-lahan, keduanya mulai membuka hati. Ketika diajak merasakan kehadiran Allah melalui sesamanya, mereka mulai menangis dan mengenang kembali persahabatan yang pernah terjalin.
‎
‎Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa di balik kemarahan, manusia tetap memiliki kemampuan untuk mengasihi dan berdamai.
‎
‎Romo Rudi menegaskan bahwa rekonsiliasi tidak cukup hanya dengan penyelesaian formal atau kesepakatan tertulis. Perdamaian membutuhkan komitmen yang lahir dari hati, disertai kesediaan untuk memperbaiki hubungan dan kembali berjalan bersama.
‎
‎Menari dalam Irama Tuhan
‎

‎Pada bagian akhir homilinya, Romo Rudi menggunakan ilustrasi video yang menampilkan orang-orang dengan keunikan masing-masing memainkan musik hingga menghasilkan melodi bersama.
‎
‎Dalam video tersebut, orang-orang yang awalnya sibuk dengan kegiatan masing-masing perlahan-lahan memberikan perhatian kepada irama musik. Satu demi satu bergabung dan membawa keunikannya hingga tercipta kebersamaan yang indah.
‎
‎Melalui ilustrasi itu, Romo Rudi menghubungkan kata guidance (bimbingan) dengan dance (tarian), serta ungkapan God, You, and I—Tuhan, engkau, dan aku.
‎
‎Ia mengajak umat memahami kehidupan sebagai sebuah tarian yang membutuhkan bimbingan Tuhan. Ketika manusia hanya mengikuti keinginan dan kepentingannya sendiri, relasi dapat diwarnai gosip, hoaks, kecemburuan, dan pertengkaran. Sebaliknya, ketika Tuhan menjadi pusat kehidupan, perbedaan dapat dirajut menjadi kebersamaan yang membawa sukacita.
‎
‎Setiap orang memiliki keunikan dan cara masing-masing, tetapi semuanya dapat mengambil bagian dalam satu irama kasih. Kebersamaan tersebut tidak dibangun melalui paksaan, melainkan melalui pengalaman kasih yang menggembirakan, mendalam, dan meneguhkan.
‎
‎Menutup homilinya, Romo Rudi mengajak OMK dan seluruh umat untuk terus mengagumi Allah melalui sesama, termasuk tetangga dan orang-orang yang belum dikenal.
‎
‎Dengan melihat sesama sebagai anugerah Tuhan, umat diajak untuk semakin menghormati, mengasihi, dan membangun relasi yang membawa kedamaian. Dengan demikian, kasih kepada Allah tidak berhenti sebagai ungkapan iman, tetapi menjadi nyata dalam tindakan sehari-hari, terutama melalui kesediaan untuk berdamai dan menghadirkan sukacita dalam kehidupan bersama.
‎
‎(Penulis: Jaka Maturbongs)

Leave a comment