
Kegiatan Pembekalan Kaderisasi di Ruang Fransiskus Xaverius, GKP Paulus, Minggu (19/2/2026). Foto: Jaka
JAKARTA — Pastor Paroki St. Petrus dan Paulus Mangga Besar, Rm. Bernadus Christian Triyudo Prastowo, SJ (Romo Yudo), menegaskan bahwa pelayanan merupakan sebuah panggilan yang harus disadari sepenuhnya oleh setiap pelayan. Hal ini beliau sampaikan dalam penutupan kegiatan Pembekalan Kaderisasi II, Minggu (19/2/2026).
Romo Yudo menekankan bahwa ketika seseorang menanggapi panggilan Tuhan, fokusnya bukan lagi pada kapasitas diri sendiri, melainkan pada keterbukaan akan tuntunan Roh Kudus. “Pelayanan adalah sebuah panggilan. Karena ini adalah panggilan, maka doanya bukan lagi tentang apakah aku layak atau tidak, melainkan: ‘Utuslah aku ke mana pun Tuhan mau,’” ungkapnya.
Lebih lanjut, beliau mengingatkan bahwa keberhasilan regenerasi sangat bergantung pada atmosfer yang diciptakan oleh para senior. “Anak muda akan senang datang untuk melayani ketika ada suasana yang mendukung. Jadi, tugas kita pertama-tama adalah menghadirkan suasana itu dan ikut serta mendidik mereka,” tambahnya. Arah pelayanan paroki ke depan pun difokuskan pada penguatan semangat hospitalitas dan sinodalitas dalam kehidupan menggereja.
Menerjemahkan Panggilan Menjadi Aksi Nyata
Namun, semangat panggilan dan visi tentang gereja yang ramah tersebut tentu memerlukan bekal keterampilan yang nyata agar dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan. Menjawab kebutuhan tersebut, kegiatan yang berlangsung di Ruang Fransiskus Xaverius, Gedung Karya Pastoral (GKP) Paulus lantai 3 ini, mendalami tema: “Manajemen Manusia dan Regenerasi: Seni Merawat Persekutuan.”
Sebagai narasumber, Chrisiandy Yuniarto dari Komisi Kateketik (Komkat) KAJ memaparkan materi yang sangat aplikatif. Ia menekankan bahwa merawat persekutuan membutuhkan keseimbangan antara komunikasi yang baik dan kepercayaan yang kokoh. Untuk membantu para calon pelayan bergerak lebih efektif, ia membagikan lima prinsip pelayanan pintar:
- Awali dengan doa: Menyadari bahwa pelayanan adalah karya Tuhan, maka harus dimulai dengan dialog bersama-Nya.
- Mau atau tidak mau: Fokus utama pelayanan bukan pada “bisa atau tidak bisa”, melainkan pada kesediaan hati dan komitmen.
- Cara yang berbeda: Untuk menghasilkan pelayanan yang luar biasa, diperlukan keberanian untuk menggunakan pendekatan yang berbeda dan segar.
- Fokus pada tujuan: Segala dinamika dalam organisasi harus selalu dikembalikan pada tujuan utama pelayanan.
- Pantang menyerah: Bila menemui kegagalan, jangan berhenti; coba lagi dengan cara yang berbeda.
Langkah Nyata Kaderisasi
Pembekalan tahap kedua ini merupakan kelanjutan dari Pembekalan Kaderisasi I bertajuk “Spiritualitas Kepemimpinan: Menjadi Gembala Urban” yang sebelumnya diikuti oleh 200 calon pengurus. Rangkaian kegiatan ini diinisiasi oleh Bidang Pelatihan dan Kaderisasi (Pekat) bersama Litbang (BP3).
Satu hal yang menarik dalam kegiatan ini adalah keterlibatan aktif rekan-rekan Orang Muda Katolik (OMK) dalam kepanitiaan. Langkah ini menjadi bukti nyata proses kaderisasi yang berjalan, di mana orang muda mulai diberi kepercayaan dalam tanggung jawab strategis di paroki—sejalan dengan pesan Romo Yudo untuk menghadirkan “suasana” bagi generasi penerus.
Melalui pembekalan ini, para peserta diharapkan mampu mengelola dinamika komunitas dengan lebih bijaksana serta mempersiapkan generasi pelayan yang tangguh dan memiliki komitmen mendalam bagi sesama.(Penulis: Jaka Maturbongs)













1 Comment
Irke
Kerennn!!