Skip to content Skip to footer

Pengurus OMK Periode 2026–2029 Dilantik, Romo Yudo: Bertumbuh Bersama dan Saling Merawat

Pelantikan Pengurus OMK St. Petrus dan Paulus Paroki Mangga Besar dalam Misa Minggu, (19/7/2026). Foto: Jaka

JAKARTA – Orang Muda Katolik (OMK) Paroki St. Petrus dan Paulus Mangga Besar memasuki babak baru pelayanannya dengan dilantiknya Pengurus OMK Periode 2026–2029 dalam Perayaan Ekaristi pada Minggu (19/7/2026) di Gereja Santo Petrus dan Paulus Mangga Besar. Perayaan ini menjadi momen istimewa karena selain pelantikan pengurus baru, Misa juga dihadiri oleh kelompok Umat Berkebutuhan Khusus (UBK) yang bersama-sama mengambil bagian dalam perayaan iman. Seusai Misa, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan Temu Bersama OMK sebagai wadah membangun keakraban dan semangat pelayanan di antara orang muda.

‎Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Pastor Paroki, Rm. Bernardus Christian Triyudo Prastowo, SJ. Dalam homilinya, Romo Yudo mengajak seluruh umat, terutama para pengurus OMK yang baru dilantik, untuk menolak sikap mudah menghakimi dan menumbuhkan semangat saling mendampingi dalam kasih.

‎Menolak Budaya Menghakimi

‎Mengawali homilinya, Romo Yudo menyampaikan kisah ringan tentang seorang sopir bernama “Paimin”—tentu bukan nama sebenarnya—yang terpancing emosi setelah hampir diserempet seorang pengendara motor. Dalam kemarahannya, Paimin bahkan berharap ban motor pengendara tersebut kempes di jalan.

‎Namun sang ibu yang duduk di sampingnya mengingatkan bahwa pengendara itu ternyata adalah agen gas dan galon langganan keluarga mereka. Seketika doa Paimin berubah. Ia tidak lagi berharap keburukan terjadi, melainkan memohon agar Tuhan melindungi perjalanan orang tersebut.

‎Melalui kisah sederhana itu, Romo Yudo mengajak umat menyadari bahwa manusia sering kali terburu-buru menghakimi tanpa mengetahui keseluruhan situasi yang dialami orang lain.

‎”Kita sangat mudah emosional, sangat cepat menghakimi orang, dan gampang sekali ingin menyingkirkan orang-orang yang berbuat salah. Di dunia nyata maupun di media sosial, kita sering kali begitu mudah melakukan cancel culture tanpa memikirkan akibatnya,” ungkapnya.

‎Belajar dari Perumpamaan Gandum dan Lalang

‎Mengaitkan kisah tersebut dengan Injil Matius tentang gandum dan lalang, Romo Yudo menjelaskan bahwa para hamba ingin segera mencabut lalang yang tumbuh di antara gandum. Namun sang pemilik ladang justru melarangnya karena khawatir gandum ikut tercabut.

‎Menurutnya, ada tiga pesan penting yang dapat dipetik dari bacaan hari itu.

‎Pertama, manusia sering kali hanya melihat dari satu sudut pandang. Seperti gandum dan lalang yang masih muda tampak hampir sama, demikian pula kehidupan manusia yang tidak selalu dapat dinilai hanya dari penampilan atau satu kesalahan yang dilakukan.

‎”Bisa saja ketika kita buru-buru mencabut lalang, justru gandumnya yang ikut tercabut. Demikian pula ketika kita terburu-buru menghakimi seseorang, kita bisa menghancurkan benih-benih kebaikan yang sedang bertumbuh di dalam dirinya,” jelasnya.

‎Allah Selalu Memberi Kesempatan

‎Pesan kedua yang ditekankan Romo Yudo adalah bahwa Allah tidak pernah meng-cancel umat-Nya.

‎Mengutip bacaan dari Kitab Kebijaksanaan, ia menegaskan bahwa Allah adalah Hakim yang penuh belas kasih. Meskipun berkuasa atas segala sesuatu, Allah selalu memberi kesempatan kepada manusia untuk bertobat dan berubah.

‎”Tuhan adalah Allah yang merangkul proses. Ia sabar menunggu manusia bertumbuh dan tidak pernah terburu-buru menghukum,” katanya.

‎Karena itu, setiap orang beriman dipanggil untuk memiliki kesabaran yang sama dalam mendampingi sesama, terutama mereka yang sedang berjuang keluar dari kelemahan dan kesalahannya.

‎Rendah Hati Menyadari Kelemahan Diri

‎Pesan ketiga, lanjut Romo Yudo, adalah ajakan untuk bercermin kepada diri sendiri.

‎Sering kali seseorang merasa dirinya adalah “gandum”, padahal setiap orang memiliki kelemahan dan dosa. Karena itu, umat diajak tetap rendah hati dan membuka diri terhadap karya Roh Kudus yang senantiasa membantu manusia dalam kelemahannya.

‎Menjadi Komunitas yang Saling Menguatkan

‎Secara khusus kepada para pengurus OMK yang baru dilantik, Romo Yudo mengajak agar kepengurusan yang baru menjadi komunitas yang saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan.

‎Mengutip doa dalam Puji Syukur Nomor 139, ia mengingatkan umat untuk mengingat mereka yang belum berhasil dan tidak membiarkan siapa pun kehilangan harapan.

‎Karena itu, ketika ada teman yang sedang mengalami kegagalan dalam studi, pekerjaan, maupun pelayanan di Gereja, para pengurus OMK diminta untuk tidak buru-buru memberi cap negatif, mengucilkan, ataupun menggosipkannya. Sebaliknya, mereka dipanggil menjadi support system yang menghadirkan penghiburan, pendampingan, dan kesempatan bagi sesama untuk bangkit kembali.

‎”Tugas kita bukan mengumpulkan lalang. Itu menjadi hak Tuhan. Tugas kita adalah bertumbuh bersama dan saling merawat dengan penuh kasih,” tegas Romo Yudo.

‎Usai Perayaan Ekaristi, sukacita pelantikan berlanjut dalam Temu Bersama OMK yang diikuti oleh orang muda paroki. Kegiatan ini menjadi sarana untuk mempererat persaudaraan, membangun komunikasi antarpengurus dan anggota OMK, serta meneguhkan semangat pelayanan selama masa bakti 2026–2029. Kehadiran kelompok Umat Berkebutuhan Khusus (UBK) dalam perayaan Ekaristi juga menjadi wujud nyata Gereja yang terbuka, inklusif, dan merangkul semua umat tanpa membeda-bedakan.

‎Melalui pelantikan ini, Pengurus OMK Periode 2026–2029 diharapkan mampu menghadirkan semangat pelayanan yang berakar pada kasih Kristus, menjadi sahabat bagi sesama orang muda, serta membangun komunitas yang saling menerima, saling menguatkan, dan bertumbuh bersama dalam iman.

‎(Penulis: Jaka Maturbongs)


Leave a comment