Romo Yudo: Jalan Kecil dan Sederhana Menjadi Jalan Menuju Kekudusan

Misa Pembukaan Bulan Rosario sekaligus peringatan Pesta Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus atau Santa Theresia Lisieux di Gereja St. Petrus dan Paulus, Paroki Mangga Besar, Kamis (1/10/2026). Foto: Kenneth


‎JAKARTA – Misa Pembukaan Bulan Rosario sekaligus peringatan Pesta Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus atau Santa Theresia Lisieux dirayakan di Gereja St. Petrus dan Paulus, Paroki Mangga Besar, Kamis (1/10/2026). Dalam homilinya, Rm. Bernardus Christian Triyudo Prastowo, SJ (Romo Yudo), mengajak umat untuk memilih jalan kecil dan sederhana sebagai jalan menghadirkan kasih serta rahmat keselamatan Allah.
‎
‎Meneladani Jalan Kecil Santa Theresia
‎

‎Romo Yudo mengatakan, salah satu hal yang dapat dikenang dari Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus adalah pilihannya untuk menempuh “jalan kecil” dalam membagikan kasih dan cinta Allah.
‎
‎“Jalan kecil, jalan sederhana, terutama dalam mendatangkan rahmat keselamatan,” ujar Romo Yudo.
‎
‎Menurutnya, melalui hal-hal sederhana yang dilakukan dengan kasih, rahmat Allah dapat menjadi besar bagi orang-orang yang menerimanya. Karena itu, Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus dikenal sebagai pelindung misi.
‎
‎Romo Yudo kemudian mengaitkan jalan kecil tersebut dengan pemahaman tentang kekudusan yang disampaikan Paus Fransiskus. Kekudusan, menurutnya, bukan sesuatu yang besar dan jauh dari kehidupan manusia, melainkan hadir dalam jalan sehari-hari yang dijalani dengan cinta yang besar.
‎
‎Kekudusan dalam Kehidupan Sehari-hari
‎

‎Romo Yudo memberikan contoh sederhana tentang kehidupan keluarga. Ketika seseorang merawat anak, ia tidak hanya melihat anak sebagai anak biologis, tetapi sebagai anugerah Tuhan yang dipercayakan untuk dirawat.
‎
‎Karena itu, orang tua dipanggil untuk menumbuhkan iman anak sekaligus memberikan teladan hidup. Hal-hal sederhana tersebut, menurut Romo Yudo, merupakan bagian dari jalan kekudusan.
‎
‎Demikian pula dalam dunia pekerjaan. Keberanian untuk memilih tidak melakukan korupsi merupakan salah satu bentuk nyata dari jalan kekudusan.
‎
‎“Jalan kekudusan itu bukan hanya soal banyak berdoa, banyak berpuasa. Tetapi pilihan-pilihan kita pada hal-hal kecil yang setiap hari kita hadapi dan kita jalani,” jelasnya.
‎
‎Belajar dan Terus Bertumbuh
‎
‎Pesan mengenai jalan kecil tersebut juga tampak dalam bacaan Injil. Ketika para murid bertanya mengenai siapa yang terbesar dalam Kerajaan Surga, Yesus tidak menunjuk orang yang dianggap besar atau orang yang banyak melakukan hal-hal luar biasa.
‎
‎Yesus justru memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah para murid.
‎
‎Romo Yudo menjelaskan, menjadi seperti anak kecil bukan berarti seseorang harus kembali menjadi anak secara fisik. Sebaliknya, hal tersebut menunjuk pada sikap rendah hati, mau belajar, dan terus bertumbuh.
‎
‎“Jangan jatuh hanya pada, ‘Aduh, saya salah, ya sudah.’ Saya jatuh di sini sajalah, menyerah dan lain-lain. Tetapi mau bertumbuh. Saya sadar saya salah dan saya mau untuk berbenah,” ungkapnya.
‎
‎Menurutnya, kesadaran untuk mengakui kesalahan dan kemauan untuk memperbaiki diri merupakan bagian dari perjalanan menuju kekudusan.
‎
‎Mengakhiri homilinya, Romo Yudo mengajak umat untuk memohon berkat Tuhan agar mampu menemukan dan menjalani jalan-jalan kecil dalam kehidupan sehari-hari.
‎
‎Melalui pilihan-pilihan sederhana yang dilakukan dengan cinta, umat diharapkan mampu menghadirkan kasih Allah sekaligus menjadi jalan bagi rahmat keselamatan bagi orang-orang di sekitarnya.
‎
‎(Penulis: Jaka Maturbongs)

Leave a comment