Skip to content Skip to footer

Sabda yang Menjawab Kegelisahan Zaman Jadi Tema Pembekalan Fasilitator BKS

Ketua Seksi Kerasulan Kitab Suci Paroki Mangga Besar, Yoana Valois Vivi membawakan materi dalam Pembekalan BKS 2026, Rabu (26/8/2026). Foto: Jaka

JAKARTA – Seksi Kerasulan Kitab Suci (KKS) Gereja St. Petrus dan Paulus Paroki Mangga Besar melanjutkan Pembekalan Fasilitator Bulan Kitab Suci (BKS) 2026, Rabu (26/8/2026). Pembekalan ini merupakan pertemuan kedua setelah sebelumnya dilaksanakan pada 12 Agustus 2026.

‎Mengangkat tema BKSN 2026, “Sabda yang Menjawab Kegelisahan Zaman,” pembekalan dipersiapkan untuk membekali para fasilitator yang akan mendampingi umat dalam pendalaman Kitab Suci di lingkungan-lingkungan.

‎Kegiatan berlangsung pukul 19.00–21.00 WIB di Aula F.X., Gedung Karya Pastoral (GKP) Paulus, Lantai 3. Pertemuan kedua ini secara khusus membahas Subtema 3 dan 4, dengan materi yang dibawakan oleh Ketua Seksi Kerasulan Kitab Suci Gereja St. Petrus dan Paulus Paroki Mangga Besar, Yoana Valois Vivi dan Koordinator Bidang Pewartaan, Doktrina Prilanerry

‎Sementara itu, pada pertemuan pertama, Rabu (12/8/2026), para fasilitator telah mendapatkan pembekalan Subtema 1 dan 2, yakni “Sabda: Peneguh di Tengah Ketidakpastian” berdasarkan Matius 6:25-34 dan “Sabda: Pembebas dari Belenggu Ketidakadilan” berdasarkan Lukas 4:16-21.

‎Dengan demikian, seluruh rangkaian pembekalan mencakup empat subtema BKS 2026.

‎Sabda Pemersatu di Era Perpecahan

‎Pada pertemuan kedua, Subtema 3 mengangkat “Sabda: Pemersatu di Era Perpecahan” berdasarkan Efesus 2:12-19 dibawakan oleh Yoana Valois Vivi.


‎Para fasilitator diajak melihat realitas perpecahan di tengah masyarakat, termasuk polarisasi, sentimen agama, serta perbedaan etnis dan golongan yang dapat menjadi tembok pemisah antarmanusia.

‎Melalui Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus, peserta diajak memahami bahwa Kristus adalah “damai sejahtera kita” yang merobohkan tembok pemisah dan menciptakan persatuan.

‎Sabda Allah mendorong umat untuk membangun rekonsiliasi dan dialog di tengah perbedaan. Persatuan tidak cukup diwujudkan melalui kata-kata, tetapi perlu hadir dalam tindakan nyata melalui solidaritas, empati, dan ruang perjumpaan dengan mereka yang berbeda.

‎Sabda Pengharapan untuk Masa Depan

‎Sementara itu Doktrina Prilanerry membawakan Subtema 4 mengangkat “Sabda: Pengharapan untuk Masa Depan” berdasarkan Wahyu 21:1-5.

‎Peserta diajak merefleksikan kegelisahan manusia terhadap masa depan di tengah berbagai persoalan seperti perubahan iklim, perang, kelaparan, dan berbagai ancaman lainnya.

‎Melalui gambaran tentang langit baru dan bumi baru, Sabda Allah memberikan pengharapan bahwa masa depan berada dalam tangan Tuhan. Pernyataan “Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru” menjadi dasar keyakinan bahwa Allah membawa pembaruan dan pada akhirnya mengalahkan penderitaan.

‎Pengharapan tersebut tidak membuat umat beriman pasif. Sebaliknya, umat dipanggil untuk tetap setia dan menjadi saksi Kerajaan Allah dalam kehidupan sehari-hari.

‎Sabda yang Menjawab Kegelisahan Zaman

‎Dalam kesimpulannya, ditegaskan bahwa keempat subtema BKS 2026 menunjukkan relevansi Sabda Allah dalam menjawab berbagai kegelisahan manusia. Sabda memberikan kekuatan ketika menghadapi ketidakpastian, pembebasan ketika terjadi ketidakadilan, persatuan di tengah perpecahan, serta pengharapan ketika manusia menghadapi ketakutan akan masa depan.

‎Karena itu, Sabda Allah tidak hanya untuk didengarkan, tetapi perlu dihidupi dalam tindakan nyata. Umat dipanggil untuk mengandalkan pemeliharaan Allah, membela mereka yang tertindas, menjadi pembawa persatuan, serta tetap berpegang pada pengharapan.

‎Melalui dua kali pembekalan ini, para fasilitator dipersiapkan untuk membantu umat menghubungkan Sabda Allah dengan pengalaman dan persoalan konkret kehidupan. Dengan demikian, tema “Sabda yang Menjawab Kegelisahan Zaman” tidak berhenti sebagai materi pendalaman, tetapi dapat diwujudkan dalam kehidupan umat sehari-hari.

‎(Penulis: Jaka Maturbongs)

Leave a comment