
Misa Peringatan Arwah Semua Orang Beriman, Senin (2/11/2026). Foto: Feli
JAKARTA – Gereja St. Petrus dan Paulus, Paroki Mangga Besar, menggelar Misa Peringatan Arwah Semua Orang Beriman pada Senin (2/11/2026). Dalam homilinya, Rm. Bernardus Christian Triyudo Prastowo, SJ (Romo Yudo), mengajak umat untuk terus mengasihi dan mendoakan orang-orang terkasih yang telah meninggal dunia.
Mengangkat tema “Tidak Ada yang Hilang”, Romo Yudo menegaskan bahwa kematian tidak memutus hubungan kasih antara mereka yang masih hidup dan yang telah meninggal. Kasih itu tidak berakhir, tetapi berubah bentuk menjadi doa.
Kematian Tidak Memutus Relasi Kasih
Mengawali homili, Romo Yudo menceritakan kisah seorang ibu yang selama sepuluh tahun rutin mengunjungi makam suaminya. Ia selalu duduk di samping nisan dan berbicara selama satu hingga dua jam. Ketika ditanya penjaga makam tentang kesetiaannya, ibu tersebut menjawab dengan humor bahwa semasa hidup suaminya, ia tidak pernah diberi kesempatan berbicara sampai selesai.
Di balik cerita tersebut, Romo Yudo mengajak umat melihat bahwa meskipun seseorang telah meninggal, relasi dan kasih tidak serta-merta terputus. Orang yang telah tiada memang tidak lagi terlihat, tetapi kenangan, kepedulian, dan kasih tetap ada.
Mereka Tidak Hilang di Mata Tuhan
Mengacu pada Injil Yohanes 6:37-40, Romo Yudo mengutip perkataan Yesus: “Supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang.”
Ia menjelaskan bahwa manusia mungkin merasa kehilangan orang-orang yang dikasihi, seperti papa, mama, atau anak. Namun, di mata Tuhan, mereka tidak hilang karena tetap berada dalam tangan-Nya. Kebangkitan Kristus menjadi jaminan bahwa jalan menuju kehidupan kekal telah dibuka bagi mereka yang menjadi milik-Nya.
Kasih kepada Arwah Diteruskan melalui Doa
Selanjutnya, Romo Yudo menjelaskan pentingnya doa bagi arwah melalui kisah Yudas Makabe dalam bacaan pertama (2 Makabe 12:43-46). Setelah pertempuran, Yudas Makabe mengumpulkan dua ribu dirham perak untuk mempersembahkan kurban bagi para prajurit yang gugur karena percaya akan kebangkitan.
Menurutnya, dari tradisi tersebut Gereja memahami pentingnya mendoakan arwah. Gereja percaya akan adanya penahiran setelah kematian, yaitu api penyucian, ketika Allah dengan penuh kasih memurnikan jiwa sampai siap memandang wajah-Nya.
Umat yang masih hidup dapat membantu melalui doa, Ekaristi, dan amal kasih. Karena itu, kasih kepada orang yang telah meninggal tidak perlu berhenti.
Romo Yudo mengajak umat untuk menyebut nama orang-orang yang telah meninggal satu per satu dalam doa, mempersembahkan intensi Misa, serta tidak sekadar membersihkan makam ketika berziarah, tetapi juga mendoakan mereka. Bahkan, umat diajak mendoakan arwah yang mungkin sudah tidak lagi didoakan oleh siapa pun.
“Kematian memutus napas, tetapi tidak memutus kasih. Kasih kita kepada mereka hanya berganti bentuk. Dulu kasih itu berupa mengantar mama ke dokter, memijat kaki papa, menelepon oma setiap Minggu. Sekarang kasih yang sama itu menjadi doa,” pesannya.
Doa Menjadi Penghiburan bagi Mereka yang Telah Meninggal
Menutup homili, Romo Yudo kembali menyampaikan sebuah cerita tentang seorang anak kecil yang membawa sebotol air dingin ketika berziarah ke makam opanya. Anak tersebut ingin menyiramkan air ke makam karena mengira opa membutuhkan air dingin saat berada di api penyucian.
Ketika dijelaskan oleh ibunya bahwa opa tidak membutuhkan air dingin, melainkan doa, anak itu akhirnya mengerti. Namun, ia kemudian mengatakan bahwa air tersebut sebaiknya diberikan kepada papanya karena menurut papanya, ia juga sedang berada di api penyucian setiap tanggal tua.
Cerita tersebut mengundang tawa umat, sekaligus menjadi penegasan bahwa orang-orang yang telah meninggal tidak membutuhkan hal-hal duniawi, melainkan doa dari keluarga dan orang-orang yang masih hidup.
Mengakhiri homilinya, Romo Yudo mengingatkan umat agar tidak berhenti mengasihi mereka yang telah mendahului.
“Mereka tidak hilang. Mereka ada di tangan Tuhan. Maka jangan berhenti mengasihi mereka. Teruskan kasih itu dalam doa.”
Pesan ini menjadi pengingat bahwa peringatan Arwah Semua Orang Beriman bukan hanya kesempatan mengenang mereka yang telah meninggal, tetapi juga mengungkapkan kasih melalui doa dan pengharapan akan kebangkitan.
(Penulis: Jaka Maturbongs)



