Skip to content Skip to footer

SAMBER, Gerakan Umat yang Sulap Sampah Jadi Nilai Ekologis dan Ekonomis

Kegiatan Bank Sampah SAMBER di Paroki Mangga Besar belum lama ini. Foto: Jaka

JAKARTA — Persoalan sampah di Indonesia, khususnya di ibu kota, menjadi tantangan serius baik dari sisi sosial maupun ekonomi. Produksi sampah di Jakarta mencapai lebih dari 7.800 ton per hari yang bermuara di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi. Dengan volume tersebut, TPST Bantargebang bahkan sempat diprediksi tidak mampu lagi menampung sampah karena kelebihan kapasitas.

Situasi ini tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh masyarakat, termasuk umat Katolik. Menanggapi hal tersebut, Keuskupan Agung Jakarta sejak 2016 mencanangkan Gerakan Silih Ekologis (Sileko) sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan hidup. Gerakan ini diwujudkan melalui aksi nyata seperti menanam pohon, memilah dan mengolah sampah, serta gerakan Pantikfoam (pantang plastik dan Styrofoam).

Komitmen tersebut semakin ditegaskan pada Tahun Keadilan Sosial 2020, di mana Keuskupan Agung Jakarta mengajak paroki, sekolah Katolik, dan komunitas untuk bersama-sama merumuskan persoalan sampah dan menjadikannya gerakan bersama.

Inisiatif dari Paroki Mangga Besar

“Pembentukan Bank Sampah ‘SAMBER’ ini menjadi langkah konkret umat dalam menjawab panggilan Gereja untuk menjaga lingkungan hidup sekaligus membangun kebiasaan baru dalam mengelola sampah,” ujar Jeny Triratna Dewi selaku inisiator.

“Ini bukan hanya soal mengurangi sampah, tetapi bagaimana kita mengubah cara pandang bahwa sampah bisa menjadi sesuatu yang bernilai dan membawa berkat bagi sesama,” lanjutnya.

Menjawab ajakan tersebut, Gereja St Petrus dan Paulus, Paroki Mangga Besar mengambil langkah konkret melalui pembentukan Bank Sampah “SAMBER” (Sampah Menjadi Berkah). Gagasan ini berawal dari inspirasi Pastor Paroki Mangga Besar, Rm. Agustinus Purwantoro, SJ atau yang akrab disapa Romo Ipong SJ, setelah melihat pengelolaan sampah anorganik dalam bentuk bank sampah di Paroki Keluarga Kudus, Rawamangun, Jakarta, pada pertengahan 2019.

Inspirasi tersebut kemudian disampaikan kepada beberapa anggota Legio Maria Paroki St Petrus dan Paulus Mangga Besar. Sebagai kelompok yang siap melaksanakan perutusan gereja, Legio Maria menyatakan kesanggupannya untuk menjalankan program tersebut. Penugasan ini secara resmi diumumkan dalam Rapat Karya (RAKA) Paroki pada Oktober 2019, dengan pelaksanaan yang melibatkan kolaborasi bersama Wilayah Pangeran Jayakarta (Wilayah 3).

Berbagai persiapan pun dilakukan, mulai dari studi banding ke paroki lain seperti Rawamangun dan Slipi, pengurusan perizinan, hingga penyediaan sarana dan mekanisme kerja. Berkat dukungan Dewan Paroki Harian (DPH), Bank Sampah “SAMBER” akhirnya resmi berdiri dengan Surat Keputusan dari Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat Nomor 02 Tahun 2020 tertanggal 8 Januari 2020.

Cara Kerja dan Pelaksanaan

“Keberhasilan ‘SAMBER’ sangat bergantung pada konsistensi umat dalam memilah sampah sejak dari rumah serta semangat kebersamaan dalam menjalankan gerakan ini,” tambah Jeny, yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Bank Sampah.

“Kalau kebiasaan ini sudah terbentuk di keluarga, maka dampaknya akan besar, tidak hanya bagi lingkungan tetapi juga bagi kehidupan umat sendiri,” sambungnya.

Bank Sampah “SAMBER” mengandalkan partisipasi aktif umat. Mekanismenya sederhana: umat memilah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah atau sekolah, kemudian sampah anorganik dikumpulkan melalui lingkungan atau kelompok kategorial. Selanjutnya dilakukan penimbangan di paroki sesuai jadwal, dan hasil penjualan sampah didistribusikan kembali kepada lingkungan atau komunitas sesuai jumlah setoran.

Adapun beberapa item sampah yang dapat dijual melalui Bank Sampah antara lain sampah berbahan plastik seperti botol bekas, tutup botol, dan ember bekas. Selain itu, sampah berbahan besi atau aluminium seperti kaleng, panci bekas, besi tua, dan sejenisnya juga dapat dikumpulkan. Tidak ketinggalan, sampah berbahan kertas seperti kardus dan buku bekas turut menjadi bagian dari pengelolaan di Bank Sampah “SAMBER”.

Kegiatan ini pertama kali diperkenalkan melalui soft launching pada perayaan HUT ke-80 Paroki Mangga Besar, 5 Januari 2020. Kegiatan perdana dilaksanakan pada 22 Februari 2020, berdekatan dengan Hari Peduli Sampah Nasional.

Meskipun sempat diragukan di awal, partisipasi umat ternyata cukup tinggi. Pada kegiatan perdana tersebut, terkumpul 1,73 ton sampah anorganik dengan nilai sekitar Rp2.830.000. Dana ini sepenuhnya dikembalikan kepada lingkungan dan kelompok kategorial untuk mendukung kegiatan seperti ziarah, aksi solidaritas, dan kegiatan sosial lainnya.

Namun, pandemi Covid-19 sempat menghentikan kegiatan ini pada Maret 2020. Meski demikian, semangat memilah sampah tetap digaungkan di tingkat keluarga. Setelah situasi membaik, kegiatan Bank Sampah “SAMBER” kembali berjalan sejak 12 Maret 2023 hingga April 2026 di bawah koordinasi Sub Seksi Lingkungan Hidup Paroki.

Sementara itu, Ketua Bank Sampah SAMBER Paroki Mangga Besar, Petrus Juwinto, mengatakan bahwa kegiatan yang diadakan sekali dalam sebulan ini telah dirasakan manfaatnya oleh umat paroki. Tidak hanya dari sisi ekologis, tetapi juga dari sisi ekonomi, sementara partisipasi umat dinilai cukup aktif.

“Sejauh ini paroki sangat mensupport dan kami juga bekerja sama dengan pemerintah dalam hal ini Kecamatan Taman Sari. Tanggapan umat juga sangat positif karena ini sangat membantu,” ungkapnya.

Meski demikian, ia mengakui terdapat kendala yang kerap dihadapi, seperti adanya selisih antara jumlah sampah yang ditimbang dan data dari pihak kecamatan. Untuk mengatasi hal tersebut, pihak pengelola Bank Sampah SAMBER berkomitmen menutupi selisih tersebut agar tidak ada umat yang dirugikan.

Manfaat Nyata bagi Umat

Keterlibatan dalam Bank Sampah “SAMBER” membawa dampak positif, tidak hanya bagi lingkungan tetapi juga bagi kehidupan umat. Kebiasaan mengurangi, memilah, dan mendaur ulang sampah perlahan menjadi gaya hidup di keluarga dan lingkungan.

Selain itu, hasil pengumpulan dana dari sampah juga dirasakan manfaatnya oleh umat. Beberapa wilayah seperti Pangeran Jayakarta – St. Albertus dan Mangga Dua Kota – St. Faustina memanfaatkan dana tersebut untuk kegiatan ziarah, membantu umat yang sakit, hingga mendukung perayaan Natal wilayah.

Seruan untuk Terus Peduli

Keberadaan Bank Sampah “SAMBER” menjadi salah satu wujud nyata kepedulian umat terhadap lingkungan hidup, sejalan dengan seruan Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si’. Hal ini juga sejalan dengan ajakan Uskup Keuskupan Agung Jakarta, Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo, yang menegaskan pentingnya mengubah cara pandang terhadap sampah.

“Sudah saatnya kita adil terhadap lingkungan. Ubah cara berpikir tentang sampah—bukan untuk dibuang, tetapi diolah agar menjadi berkat,” demikian pesannya.

Melalui gerakan ini, Paroki St Petrus dan Paulus Mangga Besar menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari langkah sederhana, namun berdampak besar bagi kehidupan bersama. (Penulis: Jaka Maturbongs)

Leave a comment

Go to Top