
Diakon Amadea Prajna Putra Mahardika, SJ menyampaikan materi dalam kegiatan Temu OMK Paroki Mangga Besar di Ruang Fransiskus, Lantai 1 Gedung Karya Pastoral (GKP) Petrus, Paroki Mangga Besar, Sabtu (23/5/2026). Foto Jaka
JAKARTA – Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Mangga Besar diajak meneladani Bunda Maria sebagai role model generasi muda masa kini, mulai dari keberanian menjadi diri sendiri, hidup reflektif, peduli terhadap sesama, setia dalam suka dan duka, hingga membangun kepedulian terhadap lingkungan melalui pengolahan sampah menjadi berkat.
Pesan tersebut disampaikan Diakon Amadea Prajna Putra Mahardika, SJ dalam kegiatan Temu OMK Paroki Mangga Besar yang dilaksanakan di Ruang Fransiskus, Lantai 1 Gedung Karya Pastoral (GKP) Petrus, Paroki Mangga Besar, Sabtu (23/5/2026).
Kegiatan diawali dengan Perayaan Ekaristi Hari Raya Pentakosta bersama di Gereja St. Petrus dan Paulus, Paroki Mangga Besar yang dipimpin Rm. Ignatius Windar Santoso, SJ didampingi Diakon Amadea Prajna, SJ.
Setelah misa, peserta mengikuti sesi pembinaan bertema “Maria: Role Model Gen Z” yang mengajak orang muda melihat relevansi teladan Bunda Maria dalam kehidupan generasi masa kini.
Jadi Diri Sendiri, Anti “Fake Life”
Dalam pemaparannya, Diakon Amadea menyoroti tantangan generasi muda yang hidup di tengah budaya media sosial, filter digital, hingga konten berbasis kecerdasan buatan. OMK diajak berani menjadi pribadi yang otentik, tanpa terjebak dalam kehidupan penuh pencitraan atau fake life.
Bunda Maria ditampilkan sebagai pribadi yang jujur terhadap dirinya sendiri, berani bertanya, mengalami kecemasan, bersyukur, serta peka terhadap kebutuhan sesama. Namun, menjadi diri sendiri bukan berarti berhenti berkembang.
Orang muda tetap diajak terus belajar, berlatih, dan mengembangkan nilai serta keutamaan dalam kehidupan sehari-hari.
Berani Mengatakan “Ya” pada Hal Baik dan Benar
Melalui teladan jawaban Maria, “Jadilah padaku menurut perkataan-Mu”, peserta diajak berani memilih hal yang baik dan benar. Meski jalan mengikuti kehendak Tuhan tidak selalu mudah, Maria tetap melangkah di tengah risiko, tantangan, dan penderitaan karena yakin akan kebaikan jalan yang dijalaninya.
Reflektif, Bukan Reaktif
Di tengah budaya digital yang serba cepat, OMK juga diajak menjadi pribadi yang reflektif.
Diakon Amadea mengingatkan bahwa sering kali “jempol lebih cepat daripada otak”. Karena itu, peserta diajak belajar dari Maria yang menyimpan dan merenungkan berbagai perkara dalam hatinya. Peserta didorong membangun kebiasaan doa, keheningan, daily examen, serta membiasakan diri untuk “saring sebelum sharing”.
Peduli Beneran, Bukan Sekadar Formalitas
Kepedulian yang nyata juga menjadi salah satu fokus refleksi. Menurut Diakon Amadea, ungkapan seperti “selamat”, “turut berdukacita”, atau “cepat sembuh” dapat kehilangan makna bila hanya menjadi respons otomatis tanpa perhatian sungguh-sungguh.
Melalui teladan Maria yang mengunjungi Elisabet dan mendampingi para rasul, peserta diajak memahami arti hadir, menemani, mendukung, serta menguatkan sesama secara nyata.
Mengolah Sampah Menjadi Berkat
Tidak hanya soal relasi dan spiritualitas, OMK juga diajak menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan hidup.
Diakon Amadea menegaskan bahwa bumi hanya ada satu dan manusia tentu masih ingin hidup panjang dan sehat. Karena itu, persoalan sampah perlu dipandang secara baru: bukan hanya sebagai masalah, tetapi juga peluang menjadi sesuatu yang bernilai.
“Sampah adalah emas, dengan syarat: terpilah,” demikian salah satu poin yang dibahas dalam sesi tersebut.
Orang muda diajak mulai melatih kepedulian, tanggung jawab, dan kesetiaan melakukan tindakan kecil yang berdampak bagi lingkungan.
Setia dalam Suka dan Duka
Pada bagian akhir refleksi, peserta diajak meneladani kesetiaan Maria, terutama saat menghadapi penderitaan.
Maria tetap bertahan dalam berbagai dukacita dan tidak meninggalkan jalan yang dijalaninya. Keteladanan itu menjadi ajakan bagi orang muda untuk tidak hanya hadir saat suasana menyenangkan, tetapi juga setia menemani sesama di masa sulit.
Sharing Kelompok dan Listening Session
Usai sesi materi, kegiatan dilanjutkan dengan sharing kelompok dan refleksi bersama. Peserta diajak mendalami pertanyaan refleksi mengenai nilai-nilai Maria yang paling dekat dengan kehidupan mereka, tantangan yang dirasakan, serta langkah konkret untuk meneladani keutamaan Maria dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan kelompok dikemas dalam suasana “A Listening H-ear-t”, yakni sesi mendengarkan dengan hati. Peserta diajak saling berbagi pengalaman, belajar mengungkapkan diri, sekaligus belajar mendengarkan tanpa debat, tanpa bermain gawai, dan dengan perhatian penuh terhadap sesama peserta.
Sharing dilaksanakan dalam tiga putaran. Pada putaran pertama, setiap peserta membagikan pengalaman dan refleksinya. Putaran kedua diisi dengan menyampaikan hal menarik dari sharing peserta lain, sementara putaran ketiga berisi penyampaian satu kata kunci atau kesimpulan dari proses yang dialami masing-masing peserta.
Dalam kegiatan tersebut, fasilitator kelompok berperan memastikan seluruh peserta mendapat kesempatan berbicara, menjaga alur waktu, membantu menciptakan suasana hening, serta mendorong peserta yang masih malu untuk mulai berbagi.
Hasil refleksi kelompok kemudian dibawa dalam sesi pleno, di mana peserta membagikan kata kunci, rangkuman, maupun refleksi pribadi yang muncul selama proses pendalaman berlangsung.
Sebagai penutup, Diakon Amadea menegaskan bahwa meneladani Maria bukanlah proses instan. Menjadi pribadi yang otentik, reflektif, peduli, dan setia membutuhkan proses panjang, latihan terus-menerus, dukungan komunitas, serta rahmat Allah yang memampukan.
(Penulis: Jaka Maturbongs)
















1 Comment
Irke
Artikel yang sangat inspiratif, bagaimana OMK diajak melihat bahwa mencintai Bunda Maria tidak hanya lewat doa, tapi juga lewat aksi nyata memilah sampah dan menjaga bumi. Kereeennn