
Kegiatan Pembekalan Kaderisasi Tahap 3 di Ruang Fransiskus Xaverius, GKP Paulus, Minggu, (14/6/2026). Foto: Andy
JAKARTA – Paroki Mangga Besar kembali menggelar kegiatan pembekalan bertajuk Kaderisasi Tahap 3 pada Minggu, 14 Juni 2026. Jika pada tahap sebelumnya peserta diajak mendalami spiritualitas pelayanan dan manajemen manusia, tahap ketiga ini difokuskan pada dinamika riil umat di akar rumput serta cara-cara praktis menyelesaikannya. Kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran agar para kader dapat mengubah potensi menjadi aksi nyata yang berdampak.
Untuk mewujudkan aksi nyata tersebut, para kader pertama-tama diajak untuk merenungkan kembali esensi dari kehidupan menggereja itu sendiri. Hal ini dibuka melalui sebuah refleksi mendalam tentang arah pembangunan paroki.
Dari Fisik 3D Menuju Karakter 4D: Pertobatan Pastoral
Membuka kegiatan, Pastor Paroki Mangga Besar, Rm. B. Christian Triyudo Prastowo, SJ (Romo Yudo), memberikan pengantar yang menggugah. Ia mengawalinya dengan memaparkan konsep “Arbor Fructifera” (Pohon yang berbuah) dan gambaran gereja baru secara fisik dalam bentuk 3D. Namun, Romo Yudo segera mengingatkan tentang pentingnya sebuah “Pertobatan Pastoral”.
“Pembangunan fisik akan kehilangan makna hakiki apabila tidak diimbangi pembangunan karakter umat. Bangunan dari semen dan baja berisiko hanya menjadi monumen beku jika tidak dijiwai oleh persekutuan yang dinamis,” ujarnya lebih lanjut.
Untuk membangun karakter umat tersebut, Romo Yudo mengajak para kader untuk menggunakan pendekatan berbasis kekuatan atau Appreciative Inquiry (AI) melalui kerangka 4D:
- Discover (Temukan): Mengidentifikasi kekuatan, hal positif, dan kisah keberhasilan momen puncak di lingkungan.
- Dream (Mimpi): Membayangkan wajah ideal lingkungan yang penuh solidaritas dan bertumbuhnya kaderisasi. Menyelaraskan hal tersebut dengan mimpi Gereja.
- Design (Desain): Merancang bentuk ide kreatif dan cara kerja kolaboratif dalam mewujudkan mimpi.
- Destiny (Perutusan): Memberdayakan umat untuk mewujudkan harapan tersebut secara terus-menerus.
Kerangka ini juga ditopang oleh tiga pilar pemberdayaan, yakni debirokratisasi (memanusiakan birokrasi), kaderisasi lintas generasi, dan hospitalitas untuk menghancurkan jarak sosial.
Setelah memahami fondasi dan kerangka berpikir 4D tersebut, muncul pertanyaan: bagaimana penerapannya secara konkret di lapangan? Menjawab hal ini, peserta diajak untuk berkaca langsung pada pengalaman sesama pengurus lingkungan yang telah sukses menghidupkan komunitas mereka.
Belajar dari Umat: Diskusi Panel “Jemput Bola”
Sesi selanjutnya adalah talk show atau diskusi panel yang menghadirkan empat orang perwakilan lingkungan yang berhasil menghidupkan dinamika di komunitas mereka. Diskusi yang menggali kisah-kisah sukses nyata ini menghadirkan:
- Ibu Akin & Pak Erles (Wilayah Mangga Dua Kota; Lingk. Kampung Bandan): Pasangan suami istri ini membagikan pengalaman sukses merangkul umat perantau secara door to door. Upaya proaktif “menjemput bola” ini membuahkan hasil manis: umat kini aktif dalam kegiatan lingkungan dan latihan koor. Lingkungan ini, sudah memiliki koor mandiri sekarang. Bahkan, setiap kali ada acara, sekitar 30 orang rutin berkumpul dalam suasana yang jauh lebih akrab. Mereka juga membagikan trik lain yang tak kalah efektif, yakni memberikan apresiasi kecil seperti buku Puji Syukur atau Alkitab bagi anak-anak yang menerima Komuni Pertama atau Krisma. Apresiasi sederhana ini ternyata memberikan kesan mendalam bagi anak dan keluarga.
- Maria Keyrans (Wilayah Tangki; Lingk. Prinsen Park): Sebagai perwakilan usia dewasa muda yang dipercaya menjadi ketua lingkungan, Maria sukses mengumpulkan umat melalui konsep “Family Gathering”. Ia juga membagikan seninya menjembatani komunikasi dengan para senior : yakni dengan sikap tulus mendengarkan usulan mereka, lalu mencoba menangkap nilai-nilai positif untuk dipadukan dengan ide segar kaum muda. Ia juga menggarisbawahi bahwa support dari pengurus lingkungan terdahulu sangat membantu dalam gerak, setidaknya kehadiran mereka dalam setiap kegiatan.
- Hendrik Gozal (Wilayah Ancol; Lingk. Ancol Barat): Ia membagikan pendekatan “jalan masuk” yang santai dan bernuansa kebersamaan, seperti makan bersama dan jalan kaki bareng. Kegiatan yang fun ini ternyata ampuh menarik perhatian sekaligus menjadi cara jitu untuk mengetahui potensi terpendam umat. Lebih lanjut, Pak Hendrik bercerita tentang momen kepanitiaan Paskah 2025 yang sukses menyatukan umat Ancol. Momen tersebut menjadi tonggak penting yang kebersamaannya terus berlanjut hingga saat ini. Karena rasa percaya (trust) sudah terbangun kuat, hati umat kini sangat mudah diketuk ketika lingkungan membutuhkan partisipasi mereka.
Ketiga kisah ini menegaskan bahwa langkah awal yang paling penting adalah sikap terbuka untuk mendengarkan umat dengan jalan-jalan masuk yang beragam. Dengan kepekaan merangkul dan memberikan apresiasi, pertemuan lingkungan akan berubah dari sekadar kewajiban menjadi “kerinduan bertemu saudara”.
Rangkaian cerita inspiratif dari para panelis membuktikan bahwa sekecil apa pun usaha dan kreativitas yang dilakukan, selalu ada jalan untuk menggerakkan umat. Guna memantapkan semangat para kader untuk segera mengambil tindakan, acara disambung dengan sebuah sesi penyimpulan.
Peneguhan: Kreativitas yang Melahirkan Aksi Nyata
Setelah mendengarkan dinamika dari para pengurus lingkungan, acara dilanjutkan dengan sesi peneguhan oleh narasumber Pak Chrisiandy Yuniarto. Ia mengajak para peserta untuk senantiasa berpikir positif dan tidak meremehkan potensi yang dimiliki.
Menurut Pak Chris, kreativitas tidak selalu berarti harus menciptakan sesuatu yang besar atau luar biasa. Kreativitas justru sering kali dimulai dari kepekaan dan keberanian melihat kebutuhan di sekitar kita, menemukan cara-cara baru untuk menjawabnya, dan mengambil langkah nyata untuk mewujudkannya. Setiap orang memiliki talenta yang dapat dikembangkan menjadi sarana pelayanan. Beliau juga mengingatkan kembali mengenai lima prinsip pelayanan pintar:
- Awali dengan doa: Menyadari bahwa pelayanan adalah karya Tuhan, maka harus dimulai dengan dialog bersama-Nya.
- Mau atau tidak mau: Fokus utama pelayanan bukan pada “bisa atau tidak bisa”, melainkan pada kesediaan hati dan komitmen.
- Cara yang berbeda: Untuk menghasilkan pelayanan yang luar biasa, diperlukan keberanian untuk menggunakan pendekatan yang berbeda dan segar.
- Fokus pada tujuan: Segala dinamika dalam organisasi harus selalu dikembalikan pada tujuan utama pelayanan.
- Pantang menyerah: Bila menemui kegagalan, jangan berhenti; coba lagi dengan cara yang berbeda.
Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi perutusan menjelang pelantikan DP Pleno oleh Romo Yudo. Melalui pembekalan komprehensif ini, Paroki Mangga Besar berharap para calon pengurus lingkungan dapat menunjukkan optimisme dan kegigihan, sehingga mampu mengubah potensi umat menjadi aksi nyata yang berbuah manis bagi Gereja.
(Penulis: Jaka Maturbongs)







