
Rm. Bernadus Christian Triyudo Prastowo, SJ berpose bersama OMK usai Perayaan Misa di Gereja Katolik St. Petrus dan Paulus Mangga Besar, Jakarta, Sabtu (27/6/2026). Foto: Jaka
JAKARTA – Fenomena kesepian di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital menjadi refleksi utama yang disampaikan Rm. Bernardus Christian Triyudo Pastowo, SJ (Romo Yudo) dalam homilinya pada Misa Bersama Orang Muda Katolik (OMK) di Gereja Katolik St. Petrus dan Paulus Mangga Besar, Jakarta, Sabtu (27/6/2026).
Mengawali homilinya, Romo Yudo mengajak kaum muda mencermati berbagai fenomena yang berkembang di era digital. Mulai dari munculnya jasa sewa teman curhat, kebiasaan berbincang dengan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), hingga kecenderungan sebagian orang lebih nyaman menghabiskan waktu di dunia virtual dibanding membangun relasi nyata.
“Bayangkan, ada orang yang rela membayar hanya untuk ditelepon orang asing yang bertanya, ‘Hari ini capek ya? Sudah makan belum?’ Bahkan ada pula yang memilih curhat kepada AI karena merasa tidak dihakimi,” ungkapnya.
Menurut Romo Yudo, fenomena tersebut bukan sekadar tren yang terdengar unik atau lucu. Di balik semua itu tersimpan kenyataan yang menyayat hati, yakni kerinduan manusia akan kehadiran seseorang yang mau mendengarkan, menerima, dan menemani tanpa menghakimi.
“Di balik layar yang menyala terang, ada kehausan yang luar biasa akan kehadiran seseorang yang menenangkan dan tidak menghakimi,” ujarnya.
Karena itu, ia mengajak umat, khususnya kaum muda, untuk tidak langsung menilai fenomena tersebut sebagai sesuatu yang sepenuhnya salah. Sebaliknya, umat diajak berefleksi apakah selama ini sudah sungguh hadir bagi mereka yang membutuhkan teman untuk berbagi cerita dan pergumulan hidup.
Sindrom Bebek di Balik Media Sosial
Untuk menggambarkan kondisi yang dialami banyak orang saat ini, Romo Yudo mengangkat istilah duck syndrome atau sindrom bebek.
Ia menjelaskan bahwa seekor bebek yang tampak tenang mengapung di atas air sebenarnya terus mengayuh dengan keras di bawah permukaan agar tidak tenggelam. Demikian pula banyak orang yang terlihat bahagia di media sosial, rajin mengunggah berbagai aktivitas, dan tampak memiliki kehidupan yang sempurna, padahal di balik itu mereka sedang bergumul dengan kecemasan, kelelahan mental, bahkan kesepian yang mendalam.
Romo Yudo juga menyinggung berbagai penelitian kesehatan mental yang menunjukkan bahwa kelompok usia 18 hingga 24 tahun menjadi salah satu kelompok yang paling rentan mengalami kesepian, meskipun hidup di era yang memungkinkan setiap orang saling terhubung dengan sangat mudah.
“Di zaman ketika kita paling mudah terkoneksi, justru banyak orang merasa paling terisolasi,” katanya.Sabda Tuhan Menegaskan: “You Are Not Alone”
Berangkat dari realitas tersebut, Romo Yudo mengajak umat merenungkan Injil Matius yang dibacakan pada hari itu.
Sekilas, sabda Yesus yang meminta para murid mengasihi-Nya lebih daripada keluarga dan memikul salib untuk mengikuti-Nya terdengar berat. Namun, menurut Romo Yudo, Yesus juga memberikan janji yang penuh penghiburan.
“Siapa yang menyambut kamu, ia menyambut Aku; dan siapa yang menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku.
“Melalui sabda itu, Yesus menegaskan bahwa ketika seseorang memikul salib kehidupan, ia tidak pernah berjalan sendirian. Kristus begitu empati. Ia hadir, menyertai, bahkan menyamakan diri-Nya dengan setiap orang yang mengalami pergumulan hidup,” tutur Romo Yudo.
Ia menambahkan, bacaan kedua dari Surat Rasul Paulus mengingatkan bahwa melalui baptisan setiap orang dipanggil untuk hidup sebagai manusia baru, yakni hidup yang terbuka kepada Allah sekaligus kepada sesama.
Menjadi Ruang Aman bagi SesamaMengulas bacaan pertama tentang perempuan Sunem, Romo Yudo mengatakan bahwa perempuan tersebut memberikan teladan nyata tentang bagaimana menghadirkan kasih melalui tindakan sederhana.
Perempuan itu menyediakan sebuah kamar kecil bagi Nabi Elisa untuk beristirahat. Kamar tersebut hanya berisi tempat tidur, meja, kursi, dan pelita. Namun, kesederhanaan itu menjadi simbol kesediaan menyediakan ruang bagi orang lain.
”Ruang itu tidak selalu berarti sebuah kamar. Ruang bisa berupa waktu yang kita berikan dengan meletakkan gawai sejenak saat ada teman yang ingin bercerita. Ruang juga berarti telinga yang siap mendengarkan tanpa menghakimi,” jelasnya.
Ia mengajak kaum muda membangun komunitas yang menjadi tempat aman bagi siapa pun yang sedang memikul beban kehidupan.
Kasih Dimulai dari Hal-Hal Sederhana
Mengakhiri homilinya, Romo Yudo mengutip sabda Yesus bahwa siapa pun yang memberikan secangkir air sejuk kepada seorang yang kecil tidak akan kehilangan upahnya.
Menurutnya, kasih tidak harus diwujudkan melalui tindakan besar. Perhatian sederhana, sapaan hangat, kesediaan mendengarkan, atau sekadar menanyakan kabar dapat menjadi “air sejuk” yang menghidupkan kembali harapan seseorang yang sedang merasa sendiri.
“Sering kali orang tidak membutuhkan solusi yang hebat. Yang mereka butuhkan adalah keyakinan bahwa ada seseorang yang tetap tinggal bersama mereka di tengah pergumulannya,” katanya.
Karena itu, Romo Yudo mengajak seluruh umat untuk bertanya kepada diri sendiri, kepada siapa mereka dapat menjadi ruang yang aman, siapa yang membutuhkan sapaan, kunjungan, atau sekadar telinga yang mau mendengarkan.
“Di tengah dunia yang semakin terkoneksi tetapi juga semakin mudah membuat orang merasa sendirian, marilah kita menjadi tanda kehadiran Kristus. Sebab ketika kita menghadirkan kasih kepada sesama, sesungguhnya Kristus sendirilah yang hadir melalui diri kita,” pungkasnya.
Melalui homili dalam Misa Bersama OMK, Romo Yudo mengajak seluruh umat, khususnya kaum muda, untuk membangun budaya kehadiran dan kepedulian. Di tengah derasnya arus digitalisasi, Gereja dipanggil menjadi komunitas yang menghadirkan kasih Allah secara nyata, sehingga setiap orang dapat merasakan bahwa mereka tidak pernah berjalan sendirian.
Usai Misa Bersama OMK, kegiatan dilanjutkan dengan Temu OMK yang diikuti oleh orang muda dari berbagai wilayah dan komunitas di Paroki St. Petrus dan Paulus Mangga Besar. Pertemuan tersebut menjadi sarana bagi para peserta untuk semakin mempererat persaudaraan, membangun kebersamaan, dan saling mengenal melalui suasana yang hangat dan penuh sukacita.
Semangat yang diangkat dalam homili Romo Yudo pun diharapkan terus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga setiap orang muda dapat menjadi sahabat yang menghadirkan pengharapan dan menjadi “ruang aman” bagi sesamanya.(Penulis: Jaka Maturbongs)





