
Oleh: Jaka Maturbongs
Lampu panggung perlahan meredup. Riuh percakapan yang sejak tadi memenuhi Ruang FX, Gedung Karya Pastoral Paulus Lantai 3, Paroki Santo Petrus dan Paulus Mangga Besar, Jakarta, perlahan berubah menjadi keheningan. Tatapan ratusan pasang mata tertuju ke panggung. Alunan musik mulai terdengar, membuka sebuah kisah yang begitu dekat dengan kehidupan banyak orang.
Malam itu, Minggu, 19 Juli 2026, pukul 19.00 WIB, Teater KASIH bersama Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Santo Petrus dan Paulus Mangga Besar mempersembahkan drama musikal “Rindu Pulang”. Sebuah pementasan yang tidak sekadar menghibur, tetapi mengajak setiap penonton memasuki perjalanan batin tentang keluarga, persahabatan, iman, dan kerinduan untuk kembali kepada Tuhan.
Di atas panggung, tidak ada tokoh yang sempurna. Yang hadir justru sosok-sosok yang rapuh, bergumul dengan persoalan hidup, namun perlahan menemukan kembali harapan. Itulah yang membuat Rindu Pulang terasa begitu dekat. Kisahnya mungkin bukan milik semua orang, tetapi pergulatannya adalah pengalaman yang pernah dirasakan banyak orang.
Ketika Gereja Terasa Biasa Saja
Cerita berpusat pada Cynthia, seorang remaja berusia 17 tahun yang rajin mengikuti Perayaan Ekaristi. Namun, di balik kebiasaannya datang ke gereja, hatinya dipenuhi kehampaan. Kehidupan keluarganya yang tidak harmonis membuatnya mempertanyakan arti doa.
Mengapa ia tetap berdoa jika keadaan tidak berubah?
Mengapa Tuhan seolah diam?
Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Gereja baginya hanya menjadi tempat yang dikunjungi setiap Minggu. Ia hadir secara fisik, tetapi tidak lagi merasakan damai.
Perjalanan hidup Cynthia mulai berubah ketika ia bertemu Oma Eli, seorang lansia yang tetap setia mengikuti Misa meski harus berjalan dengan tongkat. Di balik senyum dan kesederhanaannya, Oma Eli menyimpan kisah hidup yang penuh luka. Namun, justru melalui pengalaman itulah ia mengajarkan bahwa doa bukanlah cara memaksa Tuhan memenuhi keinginan manusia, melainkan cara menjaga hubungan dengan-Nya.
Perjumpaan sederhana itu menjadi awal perubahan dalam diri Cynthia.
Ketika kemudian ayahnya mengalami kecelakaan dan tak sadarkan diri dan harus melakukan operasi, perhatian teman-teman OMK yang datang mengunjungi, mendoakan, dan menguatkan keluarganya membuat Cynthia menyadari bahwa Tuhan bekerja melalui orang-orang di sekitarnya. Ia akhirnya memahami bahwa Gereja bukan sekadar bangunan tempat merayakan Ekaristi, tetapi sebuah rumah tempat setiap orang diterima dan dikuatkan.
Lahir dari Sebuah Kerinduan
Di balik kisah yang tersaji di atas panggung, terdapat proses kreatif yang tidak singkat.
Penulis naskah Bernadette Ikayani Budianto mengungkapkan bahwa pada awalnya tim sempat menyiapkan naskah lain yang mengangkat tragedi tahun 1998. Namun, setelah dipertimbangkan kembali, tema tersebut dirasa kurang dekat dengan kehidupan para pemain yang sebagian besar merupakan Orang Muda Katolik.
Berangkat dari pesan Pastor Paroki, Rm. Bernardus Christian Triyudo Prastowo, SJ, lahirlah sebuah gagasan baru.
“Gereja harus menjadi tempat untuk pulang.”
Kalimat sederhana itu kemudian berkembang menjadi sebuah cerita tentang seorang anak muda yang merasa kehilangan rumah, kehilangan damai, bahkan kehilangan makna doa.
Menurut Bernadette, tokoh Cynthia lahir dari pengalaman yang benar-benar terjadi. Ia terinspirasi dari kisah seorang remaja yang tetap datang ke gereja, tetapi merasa hidupnya kosong akibat persoalan dalam keluarganya.
“Banyak orang datang ke gereja, tetapi pulang tanpa damai. Mereka hadir, tetapi hatinya masih terluka,” ungkap Bernadette.
Karena itulah ia menghadirkan tokoh Oma Eli.
Melalui pengalaman hidup Oma Eli, penonton diajak memahami bahwa Tuhan tidak selalu menjawab doa sesuai keinginan manusia. Sebaliknya, Tuhan hadir melalui orang-orang yang ditempatkan-Nya di sekitar kita.
“Doa bukan sekadar meminta agar keinginan kita dikabulkan. Doa adalah menjaga relasi dengan Tuhan. Dia memiliki rencana yang lebih indah daripada yang kita bayangkan.”
Pesan itulah yang menjadi inti dari Rindu Pulang. Bahwa Tuhan tidak selalu hadir melalui mukjizat yang besar. Kadang Ia hadir melalui sebuah perjumpaan, perhatian seorang sahabat, atau komunitas yang menerima seseorang apa adanya.
Menghidupkan Cerita di Atas Panggung
Mengubah sebuah naskah menjadi pertunjukan yang utuh tentu bukan pekerjaan mudah.
Sutradara Yohanes Bosco Minarso Win mengakui bahwa tantangan terbesar bukanlah menyatukan musik, dialog, dan akting, melainkan mendampingi para pemain yang sebagian besar baru pertama kali terlibat dalam drama musikal.
“Ini pelayanan. Berbeda dengan mengajar di sekolah. Saya tidak bisa mendikte mereka. Saya harus menjadi teman mereka, memahami karakter mereka, supaya mereka nyaman mengikuti proses.”
Sejak pertengahan Februari 2026, para pemain menjalani latihan secara intensif. Mereka tidak hanya belajar menghafal dialog, tetapi juga memahami karakter, membangun emosi, dan menyampaikan pesan cerita kepada penonton.
Adegan-adegan emosional menjadi tantangan tersendiri.
“Yang paling sulit adalah membangun emosi sedih. Tetapi saya tidak pernah memaksa mereka harus sempurna. Saya selalu mengatakan, tidak harus berlari. Yang penting terus bergerak menuju tujuan.”
Filosofi itulah yang menjadi dasar proses latihan. Setiap pemain diberi ruang untuk bertumbuh sesuai kemampuan masing-masing.
Tantangan juga datang dari pemeran Oma Eli, yang untuk pertama kalinya tampil di atas panggung. Dengan dialog yang cukup panjang dan peran penting dalam cerita, proses pendalaman karakter menjadi perjalanan yang tidak mudah. Namun berkat latihan yang konsisten dan dukungan seluruh tim, tokoh tersebut berhasil tampil menyentuh hati para penonton.
Yang paling membanggakan bagi Yohanes Bosco bukanlah kesempurnaan akting, melainkan tumbuhnya keberanian para pemain untuk berimajinasi, membangun chemistry, dan menghidupkan karakter mereka sendiri.
Pewartaan yang Hidup di Atas Panggung
Bagi Yohanes Bosco, drama musikal bukan hanya sebuah pertunjukan seni.
Lebih dari itu, ia melihat panggung sebagai ruang pewartaan.
“Saya berharap imajinasi pewartaan di luar mimbar tetap hidup.”
Baginya, melalui seni, nilai-nilai Kristiani dapat disampaikan dengan cara yang lebih dekat dan mudah diterima masyarakat.
Ia bahkan meyakini bahwa pesan yang disampaikan melalui sebuah pertunjukan dapat tinggal lebih lama dalam ingatan penonton.
Karena itu, ia berharap Rindu Pulang menjadi awal dari lahirnya karya-karya berikutnya.
“Semoga ini bukan menjadi yang terakhir, tetapi menjadi yang pertama bagi mereka untuk terus berkarya.”
Gereja Adalah Rumah
Pesan yang sama juga disampaikan Pastor Paroki Santo Petrus dan Paulus Mangga Besar, Rm. Bernardus Christian Triyudo Prastowo, SJ, dalam sambutannya pada malam pentas
Romo Yudo mengajak umat memandang Rindu Pulang bukan sekadar sebuah pertunjukan seni, melainkan sebuah refleksi tentang kehidupan. Di tengah dunia yang penuh kesibukan dan tantangan, tidak sedikit orang kehilangan arah, merasa sendiri, bahkan mempertanyakan kehadiran Tuhan.
Karena itu, Gereja dipanggil menjadi rumah bagi setiap orang. Rumah yang menerima, menguatkan, dan menghadirkan harapan.
Melalui drama musikal ini, umat diajak menyadari bahwa kasih Tuhan sering kali hadir melalui keluarga, sahabat, komunitas, dan orang-orang yang ditempatkan-Nya dalam kehidupan kita.
Pesan tersebut menjadi benang merah yang menghubungkan seluruh cerita Rindu Pulang. Sebuah kisah tentang seseorang yang menemukan kembali damai bukan karena semua masalahnya selesai, melainkan karena ia menyadari bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkannya.
Lebih dari Sebuah Pertunjukan
Ketika tirai ditutup dan tepuk tangan panjang bergema memenuhi Ruang FX, kisah Cynthia memang telah selesai. Namun, perjalanan yang ditinggalkannya baru saja dimulai di dalam hati setiap penonton.
Mungkin setiap orang pernah menjadi Cynthia. Datang ke gereja, tetapi hati terasa kosong. Berdoa, tetapi merasa tidak didengar. Atau merasa sendirian menghadapi persoalan hidup.
Melalui Rindu Pulang, Teater KASIH bersama Orang Muda Katolik Paroki Santo Petrus dan Paulus Mangga Besar mengingatkan bahwa Tuhan tidak pernah berhenti memanggil manusia untuk kembali.
Kembali kepada iman.
Kembali kepada komunitas.
Kembali kepada kasih yang selalu membuka pintu.
Dan di situlah panggung berubah menjadi sebuah mimbar. Bukan mimbar untuk berkhotbah, melainkan mimbar yang mewartakan Injil melalui cerita, musik, tarian, dan air mata. Sebuah pewartaan yang mengajak setiap orang menemukan kembali makna “pulang” kepada Tuhan.
Kredit Produksi
Drama Musikal “Rindu Pulang”
Minggu, 19 Juli 2026 | Pukul 19.00 WIB
Ruang FX, Gedung Karya Pastoral Lantai 3
Paroki Santo Petrus dan Paulus Mangga Besar
Persembahan
Teater KASIH bersama Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Santo Petrus dan Paulus Mangga Besar
Tim Produksi
Produser: Archangela Girlani Yienni
Sutradara: Yohanes Bosco Minarso Win
Penulis Naskah: Bernadette Ikayani Budianto
Manajer Produksi: Monalisa Idylla
Penata Suara: Udji Djohan
Penata Gerak: Tan Desy Wahyuningsih
Penata Artistik: Viktor Wijaya (Abui) dan Dony
Penata Kostum: Thalia Ariadna dan Friska Annatasya
Konsumsi & LCD: Fransiska Lena Trisnawati
Tim Tata Rias
Bernadette Ikyani Budianto
Maria Josephine
Tan Desy Wahyuningsih
Flavia Glenys Gunadi
Gracia Glenda Gunadi
Tim Publikasi dan Dokumentasi
Kristoforus Raynard Darmawan
Diony Rivano
Anderson Tirza Liman
Nathaniel Lesmana
Angela Dewi Susanti
Jessica Evelyn Muksin
Para Pemain
Anaya Setiadi sebagai Cynthia
Julia Sjarifuddin sebagai Oma Eli
Edrick Setiawan sebagai Joshua
Calvyne Jonathan sebagai Papa
Livia Marcella sebagai Mama
Imelda Oktavia sebagai OMK 1
Jhonatan Dermawan sebagai OMK 2
Christian Nathanael Winoto sebagai OMK 3
Elizabeth Regina sebagai OMK 4
Gabriel Chang sebagai OMK 5
Michael Chandra sebagai Acay
Theresia Katharine Tjahyadi sebagai Cimey
Maxien sebagai Romo Yudo
Aurel Christy sebagai Dokter/Umat
Rolland Eiffel sebagai Pembawa Acara/Penyanyi
Karina Anatasya Genta sebagai Penjual Coipan/Penyanyi
Velove Vecia sebagai Penjual Susu Kacang
Kevin Widjaja sebagai Tukang Parkir
Ourkeencell Axella C. Tanjung sebagai Pengamen/Penyanyi
Yocelyn Farro sebagai Umat/OMK
Angel S. sebagai OMK
Ucapan Terima Kasih
Pementasan ini terlaksana berkat dukungan Rm. Bernardus Christian Triyudo Prastowo, SJ, Rm. Mikael Irwan Susiananta, SJ, Diakon Dionisius Amadea Prajna Putra Mahardika, SJ, Dewan Paroki Harian, Eggi Lighting, Janhien–Studio Namaste, Kwet Tjung, Vincencius Ivan Hibono, Bagian Pemeliharaan Gedung Gereja, orang tua para pemain, petugas keamanan gereja, serta seluruh umat yang telah memberikan doa, dukungan, dan semangat bagi terselenggaranya drama musikal “Rindu Pulang” ***
Behing The Scene








