
Foto bersama usai Misa HUT ke-19 Meditasi Kristiani Mangga Besar di Ruang Fransiskus–Ignatius, Gedung Karya Pastoral (GKP) Petrus, Gereja St. Petrus dan Paulus Mangga Besar, Sabtu (25/4/2026). foto: Niel
JAKARTA — Di tengah berbagai tantangan dunia seperti krisis, ketidakadilan sosial, hingga persoalan migrasi dan stabilitas, praktik meditasi menjadi sarana penting bagi umat beriman untuk tidak terjebak pada keinginan duniawi, melainkan semakin mendalam dalam relasi dengan Tuhan.
Hal ini disampaikan oleh Rm. Mikael Irwan Susiananta SJ (Rm. Irwan) dalam khotbahnya pada Misa HUT ke-19 Meditasi Kristiani Mangga Besar di Ruang Fransiskus–Ignatius, Gedung Karya Pastoral (GKP) Petrus, Gereja St. Petrus dan Paulus Mangga Besar, Sabtu (25/4/2026).
Dalam homilinya, ia menegaskan bahwa meditasi membantu seseorang untuk melepaskan diri dari kegelisahan serta tidak terjebak pada hal-hal duniawi semata. Melalui proses ini, umat diajak untuk terus bertumbuh dalam kehidupan rohani.
Ia juga mengingatkan bahwa hal yang paling pokok dalam meditasi bukan terletak pada durasi—apakah dilakukan selama 10 atau 20 menit—melainkan pada kesungguhan dalam untuk menjadikan hal rohani sebagai prioritas .
Selain itu, Romo Irwan juga menegaskan bahwa meditasi bukan tentang kekerasan atau sekadar usaha yang berat, melainkan tentang kemampuan untuk mengendalikan diri dan “mengalahkan” keinginan tubuh.
“Bukan soal seberapa keras kita melakukannya, tetapi bagaimana kita mampu menguasai diri,” jelasnya.
Lebih dalam lagi, ia menjelaskan bahwa meditasi pada hakikatnya adalah jalan untuk mengikuti Yesus. Dalam kehidupan sehari-hari, umat diajak untuk membangun hidup yang meditatif dengan meneladani Kristus yang tekun berdoa, bahkan hingga semalam-malaman.
Dengan demikian, meditasi bukan hanya praktik rohani, tetapi juga bentuk nyata mengikuti teladan Kristus dalam membangun relasi yang intim dengan Allah.
Lebih lanjut, umat diajak untuk berani berhenti sejenak dan merefleksikan kehidupan secara jujur. Refleksi ini penting agar manusia mampu melihat realitas hidup apa adanya, termasuk berbagai persoalan seperti krisis, resesi, dan ketidakadilan.
Ia menegaskan bahwa meditasi bukan sekadar rutinitas, melainkan sarana untuk membangun relasi yang lebih dalam dengan Tuhan, sehingga umat mampu melihat kehidupan dengan lebih jernih dan bijaksana.
Perayaan HUT ke-19 Meditasi Kristiani Mangga Besar ini menjadi momentum bagi umat untuk memperdalam kehidupan rohani sekaligus meneguhkan komitmen dalam menjalani hidup beriman di tengah dinamika dunia modern (Penulis: Jaka Maturbongs)





