Skip to content Skip to footer

Antara ‘Bucin’ dan Sahabat Kristus: OMK Dekenat Barat 1 Diajak Melangkah Lebih Dalam

Acara Temu OMK Dekenat Barat 1 di di Ruang Fransiskus, GKP Petrus, Gereja St. Petrus dan Paulus Mangga Besar, Sabtu (28/2/2026) malam. foto: komsos

JAKARTA – Apa bedanya sekadar teman dan seorang sahabat sejati? Pertanyaan reflektif ini menjadi pusat perhatian dalam Misa OMK Dekenat Barat 1 yang digelar di Gereja St. Petrus dan Paulus Mangga Besar, Sabtu (28/2/2026).

Dalam khotbahnya, Rm. Pius Novrin Arimurthi, Pr (Romo Novrin) menantang Orang Muda Katolik (OMK) untuk tidak berhenti menjadi “teman” Yesus yang datang hanya saat butuh. Beliau mengajak mereka bertransformasi menjadi Sahabat Kristus. Kuncinya? Memiliki ‘telinga yang besar’—kerendahan hati untuk lebih banyak mendengarkan Sabda Tuhan dan peka terhadap keluh kesah sesama, daripada sekadar ingin didengarkan.

Kesetiaan: Bukan Sekadar Hubungan Fungsional

Romo Novrin menjelaskan bahwa teman sering kali bersifat fungsional—ada karena hobi atau situasi yang sama, dan cenderung menghilang saat suasana tak lagi menyenangkan. Sebaliknya, sahabat memiliki ikatan batin yang tetap hadir dalam kondisi apa pun.

“Tuhan menawarkan diri-Nya menjadi sahabat kita. Pertanyaannya, maukah kita menjadi sahabat bagi Tuhan?” tanya Romo Novrin. Beliau menekankan bahwa menjadi sahabat berarti siap membangun kepercayaan dan setia mengikuti kehendak-Nya, meski jalannya tidak selalu mudah. Sebagai penutup yang menyentuh, Romo Novrin memainkan saksofon dengan lagu ‘Penolong yang Setia’, sebuah pesan melodi bahwa Tuhan adalah sahabat yang tak pernah meninggalkan umat-Nya.

Bedah Psikologi: Mengapa Kita Bisa Jadi ‘Bucin’?

Usai Misa, suasana berganti menjadi ruang diskusi yang seru di Ruang Fransiskus. Workshop bertajuk ‘Budak Cinta atau Sahabat Kristus’ bersama psikolog Octavia Putri, M. Psi. mengupas fenomena “Bucin” dari kacamata sains.

Ternyata, fase jatuh cinta memang bisa membuat logika seseorang “mati lampu”. Secara biologis, otak dibanjiri hormon Dopamin yang memberikan efek senang luar biasa seperti adiksi. Pada tahap ini, bagian otak pengambil keputusan (Prefrontal Cortex) sering kali kalah oleh emosi, sehingga orang mudah melakukan hal nekat demi pasangan. OMK pun diajak untuk sadar agar tidak hanya menjadi tawanan hormon, tetapi bertumbuh menuju tahap Attachment yang lebih stabil dan sehat.

Navigasi Relasi: Kenali Red Flags hingga Love Bombing

Tak hanya teori, workshop ini juga memberikan panduan praktis untuk mengenali rambu-rambu dalam berhubungan:

  • Waspadai Red Flags: Perilaku posesif, kontrol berlebihan, hingga manipulasi mental (gaslighting).
  • Hati-hati dengan Love Bombing: Perhatian dan hadiah yang berlebihan di awal hubungan sering kali menjadi taktik manipulasi untuk mengontrol kita di kemudian hari.
  • Cari Green Flags: Pasangan yang konsisten, jujur, dan menjadi “ruang aman” yang mendukung kita menjadi pribadi yang lebih baik.

Cinta Sejati adalah Pemberian Diri

Menyambung pesan rohani sebelumnya, materi ini diperkaya dengan konsep Theology of the Body dari St. Yohanes Paulus II. Cinta sejati ternyata bukan soal “apa yang bisa kudapatkan?”, melainkan “bagaimana aku bisa membantunya menjadi lebih suci?”.

Cinta yang dewasa adalah pemberian diri (self-gift) yang total. Dengan menjadikan Kristus sebagai dasar yang aman (secure base), kaum muda diajak memiliki kemandirian emosional. Pada akhirnya, relasi yang sehat bukan hanya soal menemukan orang yang tepat (The Right Person), melainkan tentang proses belajar menjadi orang yang tepat (Becoming the Right Person) di hadapan sesama dan di hadapan Kristus.

(Penulis: Jaka Maturbongs)

Leave a comment

Go to Top