
Rm. Mikael Irwan Susiananta, SJ menerimakan komuni pertama kepada salah satu anak dalam Misa Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus di Gereja St. Petrus dan Paulus Mangga Besar, Minggu (7/6/2026). Foto: Jaka
JAKARTA – Sebanyak 40 anak menerima Komuni Pertama dalam Perayaan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus di Gereja Santo Petrus dan Paulus, Paroki Mangga Besar, Jakarta, Minggu (7/6/2026). Dalam homilinya, Rm. Mikael Irwan Susiananta, SJ mengajak umat untuk semakin meneguhkan iman akan kehadiran nyata Kristus dalam Ekaristi serta menjadikan semangat berbagi sebagai buah dari perayaan Ekaristi.
Mengacu pada bacaan Injil tentang Yesus sebagai Roti Hidup, Romo Irwan menjelaskan bahwa kebingungan orang-orang Yahudi pada masa itu muncul karena mereka memahami perkataan Yesus secara harfiah ketika Yesus mengatakan bahwa tubuh-Nya adalah makanan dan darah-Nya adalah minuman.
Menurutnya, Gereja sepanjang masa percaya bahwa melalui Ekaristi, Yesus sungguh hadir dan memberikan diri-Nya kepada umat. Ekaristi menjadi cara yang dipilih Kristus agar para pengikut-Nya tetap dapat dekat dengan-Nya, meskipun Ia telah wafat, bangkit, dan naik ke surga.
“Supaya semua pengikut-Nya tetap dapat dekat dengan Dia secara fisik, Yesus memberikan cara itu melalui Ekaristi. Inilah yang menjadi misteri iman kita,” kata Romo Irwan.
Ia menjelaskan bahwa ketika Allah menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus, Ia tetap hidup dalam keterbatasan ruang dan waktu. Karena itu, Kristus memilih cara yang istimewa agar kehadiran-Nya dapat dialami oleh semua orang sepanjang zaman melalui sakramen Ekaristi.
Meneguhkan Iman akan Kehadiran Kristus
Dalam perayaan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, Romo Irwan mengajak umat untuk semakin menyadari makna Ekaristi sebagai kehadiran nyata Yesus di tengah umat-Nya. Ia mengakui bahwa misteri perubahan roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus memang tidak mudah dipahami oleh akal manusia. Namun, iman Gereja berdiri di atas sabda Yesus sendiri.
“Kalau yang mengatakan itu manusia biasa, mungkin orang bisa meragukannya. Tetapi ini adalah perkataan Yesus sendiri. Tinggal bagaimana kita menanggapinya: mau percaya atau tidak,” ujarnya.
Secara khusus, ia mengajak 40 anak yang menerima Komuni Pertama untuk memiliki keyakinan yang kuat akan kehadiran Kristus dalam Ekaristi. Menurutnya, penerimaan Komuni Pertama bukan sekadar tradisi atau tahapan dalam hidup menggereja, melainkan perjumpaan nyata dengan Yesus yang memberikan diri-Nya bagi umat manusia.
Di hadapan anak-anak, Romo Irwan menanyakan secara langsung apakah mereka percaya akan kehadiran Tubuh Kristus dalam Ekaristi. Ia menegaskan bahwa iman kepada Kristus yang hadir dalam rupa roti dan anggur menjadi dasar bagi umat Katolik dalam menyambut Komuni Kudus.
Ekaristi Mengajak Umat Membagi Diri
Selain mengajak umat mencintai Ekaristi, Romo Irwan menghubungkan refleksi tersebut dengan Novena Pertobatan Ekologis yang tengah dijalankan dalam rangka Tahun Yubileum Khusus Santo Fransiskus Asisi.
Ia mengingatkan bahwa spiritualitas Ekaristi tidak berhenti pada penerimaan Tubuh Kristus, tetapi juga mendorong setiap orang untuk menjadi pribadi yang rela “dipecah dan dibagikan” bagi sesama, sebagaimana Kristus memberikan diri-Nya dalam Ekaristi.
Karena itu, ia mengajak anak-anak yang baru menerima Komuni Pertama untuk mulai terlibat dalam pelayanan Gereja sebagai wujud nyata membagikan diri dan talenta yang dimiliki. Anak-anak laki-laki diajak untuk menjadi misdinar, sementara anak-anak perempuan dapat ambil bagian dalam pelayanan sebagai putri sakristi.
“Mulailah membagi diri. Ekaristi mengajarkan kita untuk memberikan diri bagi orang lain,” katanya.
Menutup homilinya, Romo Irwan mengajak seluruh umat untuk terus memperdalam cinta kepada Ekaristi sebagai tanda kasih dan kehadiran Kristus yang senantiasa menyertai Gereja-Nya.
“Semoga kita semua semakin tekun menumbuhkan kecintaan pada Ekaristi sebagai pernyataan diri Kristus kepada kita semua,” pungkasnya.
(Penulis: Jaka Maturbongs)




